Cinta Tak Pernah Membenci Pertemuan [6]



...
Kepalanya mulai terasa berat, tanpa disadari. Langkah kakinya pun mulai terasa tak nyaman. Wino melirik penunjuk waktu yang melingkar di tangan kanannya. “Pantas saja, udah waktunya gue makan siang.” Ia menggerutu. Mengingatkan dirinya sendiri bahwa sudah lewat dua jam dari waktu makannya.

Ia melihat sekitar. Tidak yakin dengan pilihan tempat makan di daerah tersebut. Wino segera menyambangi halte terdekat. Arah tujuannya kembali menuju awal perjalanan. Di bawah gedung pencakar langit ini, ia coba menemukan tempat makan yang halal untuk mengisi kebutuhan perutnya. Matanya tertuju pada sebuah kedai sushi bertuliskan 100 yen. Kakinya melangkah masuk ke dalam gang kecil, letak kedai itu berada. Tanpa pikir panjang, ia mengambil langkah cepat menuju tempat tersebut.

Setelah duduk dan menghabiskan sebelas piring sushi, tenaganya kembali terisi penuh. Kepalanya sudah tidak terasa pening walaupun kakinya masih sedikit terasa nyeri. Terlalu lama berjalan. Ia hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal saat berdiri di luar restoran. Tertawa. Menyadari kebodohannya hari ini. Terlampau bergairah menyambangi kota dan gegabah turun dari kereta lebih cepat pada stasiun yang bukan tujuannya. Untung saja ini pelesiran tanpa batas waktu dan tujuan. Ia hanya bisa kembali menggeleng-geleng dan segera hilang di tikungan luar gang.

...
Matahari mulai tergelincir menuju cakrawala. Membentuk bayangan yang panjang sebanding dengan gedung-gedung yang disentuhnya. Wino berjalan di dalam bayang-bayang itu. Menyesapi segala bentuk rupa yang memanjakan mata, hidung, dan telinganya. Memutar aliran segar yang menenangkan tubuh dan pikirannya. Dua pesona utama masih menemaninya; teluk Yokohama serta segala pemeran pendukungnya. Angin, sinar mentari, kicau camar yang melayang-layang, kapal-kapal kecil yang berlabuh pada air tenang, senyum para pejalan, dan langkah kaki yang seakan berirama dengan waktu.

Melewati Yokohama World Porters dan berhenti sejenak mengagumi arsitektur bangunan yang dinamai sesuai dengan fasadnya; Yokohama Red Brick Warehouse. Bangunan bersejarah yang pernah berfungsi sebagai gudang penyimpanan. Bangunan yang kini beralihfungsi menjadi ruang konvensional. Dan kembali menyusuri jembatan kereta yang telah diubah menjadi jembatan penyeberangan.

Perjalanannya berakhir di tempat tujuannya; Yamashita Park. Sebuah taman yang menghadap langsung dengan teluk Yokohama. Wino tersenyum. Ada makna tersirat dari gerak bibirnya itu. Makna yang masih saja menari tanpa penjelasan. “Haaaahh...” Ia menghela nafas, panjang. Ia membelokan badannya memasuki sebuah konbini di sisi barat taman.

“Irasshaimase,” sapa pelayan toko sambil membuat gestur menunduk. Ia membalas dengan senyuman, melaluinya hingga lorong self-service. Di depan sebuah mesin minuman, ia berhenti. Memencet tombol bertuliskan Hot Chocolate. Kemudian berkeliling untuk melihat-lihat, tetapi perutnya masih cukup penuh jika harus diisi kembali dengan makanan lainnya. Lalu segera beranjak menuju kasir setelah membatalkan niat untuk membeli camilan.

bersambung...

sebelumnya [5]

Share:

1 comments

  1. Baca ini serasa dibawa jalan-jalan makan, deh... Sushi jepang katanya enak banget ya yo.. kapaan ya, bisa ke sana. *ngenes banget pertanyaannya yak, wkwkwkwk xD

    ReplyDelete