Negeri Sakura (5.1): The Forbidden Journey

Universal Studio Japan, Osaka

Tujuan perjalanan hari ini adalah tujuan utama selama saya berlibur di negara Nippon ini. Selepas menyiapkan bento sebagai bekal santap siang di tempat tujuan dan menyantap sarapan secara lahap dengan menu hotel yang sederhana, kami pun melangkah bersama angin pagi yang masih dingin menuju stasiun Shin-Osaka. Perjalanan memakan waktu selama 30 menit untuk sampai di stasiun Universal City. Lanjut berjalan sejauh beberapa ratus meter melalui Universal Citywalk Osaka, yang penuh dengan toko-toko merchandise Universal Studio, oleh-oleh Osaka, dan beberapa restoran, akhirnya saya melihat gerbang utama Universal Studio Japan.

Yap, amusement park adalah tujuan rekreasi hari ini. Semenjak berada dalam kereta dari stasiun Nishikujo hingga turun melintasi Universal Citywalk Osaka, ratusan pengunjung mengarah pada tujuan yang sama, Universal Studio Japan (USJ). Theme park pertama di Asia yang menggunakan brand Universal Studio ini buka pertama kali pada bulan Maret 2001 dan dibangun di atas lahan seluas 39 hektar. USJ terbagi ke dalam delapan bagian/kawasan, yaitu Hollywood, New York, San Francisco, Jurrassic Park, Waterworld, Amity Village, Universal Wonderland, dan bagian terbaru, The Wizard World of Harry Potter.

Bola dunia dengan tulisan Universal yang berputar menjadi icon utama yang menyambut para pengunjung sebelum memasuki pintu masuk. Ini juga merupakan hotspot populer bagi mereka yang ingin mengambil gambar berlatarkan bola dunia tersebut, termasuk saya dan keluarga (bukan narsis sih tapi buat kenang-kenangan xp). Barisan panjang mengisi tiap celah di masing-masing loket tiket, untung saja, saya sudah mendapatkan tiket terlebih dahulu secara online. Ada baiknya, jika anda ingin mengujungi USJ, belilah tiket secara online guna menghindari antrian pembelian tiket yang panjang, apalagi saat high season tiba, duh, yang ada ngantrinya lama tapi menikmati permainannya hanya sebentar.

Kawasan pertama yang saya kunjungi adalah kawasan Harry Potter. Untuk memasuki kawasan yang beroperasi pada bulan Juli 2014 ini, para pengunjung diharuskan mengambil tiket masuk khusus. Tiket ini digunakan untuk mengakses kawasan pada waktu yang telah kita pilih. Pemberlakuan waktu kunjungan ini berlaku untuk mencegah kepadatan pengunjung yang masuk ke dalam The Wizard World of Harry Potter ini.

Berdasarkan pemberitaan pada salah satu televisi di Jepang, pembangunan section ini dilatarbelakangi oleh intensitas kunjungan taman hiburan USJ tersebut. Antusiasme warga Jepang maupun turis asing tergolong rendah, mereka lebih memilih untuk menghabiskan waktu dengan mengunjungi theme park lainnya, seperti Disney World yang terletak di Chiba atau pilihan taman hiburan lainnya. Guna meningkatkan jumlah kunjungan, pihak USJ akhirnya mendirikan kawasan fenomenal ini. Biaya pembangunan yang dikeluarkan pun tidak sedikit. Sekurangnya $422juta telah dihabiskan sebagai sarana hiburan untuk memanjakan pengunjung dan tentunya sebagai daya tarik tersendiri bagi para penggemar Harry Potter dan kawan-kawannya itu.

Mobil milik ayah Ron Weasley

Hogwarts Express
Memasuki kawasan transisi, saya diajak melintas dalam hutan pinus. Backsound yang sengaja diputar, mengisi udara di seluruh hutan tersebut, yang seakan mengajak imajinasi saya, dan tentu pengunjung lainnya, untuk masuk ke dalam dunia penyihir ini secara nyata. Beberapa saat berjalan dengan antusias yang begitu tinggi, mobil tua berwarna biru yang pernah digunakan oleh Ron Weasley untuk menjemput Harry Potter pun terparkir di bawah rindangnya pepohonan. Objek pertama dalam film dengan tujuh seri itu yang menjadi nyata untuk saya lihat. Tak jauh, kerumunan orang berdiri di bawah gapura bertuliskan Hogsmeade untuk mengabadikan keberadaan mereka. Di tempat itu pula, transportasi yang digunakan oleh murid-murid Hogwarts, Hogwarts Express, tak luput menjadi incaran untuk berfoto, lengkap dengan sang masinis yang ramah menyambut setiap pengunjung. Terlalu ramai, saya memutuskan untuk kembali jika keramaian sudah berkurang.

Para penggemar Harry Potter pasti tidak asing dengan tempat ini, bahkan bisa jadi sangat mengenal tempat berjajarnya puluhan toko yang berisi benda-benda berbau magic tersebut. Decak kagum rasanya tak pernah lepas mengisi kerongkongan saya saat berjalan di Hogsmeade Village ini. Sebuah dusun yang menjadi tempat tujuan rekreasi para siswa/i Hogwarts seperti yang diceritakan pada scene film di Harry Potter and The Prisoner of Azkaban. Setiap toko yang ada: Zonko’s Joke Shop, Honeydukes, Owl Post & Owlery, hingga Ollivanders, dibuat secara detail dan rapi. Rasanya saya tersihir melihatnya, sementara keluarga saya sudah luput dari penglihatan saya.

