Negeri Sakura (6.2): I'll be Back Again, Someday
![]() |
| Suasana jalanan di Kyoto |
Jam di tangan sudah menunjukan waktunya makan siang. Rasanya hari ini waktu berlalu begitu cepat, namun saya baru mendapati dua objek wisata untuk didatangi. Begitu keluar dari wilayah Ryoan-ji, kami segera mencari tempat makan guna menghilangkan pening di kepala dan menenangkan gerombolan pemain tanjidor di perut kami. Restoran sushi 100 yen-an jadi pilihan makan siang kami kala itu. Demi mempertahankan stamina selama perjalanan ini, saya memesan semangkuk udon selain beberapa piring sushi yang sudah mulai menumpuk di depan saya. Segelas es cappucino pun menjadi minuman penutup santap siang saya.
Mobil kami meluncur mengarah ke timur kota yang berpenduduk sebanyak 1,4 juta jiwa ini. Jalanan di kota ini sangat berbeda dengan keadaan di negeri tercinta. Lalu lintas kendaraan terbilang lenggang saat kami melintas dan jalanan yang kami lalui pun sangat lebar serta segala atribut lalu lintas terpasang dengan lengkap. Rasanya perjalanan dari utara Kyoto menuju bagian timurnya dapat dicapai dengan cepat, apalagi kami tak harus menyesuaikan jadwal keberangkatan kereta atau bis yang sedikit banyak bisa saja memangkas waktu. Namun, perjalanan ini terasa lama. Bagaimana tidak? Begitu teraturnya wilayah Jepang ini, setiap kali persimpangan, maka di tempat itu pula terpancang kokoh lampu pengatur lalu lintas. Baru saja menginjak pedal gas, secepat itu pula pedal rem harus di injak kembali, karena jarak antar persimpangan di kota ini cukup berdekatan. Belum lagi dengan para pejalan kaki yang memiliki prioritas untuk menyeberang jalan. Duh. Memang tidak ada negara yang sempurna.
~~~
Landscape Embracing Architecture
Sinar matahari kian melunak begitu kami sampai di tempat tujuan ini. Saat kakak saya menyebutkan nama tujuan kala itu, saya sama sekali tidak memiliki gambaran tempat seperti apa yang akan saya kunjungi. Cukup sulit untuk menemukan lahan parkir di tempat ini. Namun, untuk sampai ke tempat ini pun, pengunjung harus rela berjalan kaki dari halte bis terdekat. Menggunakan taksi adalah pilihan yang paling nyaman, tapi itu pun kalau anda memiliki budget lebih karena taksi menjadi transportasi paling mahal di Jepang. Lantas bagaimana cara termudah untuk mencapai tempat itu? Jawabannya sederhana: nikmati saja, apapun pilihan transportasi anda. Hehehe.
Jalan yang melandai dengan aspal hitam tanpa cela menjadi jalur utama menuju kuil setelah keluar dari jalan raya besar. Sepanjang jalan satu arah ini, ratusan wisatawan memenuhi trotoar jalan. Berjalan beriringan layaknya orang berbaris. Beberapa di antara mereka, terlihat beberapa gadis yang terbalut dengan pakaian khas Jepang: Kimono. Daerah ini memang berdekatan dengan Gion. Sebuah tempat yang terkenal akan Geisha-nya.
![]() |
| Pengunjung wanita dalam balutan Kimono |
Selepas rapi memarkir kendaraan, kami harus mendaki jalur landai ini. Parkiran terdekat yang dapat kami temui hanya di tempat itu. Saya kembali tertarik saat warna-warni kimono tertangkap indera penglihatan saya. Sekiranya bisa, saya ingin sesekali berfoto dengan seorang gadis berkimono. Tetapi akhirnya saya tahu, di sepanjang jalan yang saya lalui ini, terdapat beberapa tempat penyewaan kimono bagi para wisatawan. Akhirnya saya urungkan niat untuk foto bersama. Jika memang yang berkimono itu penduduk asli Jepang, sih, tidak mengapa, yang bikin malas kan kalau sesama pendatang juga. Hadeuuuh. ~buru-buru berpaling.
Di ujung jalan, kita harus menyusuri jalan kecil yang dipadati dengan deretan toko-toko souvenir di sisi kanan dan kiri jalan. Lorong ini penuh dengan para pengunjung, baik lokal maupun asing. Jalur sempit dan menanjak ini seakan membuat saya bertanya-tanya tentang apa yang tersimpan di ujung jalan. Untuk ketiga kalinya, saya dikejutkan kembali dengan pemandangan yang spektakuler. Breathtaking moment ketiga saya hari ini. Perpaduan antara arsitektur berwarna merah terang dengan elemen organik yang berlatarkan pohon cherry dan mapple membuat komplek kuil budha ini begitu memukau. Tempat ini langsung memikat saya.
