Tana Toraja: Wisata Spooky di Utara Makassar
Saya duduk di sebuah warung kayu
di pinggir jalan. Pemandangan di sekitarnya begitu memukau, walaupun bentuk
warung ini tak seberapa. Aroma kopi yang bercampur hawa pegunungan memikat
selera dan menggoda indera penciuman saya. Memberikan gairah tersendiri selepas
lelah. Getirnya seperti mewakili rasa kehidupan. Pahit, namun mampu membuka
mata lebih lebar. Sembari menikmati secangkir minuman hitam ini, saya
mendengarkan seorang rekanan ibu bercerita tentang tanah kelahirannya. “Orang sini
itu hidup untuk mati”, katanya disela-sela penuturannya. Lelaki berkulit sawo
matang itu menyeruput kopi hitamnya sejenak. Menu minuman yang sama dengan
pesanan saya. Perbincangan di warung kayu ini berlanjut bersama wangi khas
minuman hitam yang menggema di udara siang ini.
Langit sudah mengarah kelabu
semenjak pesawat yang membawa saya menyentuh landasan di kota ini. Guratan
jingga dan abu-abu pekat bercampur satu di ujung cakrawala. Meninggalkan jejak
yang romantis di kala senja. Deburan ombak terdengar bersahutan di kedua
telinga saya saat tiba di penginapan. Minim cahaya membuat saya tak mampu
melihat jelas. Yang pasti, deburan tersebut akan mengiringi mimpi saya malam
ini.
Kepergian saya kali ini menuju
tempat tinggal sebuah suku yang terkenal akan ritual pemakaman dan rumah adat
tongkonan-nya, yaitu Tana Toraja. Kami
bertolak dari Kota Anging Mamiri ini sekitar pukul 10 pagi, semangat saya kian
tinggi seiring dengan perjalanan yang semakin menjauhi kota tersebut. Namun,
kondisi jalan selama perjalanan membuat saya hilang semangat seketika itu juga.
Perjalanan dari Makassar menuju Toraja memakan waktu selama 7-8 jam perjalanan
darat. Kendaraan yang kami sekeluarga pakai adalah jenis Colt L300, milik rekan
ibu yang berinisiatif mengantarkan kami. Kondisi jalan yang kami laluilah yang
membuat tubuh saya menyerah dalam keadaan mabuk darat. Sebenarnya jalan yang
kami gunakan cukup lebar dan cenderung halus, sehingga (seharusnya) nyaman
untuk dilalui oleh pengguna jalan. Tetapi banyak lubang-lubang besar dan jalur
yang belum selesai dikerjakan, mengharuskan supir yang membawa mobil yang kami
tumpangi melakukan gerakan manuver sedemikian rupa guna menghindari jalan rusak
tersebut dan hal itulah yang berdampak pada peningkatan drastis rasa mabuk
saya. Terlebih, saya duduk di bangku belakang (TT). Perjalanan saat itu saya
lakukan pada bulan Februari 2011. Semoga saja saat ini sudah ada perubahan kearah
yang lebih baik.
![]() |
| Gunung Nona |
Beberapa kali mendapatkan
“jakpot”, saya kadung kewalahan. Saya meminta time-out guna menyadarkan saya dari “mabuk” ini. Beruntung, kami
memang sedang berada di wilayah Enrekang. Sepintas jalur ini mirip dengan jalur
di Puncak, Bogor, yang identik dengan jalan berkelok-nya dan deretan warung
kopi yang menyuguhkan pemandangan sisi pegunungan. Sepertinya tempat ini memang
digunakan sebagai tempat singgah para pelintas dari maupun ke Makassar. Terihat
dari beberapa bis yang terparkir paralel di bahu jalan.
Udara yang bebas hilir mudik
mengisi ruang nafas ini begitu sejuk dan segar. Cukup berhasil meredakan
kesengsaraan saya selama perjalanan, ditambah segelas teh panas dan pemandangan
Gunung Nona yang membantu meningkatkan kesadaran saya. Konon, gunung ini dinamakan
Nona karena garis kontur pada salah satu sisinya terlihat menyerupai bentuk
kelamin wanita. Entahlah, saat itu saya sedang “mabuk” kepayang. Tak heran saya
tidak menyadari hal itu. Teh panas dan pemandangan yang menawan tersebut
mengobati rasa lelah ini, tapi perjuangan saya belum berakhir. Aaaahhh... siap-siap kantong plastik (lagi).
