Negeri Sakura (6.1): Saya pun Jatuh Cinta
![]() |
| Kyoto Sky, Japan |
Pagi hari ke-enam di negeri Bushido pun datang. Matahari menyapa penuh malu dari balik arak-arakan awan. Hari ini awan cukup mendominasi isi langit. Sepertinya kelanjutan dari hujan yang sempat mengguyur tanah barat Jepang malam lalu. Hanya menghabiskan waktu sekitar setengah jam perjalanan hingga sampai di stasiun Kyoto, menggunakan kereta JR Tokaido/Sanyo Main Line, tibalah saya di kota yang sempat menjadi Ibukota Jepang hingga tahun 1860-an. Di kota ini, mentari mengambilalih kembali tugasnya di atas sana.
Moda transportasi yang dipakai untuk wisata hari ini tak lagi berkisar pada kereta. Kali ini, mobil menjadi pilihan lalu lalang di Kyoto. Tempat penyewaan mobil itu tepat berada di seberang stasiun Kyoto. Udara dingin di dalam mobil kontras dengan teriknya udara di luar sana. Mobil yang disupiri oleh kakak pun melaju di antara mobil-mobil lainnya. Suasana yang sangat berbeda langsung saya rasakan mengingat keadaan lalu lintas di negeri Jamrud Khatulistiwa di seberang sana.
Tidak lagi berurusan dengan pindah kereta dan stasiun, perjalanan kala itu berlangsung hening. Saya lebih banyak menghabiskan pandangan keluar kaca sepanjang perjalanan. Meniti setiap sudut kota yang membuat saya terkesima. Kyoto nampaknya memiliki landscape form yang serupa dengan Bandung, Indonesia. Kota ini terletak di cekungan yang dikelilingi oleh pegunungan, namun kental dengan traditional taste seperti suasana di Yogyakarta.
~~~
Wasiat Sang Shogun
Menyusuri jalur berkerikil dengan kanopi hijau pepohonan, saya melangkah penuh takjub dan penasaran. Seperti kunjungan hari lainnya, saya selalu saja sengaja memisahkan diri dari keluarga. Lebih tepatnya berjalan lebih lambat atau lebih cepat dari mereka. Entah untuk berhenti mengagumi sesuatu atau berlari agar cepat melihat objek-objek tertentu. Pemandangan yang tersaji tak ubahnya lingkungan kuil yang telah beberapa kali saya kunjungi. Tetapi selepas sudut pagar bambu yang penuh dengan puluhan turis, pandangan saya seketika berubah haluan pada sebuah bangunan berbentuk pagoda di atas danau.
![]() |
| Kinkaku-ji (Golden Pavilion), Kyoto |
Kinkaku-ji atau lebih dikenal dengan nama Golden Pavilion. Kuil emas ini menjadi objek yang terlukis di setiap pasang bola mata wisatawan, termasuk saya. Elemen air, berupa danau, yang merefleksikan bayangan bangunan berlantai tiga ini dan lanskap yang membungkusnya dengan hijaunya pepohonan, menjadikannya sebuah emphasis yang tak ada duanya di tempat tersebut. Saya seakan tak mampu memalingkan pandangan. Ini sebuah breathtaking moment bagi saya. Komplek kuil ini memiliki beberapa tempat bersejarah dan bangunan lainnya, tetapi tampilan pertama berupa kuil emas itu menjadikannya menjatuhkan daya tarik mereka. Kinkaku-ji adalah salah satu dari banyak tempat yang sangat ingin saya kunjungi yang akhirnya dapat tercapai. Alhamdulillah.
Masih berada di dalam kawasan kuil ini terdapat Garden Tea yang dapat digunakan oleh pengunjung untuk beristirahat sejenak sembari menyesap getir tipis teh hijau yang ditemani oleh kue manis.