Hogsmeade Village

Di ujung jalan, sekolah sihir yang dipimpin oleh Profesor Dumbledore berdiri megah di atas bebatuan sebagai pondasinya. Lagi, saya pun dibuat terpukau untuk kesekian kalinya. Saya tak mampu berkata apa-apa, speechless.

Bangunan ride attraction Harry Potter and The Forbidden Journey ini dibangun menyerupai istana Hogwarts. Wahana ini sangat populer oleh pengunjung, terbukti dari waktu antrian yang memakan waktu hingga 80 menit hingga menaiki wahana. Sungguh penantian yang panjang. Haaahh~~. Eh, tetapi penantian seakan menjadi hiburan tersendiri. Detail yang ditawarkan sepanjang area antrian membuat saya membuang semua rasa jenuh yang ada.

Hogwarts Castle

Sebelum dapat menikmati serunya wahana ini, para pengunjung diharuskan menyimpan segala bentuk barang bawaan di loker-loker yang telah disediakan. Sangat chaos suasana di lorong-lorong loker ini. Pengunjung yang baru dan sudah keluar permainan berkumpul di tempat ini.

Aliran adrenalin kian mengalir cepat. Nafas ini semakin memburu. Tangan mulai basah dengan keringat. Sedikit demi sedikit, saya seperti kehilangan kesadaran. Saya gelisah bersamaan dengan setiap langkah kaki yang saya buat. Aaaah... saya menarik nafas panjang berkali-kali, berusaha menenangkan diri. Ini mungkin salah satu wahana terseram yang akan saya mainkan. Bahkan, saya pun harus menebak-nebak seperti apa gerangan bentuk permainan ini. Crap.

Lorong gelap mengisi setiap sudut ruang. Saya diajak melintasi ruang kelas dan koridor sekolah, kantor sang kepala sekolah sihir: Dumbledore, dan ruang tamu Griffindor. Diantaranya, saya juga melihat topi pemilah yang digunakan untuk menyeleksi para siswa baru ke masing-masing house, lukisan-lukisan yang dapat bergerak persis seperti dalam filmnya, sang penjaga pintu masuk Griffindor: Fat Lady, dan beberapa detail lainnya.

Akhirnya tiba di penghujung antrian.
Dari sebelah kiri, bergerak perlahan sebuah set tempat duduk untuk empat orang berjalan menyamping, dengan...

POSISI KAKI MENGGANTUNG!!! Kyaaaaaa...

Jleeeb, dengkul saya seketika lemas. Namun apa daya. Giliran saya, adik, dan kakak saya. Kami segera berjalan menuju kendaraan tersebut. Pengaman yang digunakan persis seperti pengaman yang digunakan pada rollercoaster Halilintar di Dufan (padahal saya belum pernah naik Halilintar). Dengan tangan yang gemetaran, saya merapatkan pengaman hingga rapat menyentuh dada dan paha saya. Saya melakukannya berulang kali, walaupun penjaga wahana sudah memastikan masing-masing pengaman yang kami pasang.

Saya melihat kendaraan yang telah lebih dulu berangkat. Mata saya terbuka lebar, mulut saya menganga spontan, dan tangan saya mencengkram pegangan pengaman dengan kencang. Saya menyesal melihatnya dengan sengaja. Awal permainan saja sudah diajak bermanuver seperti itu, apalagi sisa perjalanannya. Freezeee~~.

Bendera House di Hogwarts
Permainan pun dimulai. Manuver yang menurut saya ekstrim mulai menguncang seluruh sendi di tubuh ini. Sekejap, saya diajak melintasi dimensi waktu menuju wizard world saat itu juga. The game officially begin. Jeritan panjang mengawali permainan ini. Terbang melintasi lapangan Quiditch bersama Harry, mengelak dari kejaran naga yang memporak-porandakkan jembatan sekolah, melesat cepat ke dalam hutan terlarang dan menghindari jeratan jaring Aragog, face-to-face dengan beberapa Dementor, menghindari hantaman pohon Whomping Willow, hingga akhirnya kembali terbang ke Hogwarts, serta menembus dimensi waktu dan mengakhiri permainan.

Saat permainan berlangsung, jeritan yang saya keluarkan tak ubahnya decak kagum pada setiap detail permainan tersebut. Jantung ini berdetak kencang, tangan saya pun tak lepas dari pegangan karena kendaraan tersebut melakukan gerakan-gerakan ekstrim yang bahkan beberapa kali, membuat saya berbaring dan hampir terbalik, namun entah mengapa, saya menikmati wahana tersebut. Saya lebih banyak mengeluarkan suara “huwaaah...” dan “wooow...” ketimbang “aaaaaaAAAAA!!!”. Menjelang petang, saya pun kembali menaiki wahana ini untuk kedua kalinya. Bahkan jika memungkinkan, saya ingin bermain kembali beberapa kali lagi. Hehehe.

Link:
Universal Studio Japan http://www.usj.co.jp/e/

Share:

0 comments