Jam sudah menunjukan waktunya makan malam saat kami tiba di penginapan. Beberapa rekan ibu, yang mengundang kami, sudah menunggu kedatangan kami. Mereka menyambut kami dengan sedikit ramah tamah pembuka, lalu mengajak kami untuk menyantap makan malam di restoran penginapan. Hidangan yang disajikan begitu menggiurkan, tetapi kondisi badan saya yang begitu lemas tidak menunjukan perubahan selera sedikitpun. Bahkan saya memilih masuk kamar lebih cepat. Namun, dengan muka kusut, saya mencoba mengisi perut demi kebaikan saya sendiri.
~~~
Wisata yang ditawarkan oleh
Toraja ini tidak seperti daerah lainnya. Mereka tidak hanya menawarkan wisata
alamnya saja, tetapi juga wisata yang akan menjadi pengingat akan adanya
batasan umur kita di dunia, yaitu kematian. Cukup mengerikan memang. Objek yang
ditawarkan pun tidak jauh dari makam dan tulang belulang.
Peristirahatan Terakhir di Lemo
Matahari terbit lebih cepat di
tempat ini. Menyisakan butiran embun yang hinggap di hijau dedaunan, sebuah
hari baru telah tiba di Tana Toraja. Istirahat malam tadi cukup memulihkan
beberapa energi yang hilang. Walaupun, badan ini masih terasa menyisakan beban
"perjuangan” hari kemarin. Kondisi tubuh yang masih gontai ini tidak
menyurutkan niat saya untuk mengenali lebih banyak tentang sebuah daerah di
negeri khatulistiwa ini.
Hanya berjarak sekitar 11 km dari
penginapan, namun jika perjalanan dimulai dari Rantepao, maka anda akan tiba
setelah menempuh perjalanan sejauh 13 km. Terletak di jalan antara Rantepao –
Makale, saya pun tiba di tempat tujuan. Lanskap yang ditawarkan begitu
menenangkan jiwa. Hamparan sawah dengan deretan tegalannya dan kontur
bergelombang pegunungan di sekitar, ditambah kesejukan yang menyapa dengan
pelan. Point of interest yang
ditawarkan kawasan ini bukan lagi tentang alamnya tetapi terletak pada sebuah dinding
batu berlubang di depan saya.
![]() |
| Makam bukit batu Lemo |
Saat kami berjalan pulang, saya
melihat ada beberapa bangunan kecil di atas tanah. Rasa penasaran ini pun saya
tanyakan pada rekan ibu yang menemani perjalanan kami. Penjelasan singkat
beliau membuat saya mengerutkan jidat. Biasanya, jenazah yang diletakkan di
tanah adalah mereka yang belum memiliki cukup biaya untuk menguburkan sanak
saudaranya itu di tebing batu.
~~~
![]() |
| Makam batu Londa |
Menapaki jalur keluar, rekan ibu mengarahkan jarinya ke arah atas bukit. Ia bercerita, bahwa penempatan jenazah tidak hanya dilakukan di bawah saja, tetapi hingga ke atas bukit. “Lebih dekat dengan surga”, ia berkata. Semakin tinggi jenazah dikuburkan maka semakin dekat pula ia dengan surga. Cerita yang dikisahkan secara turun menurun tentang asal mula pendahulu orang Toraja, konon, mereka adalah orang-orang yang turun dari nirwana. Leluhur mereka menggunakan “tangga dari langit” untuk menapakan kakinya di dunia ini, yang juga difungsikan sebagai media komunikasi dengan Tuhan. Oleh karena itu, sebisa mungkin, bagi orang suku Toraja yang kerabatnya meninggal akan menguburkannya di tempat yang paling dekat dengan langit agar jiwanya lebih mudah mencapai surga. Begitulah keyakinan yang masih dipercaya oleh orang-orang di sana.
