Ketika Akhir Menjadi Sebuah Awalan
Genap dua bulan sudah saya berada
jauh dari rumah. Berawal dari menemani ibu perjalanan dinas, kini saya malah
menetap di pulau terbesar di Indonesia. Dunia yang sepenuhnya berbeda dari
kehidupan saya di rumah. Himpitan deret rumah tetangga, riuh bunyi klakson yang
saling bersaingan, panas yang bercampur dengan senyawa lainnya yang ikut
memenuhi udara, serta keluarga yang biasa terlihat walau pagi masih membuta. Sekarang?
Bahkan bahasa pun menjadi pengingat utama saya; bahasa yang masih terdengar
asing di telinga, apalagi untuk dimengerti makna terusannya. Bahwa, ini bukan
lagi lingkungan tempat saya dibesarkan.
Hanya berjarak tempuh sekitar
satu setengah jam perjalanan dengan pesawat terbang. Melintasi Laut Jawa,
sejenak singgah di kota khatulistiwa sebagai jalur transit, lantas kembali
mengudara dan sampailah saya di salah satu kabupaten Kalimantan Barat yang
terletak di sebelah sungai Pawan. Mereka menamakan-nya dengan Ketapang.
Garis itu sudah digariskan
Seorang bijak pernah berkata,
buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Kakek dari garis ayah adalah seorang guru
bahasa jerman di sekolah menengah atas di kota kelahirannya. Ibu pun pernah
berkisah bahwa kakek dari ibu seperti Umar Bakrie, yang mengayuh sepeda
ontelnya demi bersedekah ilmu untuk para siswanya di sekolah. Begitu pun dengan
ayah, seorang instruktur di kantornya sebelum pensiun, bahkan hingga sekarang,
jika diminta untuk mengajar.
Lantas saya?
Kehadiran saya pada bumi
khatulistiwa ini, tak serta merta tahu akan posisi kerja di tempat saya akan
bekerja nantinya. Info yang ada pun tak mengarah pada satu titik pasti, dan
yang ada di benak saya pun sebatas pekerja-belakang-meja saja. Tak lebih.
Menyandang status “masih di
rumah”, saya pun tak ambil pikir panjang ketika tawaran pekerjaan itu datang
menghampiri. Tempat kerja yang akan memulai kehidupan karir saya pun sudah
pernah saya datangi sebelumnya. Sebuah kampus ber-title politeknik di tengah belantara.
Ada banyak faktor mengapa
seseorang memutuskan untuk mengambil pekerjaan di sebuah perusahaan atau tempat
dimana ia akan bekerja, termasuk saya. Kampus yang berdiri pada tahun 2008 ini
terletak di lingkungan yang jauh dari keramaian. Berbanding terbalik dengan
suasana di tempat saya tinggal. Alhasil, bosan dengan keriuhan dan keramaian
daerah ibukota, saya tidak menolak untuk dapat bekerja di kampus tersebut.
Sesampainya di sana dan diperkenalkan
dengan beberapa kepala bagian, akhirnya saya pun tahu akan menjadi “apa”
nantinya. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya pun menjadi jawaban atas pencarian
itu. Status “rumahan” saya kini berubah menjadi staf pengajar. Alhamdulillah.
Melarikan diri
Penerimaan ini ternyata jauh dari
ekspektasi saya sebelumnya. Saya pun bimbang. Entah harus mengucapkan syukur
atau kembali pulang demi zona nyaman saya. Perkenalan dengan rekan sejawat,
perbincangan singkat dengan kepala prodi, dan wejangan dari kepala jurusan,
membuat saya disorientated, tertegun
cukup lama. Berbagai pemikiran, gambaran, alasan, mengacaukan alam sadar saya
secara sporadis. Membuat saya seakan menghilang sejenak dari peradaban.
Perang itu terjadi begitu dahsyat
dalam lubuk hati terdalam. Perang yang tak pernah terjadi, atau terbayangkan
sebelumnya. Sebuah “rasa” yang tak pernah menunjukkan, menampakan
eksistensinya. Sukses menaikkan asam lambung ini hingga mual menyesak ulu hati.
Sebagian diri ini, bukan, bukan sebagian, hampir seluruhnya sudah men-setting tubuh untuk berdiri dan berlari
sekuatnya hingga rumah terhangat kembali menerima kehadiran saya. Tapi
nyatanya, saya masih bergeming, tak beranjak dari kursi yang sedang saya
duduki.
Airmata dan harapan yang pernah tertunda
Merasakan hidup sebagai orang
rantau sudah saya lakoni selama kurang lebih delapan tahun. Sedikit banyak,
pengalaman telah menempa saya selama diperantauan. Walaupun tanah rantau yang
saya hidupi masih dalam bentangan satu pulau.
Pengalaman rantau yang sudah saya
kantongi dapat dibilang tidak sedikit, namun tidak jua banyak. Kendati
demikian, tak pernah saya pungkiri, berpisah dari keluarga dengan dalih
merantau adalah hal tersakit yang pernah saya alami selama ini. Begitu pula saat
ini. Seakan pengalaman tersebut selalu menjadi yang pertama. Serta melihat
hilangnya punggung sang bunda dan kembali dengan kesendirian dalam ruang asing
adalah alasan pertama tumpahnya lelehan emosi yang mengalir di pipi.
Seorang anak akan tetap menjadi
seorang anak. Seorang ibu akan tetap menjadi seorang ibu. Apapun yang terjadi.
Dalam peluh dan lelah, selalu ada pengharapan. Diantara keriput yang semakin
bertambah, selalu ada doa yang menghantarkan kesuksesan.
Pertemuan pertama
Selang beberapa hari setelah
kedatangan, saya selalu stand by
sejak pagi hari hingga sore. Orientasi dan perkenalan tak sebatas ruang
pengajar. Saya mulai berkelana di gedung jurusan dan mendapat kenalan satu
persatu. Sesama pengajar dari prodi seberang hingga teknisi dan ibu “asisten”.
Sekian banyak orang yang menerima
perkenalan diri saya, sejauh yang saya perhatikan hanya berbeda sebatas nama,
selebihnya sama dalam hal melemparkan sebuah pertanyaan setelah tahu asal
kedatangan saya.
“Kok bisa-bisanya milih kerja
disini?”, biasanya dibarengi dengan ekspresi heran.
Lantas saya hanya tersenyum
sebelum menjawab dan mencoba menghitung-hitung orang keberapa sang penanya ini
dengan pertanyaan tersebut. Hahahaha…
Kedatangan saya juga bertepatan
dengan berlangsungnya masa UAS. Jadi, saya diuntungkan karena masih mempunyai
waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan kampus lebih lama. Masa ujian inilah,
pertama kalinya saya masuk ke dalam kelas dengan mahasiswa di dalamnya. Hanya
perkenalan singkat pada salah satu kelas, sudah mampu membuat saya demam
panggung berkepanjangan. Bingung apa yang harus saya ucapkan. Hehehhe. Selain
itu saya juga merasakan menjadi pengawas ujian selama beberapa hari dan di
kelas yang berbeda. Jadi teringat masa-masa ujian dulu, deh.
Akhirnya, cukup sudah masa
orientasi kampus yang saya lakukan. Mulai besok, saya akan memasuki dunia yang
sepenuhnya berbeda dari hari-hari kemarin. Yap, dan segala pikiran yang membuat
adrenalin mengalir deras pun mulai menyapa ><.)
Wish me luck. Caw.
0 comments