Kinkaku-ji dalam sejarahnya adalah sebuah kawasan yang mempunyai fungsi sebagai tempat peristirahatan pensiunan seorang shogun yang bernama Ashikaga Yoshimitsu. Setelah kematiannya pada tahun 1400-an, disebutkan agar mengalihfungsikan vila tersebut menjadi sebuah kuil, yang tertulis sebagai wasiatnya. Kisah yang dialami oleh bangunan ini ternyata tak selamanya indah. Selama kelangsungan “hidup” kuil emas tersebut, beberapa kali ia harus merasakan panasnya lidah api yang membakar “tubuh”nya. Bangunan yang termasuk ke dalam Zen Temple yang saat ini berdiri merupakan hasil pembangunan ulang pada tahun 1955. Kisah yang cukup naas yang harus ditanggung oleh sebuah kuil.
![]() |
| Pintu Keluar |
~~~
Kisah yang Tersembunyi dan Sebuah Keyakinan
Pelataran parkir tempat tujuan berikutnya terlihat sepi, hanya ada beberapa mobil yang dapat dihitung tak lebih dari jari di kedua tangan saya. Letaknya yang berdekatan dengan Kinkaku-ji dan masih berada di bagian utara Kyoto menjadikan tempat ini sebagai tujuan kedua.
Pelataran parkir tempat tujuan berikutnya terlihat sepi, hanya ada beberapa mobil yang dapat dihitung tak lebih dari jari di kedua tangan saya. Letaknya yang berdekatan dengan Kinkaku-ji dan masih berada di bagian utara Kyoto menjadikan tempat ini sebagai tujuan kedua.
![]() |
| Lorong Kanopi |
Sebagai seseorang yang pernah menempuh pendidikan di jurusan landscape architecture, tempat ini menjadi bahan perbincangan di banyak materi. Bahkan beberapa fotonya kerap hadir di beberapa slide perkuliahan. Sebuah taman berbentuk persegi panjang dengan hamparan pasir putih dan beberapa tatanan batu besar dan kecil, sukses mengambil udara dari kedua paru-paru saya dengan cepat. Sebuah taman zen yang hanya dapat saya kagumi, hanya dapat saya lihat di beberapa foto, dan taman yang membuat saya penasaran dengan kenamaannya, kini terbentang hening tepat di depan tubuh saya yang masih terpesona dengan keindahannya.
Sebagai rock garden paling terkenal di Jepang, Ryoan-ji mampu menarik pengunjung sebanyak ratusan wisatawan per harinya, dan kali ini, saya masuk ke dalam salah satu dari ratusan wisatawan tersebut. Duduk bersebelahan dengan pengunjung lainnya, hawa sejuk menemani pemandangan yang sedang saya nikmati saat ini. Taman ini hanya dapat dinikmati dari sebuah patio atau teras sebuah bangunan menyerupai rumah. Layaknya Golden Pavilion, taman yang berada di dalam kuil ini merupakan sebuah kawasan yang telah beralihfungsi. Awalnya tempat ini adalah bangunan vila dari kalangan ningrat pada masa Heian pada tahun 1450.
![]() |
| Stone Water-Basin (Water Feature) di Belakang Hojo |
Penggambaran kisah taman tersebut menimbulkan banyak spekulasi. Bebebapa mengisahkan tentang seekor induk harimau yang membawa anaknya menyeberangi sungai. Pada lain pihak menyebutkan pulau yang berada di samudera atau puncak gunung yang berada di lautan awan sebagai hipotesisnya. Ada juga yang menyebutkan bahwa itu adalah penggambaran biara Zen.
![]() |
| Patung Budha |
Belum kelar dengan itu, jumlah batu yang tertata pada taman pun menjadi sebuah misteri. Saat mengetahui hal itu, saya sempat menghitung jumlah batunya dan menetapkan angka 15 sebagai hasil akhir perhitungan saya. Namun, beberapa orang hanya melihat sebanyak 14 buah batu yang tersusun di sana. Hal ini merupakan sebuah keyakinan yang diyakini oleh masing-masing individu tanpa harus membenarkan siapa yang benar dan menyalahkan siapa yang salah. Mungkin kita memang sengaja dibuat bertanya-tanya untuk melatih kebijaksanaan diri dalam menyikapi berbagai kisah dan cerita yang tidak hanya terkandung di taman ini, tetapi di berbagai tempat lainnya.
~~~
Link:
Ryoan-ji http://www.ryoanji.jp/smph/eng/









0 comments