Kiyomizu-dera yang berarti Pure Water Temple ini ditemukan pada tahun 780-an di dekat air terjun Otowa. Kuil ini terdiri dari beberapa bangunan di dalamnya. Bangunan favorit dari tempat ini adalah Main Hall-nya (Hondo) yang memiliki Kiyomizu Stage. Sebuah pelataran yang berdiri setinggi 13 meter di sisi tebing yang ditopang dengan puluhan kayu besar yang disusun sedemikian rupa tanpa menggunakan satu pun paku sebagai penyambungnya. Pelataran ini menyuguhkan pemandangan luar biasa lainnya. Saya pun betah untuk berlama-lama, apalagi suasana sore yang syahdu ini turut mendukung. Cityscape Kyoto dapat saya saksikan dari pelataran ini dengan mudah jika saya mengalihkan pandangan ke arah kanan. Jantung kota berupa Kyoto Tower pun terlihat jelas dari atas sini. Pemandangan yang berseberangan dari Main Hall pun tak kalah indahnya: Koyasu Pagoda, seakan tertelan di antara rimbunnya pepohonan.
![]() |
| Suasana di Kiyomizu Stage |
![]() |
| Pemandangan Kyoto dan Kyoto Tower dari Kiyomizu Stage |
Meniti menuruni tangga, banyak pengunjung yang mengantri di sebuah pancuran air di bawah Kiyomizu Stage. Pancuran ini disebut dengan Otowa Waterfall, Otowa-no-taki. Pada air terjun ini terdapat tiga pancuran. Pegunjung yang ingin mencoba segarnya air dari pancuran tersebut dapat mengambilnya menggunakan alat yang berbentuk semacam gayung dengan pegangan dari kayu panjang.
Ternyata ketiga pancuran tersebut memiliki makna atau keyakinan yang berbeda pada masing-masing curahan airnya. Biasanya, orang Jepang akan memilih salah satu pancuran tersebut sesuai dengan keinginannya agar terkabul. Ketiga permintaan itu adalah permintaan umur panjang, sukses dalam menempuh jenjang pendidikan, dan keberuntungan dalam kehidupan cinta. Menurut kepercayaan orang Jepang bahwa mengambil air dari ketiga pancuran tersebut dan meminumnya ketiganya sekaligus adalah perbuatan yang serakah. Jadi, bagi pengunjung yang ingin mendapat pemberkatan dari hal tersebut, diajurkan untuk meminumnya salah satu. Tetapi, yang saya lihat dalam kenyataan, sepertinya semua pengunjung yang mencoba air tersebut, mengambil air dari ketiga pancuran sekaligus. Untuk saya sendiri sih tidak ikutan mengambil air itu, rasanya saya malah ingin berdiri di bawah pancuran untuk menyegarkan tubuh saya. Kalau seperti itu, apa maknanya ya? Kepanasan keleeees... hehehe.
Puas menikmati pemandangan di kuil yang masuk ke dalam daftar UNESCO World Heritage tahun 1994 ini, saya kembali ke jalan semula yang saya lewati. Pemandangan dari ujung jalan Kiyomizu-zaka ini sangat indah. Berada di titik tertinggi jalan tersebut, membuat saya lebih leluasa memandang ke arah bawah. Bermandikan sinar mentari sore yang kuning keemasan, menampilkan scenery menawan antara hiruk-pikuk pengunjung, fasad gugusan toko yang saling berhadapan, dan jalan Kiyomizu-zaka yang menurun. Perpaduan yang menarik untuk dijadikan salah satu koleksi foto perjalanan saya.
Jalan Kiyomizu-zaka ini dipenuhi dengan toko-toko yang menjual barang-barang cinderemata khas Kiyomizu-dera dan Kyoto. Barang-barang yang dijual pun sangat beragam. Puluhan kipas tangan dengan desain yang menawan, berbagai bentuk dan ukuran pajangan, lukisan khas Jepang, magnet kulkas, postcard, hingga es krim, minuman, dan panganan serta cemilan yang hanya dapat anda beli di Kiyomizu-zaka ini.
![]() |
| Titik awal Jalan Kiyomizu-zaka |
Bagi anda yang memang ingin melakukan perjalanan ke kota ini, Kiyomuzu-dera menjadi salah satu tempat yang saya rekomendasikan untuk itinerary anda. Langkahkan kaki anda menjelang matahari mulai pulang kerimbaannya. Suasananya begitu hangat dan terasa akrab. Sejenak menikmati window shopping di jalan Kiyomizu-zaka sambil menyantap segelas es krim pun dapat menambah jalan-jalan sore anda di tempat ini menjadi lebih berkesan. Namun, jangan sampai terlampau terlena, karena toko-toko di jalan ini mulai tutup sebelum matahari hilang dengan sempurna.
