Negeri Sakura (7): Penutup Perjalanan Bersama Berkah dari langit-Nya

Osaka Castle dan Gokurakubashi Bridge

Atap Hijau di Antara Langit Kelabu

Gerimis kembali menemani langkah perjalanan pagi ini. Perjalanan lintas kota pada hari kemarin tak menyurutkan saya untuk meninggalkan beberapa jejak lagi di kota Takoyaki ini. Saya tiba di stasiun Temmabashi yang ditempuh dengan kereta sekitar 20 menit dari stasiun Shin-Osaka, berlanjut menyusuri sisi jalan raya sejauh kurang lebih 400 meter, tibalah saya di komplek istana dengan parit besar yang memisahkan bagian luar istana dengan tembok pertahanan yang tinggi dan tebal. Secara tatanan arsitektur, bangunan ini serupa dengan beberapa benteng peninggalan Belanda di Indonesia, hanya saja, ukurannya jauh lebih besar.

Atap berwarna hijau dengan ornamen berwarna emasnya tampak menjulang dari dinding luar istana. Osaka Castle atau juga biasa dikenal dengan sebutan Osakajo ini merupakan sebuah situs peninggalan sejarah yang menjadi simbol kota bagi warga Osaka. Untuk mencapai main tower yang menjadi pusat dari kastil tersebut, saya beranjak dari Otemon Gate yang terletak di sisi selatan. Tidak ada pungutan biaya bagi pengunjung yang masuk ke dalam halaman istana ini, kecuali jika anda berkeinginan untuk masuk ke dalam bangunannya. Saat saya berada di tempat tersebut, tak sedikit warga lokal yang berlari keluar masuk kawasan istana sebagai lintasan jogging mereka.

Ternyata, saya cukup tertipu dengan jarak yang saya lalui untuk mencapai menara utama. Pada awalnya, atap kastil yang terlihat dari luar menandankan jarak yang cukup dekat untuk mencapainya, namun hal itu berbanding terbalik pada kenyataannya. Memang tidak seberapa jauh, tapi tetap saja saya merasa tertipu, houuf... Jantung dari benteng yang dibangun pada tahun 1583 ini adalah sebuah bangunan besar yang di dalamnya terdiri atas tujuh lantai, yang mana bangunan ini telah beralih fungsi menjadi museum guna menyimpan segala identitas dan kisah benteng tersebut. Pada lantai ketujuh, pengunjung dapat melihat pemandangan kota Osaka dari ketinggian 50 meter. Keberadaan saya di kastil yang pernah menjadi kastil terbesar pada masanya tidak berlangsung lama demi mengejar tujuan lainnya hari ini.
~~~


India in Tiny Room

Bertepatan dengan datangnya waktu makan siang, kami memilih untuk berhenti sejenak dan berusaha mendamaikan rasa lapar yang kian memuncak. Layaknya pendatang yang tak mengetahui orientasi daerah ini, kami sempat maju mundur mencari tempat makan yang menghidangkan masakan halal, tentunya. Masih dengan awan kelabu yang menggantung dan beberapa butir air hujan, akhirnya kami memilih sebuah tempat makan di seberang jalan tempat kami melintas.

Indian Restoran Masala. Sebuah resto kecil yang berisikan tidak lebih dari 10 meja, yang akan memanjakan perut kami siang ini. Saya lupa dengan nama makanan yang saya pesan. Kalau tidak salah, saya memesan tandoori chicken. Isinya berupa sepotong paha ayam, dua mangkuk saus berwarna hijau tua dan cokelat kemerahan, roti naan, dan tentu saja, semangkuk nasi *ciri khas orang indonesia banget ^^. Saya sempat ragu dengan makanan yang telah tersaji tepat di hadapan saya. Namun, perut sudah merengek untuk disuguhi panganan. ... . Hanya beberapa kali kunyahan, ternyata ekspektasi saya salah besar. Pesanan saya ini sungguh “gila” enaknya. Ayamnya sangat empuk, bahkan tak perlu bersusah payah menyobek dagingnya, ia akan lepas dengan sendirinya. Begitu pula dengan kedua sausnya. Saya bahkan sempat meminta refill untuk kedua saus tersebut karena sangat cepat habis. Roti naan-nya pun sangat memanjakan lidah. Teksturnya cukup garing di luar namun sangat empuk di dalam, terlebih hangat fresh from the oven-nya membuat panganan ini sukses membuat saya merasakan nikmatnya dunia.

Aah, kenyang sudah perut ini dengan makanan yang begitu nikmatnya. Selepas membayar dan keluar dari restoran kecil ini, kami kembali berjalan.
~~~



Lingkar Pasifik yang Memukau

Berjarak sekitar 11-13 km ke arah selatan dari Osaka Castle, atau setara dengan perjalanan selama 45-47 menit menggunakan subway, tujuan berikutnya adalah melihat biota laut di akuarium. Sebelum mencapai tempat yang dimaksud, ada yang menarik dari stasiun yang saya singgahi ini. Sejak saya melangkahkan kaki di atas peron, nuansa stasiun ini sengaja dibalur dengan warna biru dan di beberapa tempat tampak dihiasi dengan siluet berbagai macam siluet hewan laut berwana putih. Mungkin sebagai penanda bahwa pengunjung sudah mendekati kawasan akuarium tersebut.

