Genap dua bulan sudah saya berada
jauh dari rumah. Berawal dari menemani ibu perjalanan dinas, kini saya malah
menetap di pulau terbesar di Indonesia. Dunia yang sepenuhnya berbeda dari
kehidupan saya di rumah. Himpitan deret rumah tetangga, riuh bunyi klakson yang
saling bersaingan, panas yang bercampur dengan senyawa lainnya yang ikut
memenuhi udara, serta keluarga yang biasa terlihat walau pagi masih membuta. Sekarang?
Bahkan bahasa pun menjadi pengingat utama saya; bahasa yang masih terdengar
asing di telinga, apalagi untuk dimengerti makna terusannya. Bahwa, ini bukan
lagi lingkungan tempat saya dibesarkan.
ABOUT AUTHOR
Follow us
POPULAR POSTS
-
“Jika di negara-negara subtropis sana memiliki empat musim yang berbeda setiap tahunnya, Indonesia justru memiliki tiga musim; musim ke...
-
ATR 72-600 Garuda Indonesia Bekantan dan paru-paru dunia adalah alasan saya ingin bertandang ke pulau besar ini. Oh, satunya lag...
-
Suasana jalanan di Kyoto Jam di tangan sudah menunjukan waktunya makan siang. Rasanya hari ini waktu berlalu begitu cepat, namun saya ...
-
Homade Open Sandwich Bermula dari iseng saat perut lapar karena waktu makan malam tiba, namun sedang enggan untuk mengkonsumsi nasi. ...
-
Kyoto Sky, Japan Pagi hari ke-enam di negeri Bushido pun datang. Matahari menyapa penuh malu dari balik arak-arakan awan. Hari ini awa...
-
Cahaya Fajar Pertengahan bulan agustus 2015 kemarin saya sempat melakukan perjalanan antar propinsi, dari rumah saya di Propinsi Ba...
-
Saya duduk di sebuah warung kayu di pinggir jalan. Pemandangan di sekitarnya begitu memukau, walaupun bentuk warung ini tak seberapa. Ar...
Advertisement
Blog Archive
Powered by Blogger.