![]() |
| Salah satu makam di atas bukit |
~~~
Ruang Sosial Suku Toraja
Jika ingin mengetahui tentang
ruang kehidupan di suatu daerah, masuklah ke dalam rumahnya. Tersesatlah dalam
jalur di antara bidang hunian mereka. Jelajahilah kearifan setiap senyumnya.
Niscaya akan ada banyak narasi yang tak akan pernah terdengar sebelumnya,
bahkan visual nyata akan menjadikannya bonus tambahan yang menggambarkan segala
bentuk rupa sebuah masyarakat di dalamnya.
![]() |
| Deretan tongkonan dan lumbung padi di Kete Kesu |
![]() |
| Rumah tradisional Toraja, Tongkonan |
Komplek rumah adat Toraja,
Tongkonan, Kete Kesu. Berada sejauh empat
km kearah tenggara Rantepao. Terdiri dari 6 Tongkonan dan 12 lumbung padi,
dengan kuburan adat yang terletak bersebelahan. Tongkonan sendiri menjadi pusat
kehidupan sosial suku tersebut, yang juga digunakan dalam berbagai kehidupan
spritual mereka. Disebutkan oleh rekan ibu, mereka yang sudah tiada, akan tetap
berada di dalam bangunan tempat tinggal itu. Suku Toraja percaya bahwa kematian
bukanlah sesuatu yang datang dengan tiba-tiba melainkan sebagai sebuah proses
dalam jenjang perjalanan menuju akhirat. Arwah orang yang meninggal tersebut
dipercaya akan tetap tinggal di desa hingga upacara pemakaman selesai. Sehingga
tak ayal, kerabat mereka yang masih hidup akan memperlakukan kerabat mereka
yang sudah tiada seperti layaknya mereka yang masih hidup.
![]() |
| Pemakaman di belakang Kete Kesu |
![]() |
| Salah satu peti berisi tulang belulang |
![]() |
| Beberapa tengkorak di pemakaman |
Selepas menikmati santap siang, saya menikmati secangkir produk minuman hitam seduhan lokal yang sudah mendunia. Mendengarkan kembali barisan cerita dari orang asli keturunan suku Toraja. “Orang sini hidup demi mengejar mewahnya kematian”, beliau berkata kembali setelah menenguk kopi di cangkirnya. “Pelaksanaan ritual pemakaman ini menghabiskan biaya yang tidak sedikit,” ia menyentuh pegangan cangkir, “karena itu, tidak sedikit pula, mereka yang masih hidup ini justru memilih untuk mengakhiri hidupnya akibat tekanan tersebut”. Pelaksanaan ini mungkin lebih mewah dari prosesi pernikahan. Bagi orang yang keturunan bangsawan dan petinggi setempat, ritual ini akan dilaksanakan secara besar-besaran dan dihadiri oleh ratusan orang. Demi pelaksanaan tersebut ratusan hewan akan dikorban secara bersamaan. Salah satunya adalah kebo bule yang memiliki harga beli yang sangat mahal. Semakin tinggi derajat sosialnya, semakin tinggi pula jumlah hewan korban yang disediakan. Tentu biaya yang dikeluarkan akan ikut melonjak tajam.
Kearifan lokal yang masih dijaga
melalui ritual-ritual tersebut menjadikan Tana Toraja sebagai tujuan wisata budaya
yang banyak diincar oleh berbagai wisatawan, baik domestik maupun
internasional. Pelaksanaan ritual pemakaman, yang biasa disebut dengan Rambu
Solo ini, dilakukan pada bulan Juni – Agustus. Sangat disayangkan, kedatangan
saya pada bulan Februari ini mengharuskan saya menyimpan rasa penasaran akan
perayaan tersebut dalam-dalam. Sampai kedatangan saya kembali ke Makassar, saya
tidak jua menemukan ritual yang menjadi alasan saya datang ke daerah penghasil
biji kopi yang mendunia ini. Setidaknya perjalanan saya kala itu, menambah
sekelumit cerita dari banyaknya kisah tentang pribadi ibu pertiwi.
~~~











0 comments