Cinta Tak Pernah Membenci Pertemuan
[prolog]
Warna biru tanpa cela terhampar
sempurna di langit awal bulan ketiga ini. Sinar mentari memancar sekuat tenaga.
Berambisi agar kehangatannya tak kalah dengan angin peralihan musim dingin dan
semi, yang masih menyisakan kristal es di setiap sapa alirannya. Setiap dahan
dan ranting di pepohonan menyibukkan diri dengan urusannya masing-masing. Menyempurnakan
persiapan setahun yang lalu demi festival tahun ini, di negara tempat mereka
tumbuh dan berkembang. Mereka sengaja mengorbankan ribuan helai dedaunan yang
menjadi mahkota tajuknya. Alasannya hanya satu. Menyemarakan euforia pada
tunas-tunas bunga kertas yang selalu menjadi anak emas. Menciptakannya menjadi
sesuatu yang sempurna karena umur-umur yang genjah.
Seorang pria masih duduk terpaku
menatap wanita yang berdiri di depannya. Tak ada rencana yang ia agendakan
untuk pertemuan ini. Tak ada persiapan yang ia rancang demi perjumpaan ini. Bahkan
tak ada mimpi yang ia impikan untuk saat-saat seperti ini.
Wanita itu menyebut namanya. Memanggilnya.
Menggantungkan suaranya pada udara dingin yang mengalir. Pria itu masih
terpaku. Entah suhu yang tiba-tiba melonjak turun atau peristiwa yang tak mampu
ia sadari. Ia tak mendengar panggilannya. Saat itu tak terdengar apa-apa,
sepertinya lumpuh telah menyerang pendengarannya seketika. Tak ada suara yang
masuk ke dalam telinga. Hanya bisu dan hampa yang ada. Dan jantung yang
berdetak cepat, jauh di atas hitungan normal. Serta suara-suara kenangan yang sengaja
ia redupkan, yang susah payah ia sembunyikan dengan paksa dalam hiruk pikuk
keramaian hari-hari.
Wanita itu kembali memanggil. Berapa
kali pun namanya menggema, pria itu justru semakin tenggelam. Meringkuk dalam
cerita yang pernah disebutnya sebagai cinta. Perlahan. Sadarnya pun hadir. Saat
ia menatap sebuah pasang mata lainnya, walau tak sepenuhnya berdamai dengan
perang yang bergejolak dalam batinnya. Kini. Ia menjawab panggilannya.
bersambung...
Tags:
Short Story
0 comments