Osaka Aquarium Kiyukan

Selepas santap siang di tiny India, kami bergegas menuju daftar tujuan terakhir hari ini. Terletak di Tempozan Harbor Village di teluk Osaka, berdiri megah arsitektur berbentuk menyerupai kubus besar dengan pelataran yang luas. Ini adalah Osaka Aquarium Kiyukan. Langkah semangat menuntun cepat kehadiran saya di tempat ini. Melihat berbagai jenis binatang merupakan salah satu ketertarikan saya, selain local history, lanskap, dan arsitektur. Harga tiket masuk yang mencapai sekitar Rp 250.000 (2.300 yen) tidak menghalangi semangat saya untuk segera beranjak masuk. Jelas saja, wong dibayarin hehehe xp.

Hiu Paus (Rhincodon typus)

Ini kunjungan pertama saya ke akurium selain SeaWorld Ancol, di Jakarta. Tidak seperti di SeaWorld, pengunjung akurium ini terlebih dahulu diajak menaiki eskalator yang membawa kita ke ketinggian kurang lebih 10 meter. Dari ketinggian inilah tur para pengunjung dimulai, hingga pada akhirnya turun kembali. Pengunjung dapat menikmati berbagai biota laut dalam 15 akuarium yang berbeda, dengan pertunjukan utamanya yang berada pada akurium pusat yang menjadi tempat tinggal hewan terbesar di lautan luas, yaitu hiu paus (whale shark).

Penguin Raja (Aptenodytes patagonicus)
Desain yang disajikan dalam akurium ini sangat menarik. Jalur interpretasi sengaja dibuat seperti jalanan menurun yang mengelilingi akuarium utama, membuat para pengunjung seakan diajak melihat lapisan demi lapisan kedalaman Lingkar Pasifik dari sudut pandang yang berbeda. Kita disuguhi pemandangan pada lapisan daratan, lapisan teratas di bawah daratan atau permukaan air, dan lapisan terdalam dari akurium itu sendiri. Keuntungan yang kita dapat adalah dapat melihat hewan, seperti singa laut atau penguin yang melompat dari daratan dan meluncur cepat hingga ke dasar dan melesat kembali ke permukaan.

Akurium yang berdiri pada bulan Mei 1990 ini menjadi rumah bagi sekitar 30.000 hewan laut dari 620 jenis yang merepresentasikan kekayaan laut di Lingkar Pasifik. Dari mamalia laut terbesar (Hiu paus) hingga yang terkecil (Japanese anchovy), hewan pemangsa (Hiu martil) sampai mangsa (Mackerel), dan yang lucu (Penguin) hingga yang terlihat mengerikan (Japanese giant salamander).

Koleksi Ubur-ubur

Dipenghujung perjalanan, kita akan melalui tiga kawasan terakhir. Kawasan pertama adalah Arctic zone, yang dibuat berdasarkan dinginnya kehidupan alam antartika. Kawasan yang sempat mempengaruhi kondisi termal tubuh saya ini membuat saya terkesima pada beberapa anjing laut yang menggemaskan yang sedang beristirahat di atas bongkahan es. Di tempat ini, anjing laut tersebut tidak dibatasi oleh tebalnya kaca akuarium, sehingga jika anda ingin menyentuhnya pun dapat anda lakukan, walaupun itu sangat tidak disarankan. Langkahkan kaki anda beberapa langkah, maka tibalah anda pada Falkland Island zone. Tempat bercengkrama penguin yang menjadi pemain utama di film Surf Up, yaitu penguin Rockhopper. Namun, aroma yang cukup mengganggu membuat saya tidak berlama-lama menyaksikan mereka dari jarak dekat. Dan Maldives zone menjadi persinggahan terakhir. Berupa kolam sentuh yang dipadati oleh pengunjung, baik anak-anak maupun mereka yang sudah lanjut usia. Termasuk di dalamnya, saya yang penasaran ingin menyentuh seekor hiu kucing yang jinak (^^). Kulitnya sangat kasar dan tebal. Hiiiii...
~~~

Udara khas pesisir memenuhi relung nafas ini, sekaligus menemani akhir hari perjalanan di tanah samurai. Genap sepekan telah habis sudah. Bertambah pula jejak kaki ini sebagai tanda dan ingatan cerita. Semoga saja ini bukan kesempatan terakhir saya untuk menjelajahi negeri sakura ini.


Japan, Spring 2015





Share:

0 comments