~~~
Sayang, karena terkendala waktu dan tersesat beberapa kali, Gion pun harus rela saya tinggalkan tanpa sempat saya berkenalan dengannya. Padahal, jika saya bisa berkunjung, misi utama saya adalah mencari seorang Geisha dan memintanya untuk berfoto bersama (hehehe xp). Beberapa kali saya mendengar, banyak yang menyalahartikan Geisha serupa dengan “gadis penghibur” lainnya. namun nyatanya, hal itu amat jauh berbeda. Geisha adalah seorang artis. Mereka adalah entertainer profesional yang memiliki berbagai talenta guna penampilannya di atas panggung. Seorang Geisha dilatih agar mampu menguasai semua kesenian tradisional Jepang, seperti menari, menyanyi, dan bermain alat musik.
Akhirnya, arah mobil ditetapkan menuju kawasan selatan Kyoto. Meluncur kembali di atas jalan mulus kota ini. Beberapa pengunjung yang sempat saya lihat di Kiyomizu-zaka tampak sedang mengantri di halte guna menaiki bis untuk membawa mereka pulang, bersama dengan puluhan pengunjung lainnya yang mengular panjang di belakangnya. Ah, syukurlah hari ini kami memilih untuk menyewa mobil. Memang, sepertinya akses untuk menuju kawasan wisata di Kyoto susah-susah nggak gampang untuk dicapai (maksudnya gimana deh???). Tempat yang berdekatan dengan halte atau stasiun pun memang tidak sedikit, tetapi banyak juga yang letaknya jauh. Kadang kendala lainnya adalah batas waktu operasional moda transportasi yang sangat singkat. Untuk hal ini, mungkin tidak hanya di Kyoto saja, di Tokyo pun begitu, bahkan mungkin di semua tempat di Jepang menerapkan hal tersebut.
Karenanya, wisatawan asing yang ingin berkelana di negeri sakura ini harus pintar-pintar menyiasati waktu, terlebih jika berwisata ke tempat rekreasi yang cukup susah mendapatkan akses transportasi. Bahkan pilihan menggunakan taksi pun, dianggap cukup menyulitkan juga karena sepertinya jumlah armada mereka yang tidak banyak seperti di Indonesia. Pilihan yang bijak adalah membatasi waktu kunjungan atau mem-booking penginapan di daerah sekitar guna memperpanjang waktu untuk menikmati sebuah daerah wisata yang dituju.
~~~
Tunnel of Gates
![]() |
| Jalur masuk Fushimi Inari Shrine, Kyoto |
![]() |
| Stasiun Inari |
Suhu udara di tempat ini mulai menurun. Pancaran cahaya sore pun kian melemah. Saya segera mempercepat langkah kaki saya dan mulai memasuki pelataran kuil. Ini saya lakukan karena hari yang semakin gelap dan ketidaktahuan saya terhadap letak ratusan Torii tersebut. Beberapa kali meniti undakan, akhirnya saya menemukan apa yang saya cari. Deretan Torii pun berjajar rapi tak berujung. Ya, saya benar-benar tidak menemukan ujungnya. Jajaran Torii berwarna merah terang ini disebut dengan Senbon Torii yang berarti seribu gerbang Torii. Tuh, bagaimana mau melihat ujungnya? Namanya saja seribu gerbang, bisa saja gerbang itu lebih dari seribu, bukan? Nggak kebayang deh bagaimana ngitungnya.
![]() |
| Fushimi Inari Shrine, Kyoto |
![]() |
| Senbon Torii, Fushimi Inari Shrine |
![]() |
| Pengunjung yang melintas di Senbon Torii |
![]() |
| Patung rubah |
![]() |
| Pahatan nama donatur pada tiang Tori |
~~~
Kuil rubah dengan ribuan Torii-nya menjadi titik terakhir kunjungan hari ini. Memang tidak banyak tempat yang dapat saya singgahi di kota dengan sebutan City of Ten Thousand Shrines tersebut karena waktu jua yang membatasi. Daftar tempat-tempat menarik di kota ini masih panjang untuk diekplorasi. Lain waktu, jika Tuhan mengijinkan, kelak saya akan kembali lagi. Mendengarkan cerita dan kisah yang akan mengantar saya terlelap. Ragam rasa kulinernya yang akan menggoda indera pengecap ini. Kehidupan masyarakat yang patut untuk dikenal lebih jauh. Serta paduan sudut arsitektur dengan coretan lanskapnya yang membuat jatuh hati. Malam kian jatuh semakin dalam. Hari semakin dekat bertemu akhirnya. Kereta ini pun berjalan kian jauh meninggalkan Kyoto bersama bintang-bintang di langit sana.
See you again, Kyoto!
Link:
Kiyomizu-dera http://www.kiyomizudera.or.jp/lang/01.html
















0 comments