Kendaraan Horor



ATR 72-600 Garuda Indonesia

Bekantan dan paru-paru dunia adalah alasan saya ingin bertandang ke pulau besar ini. Oh, satunya lagi ingin melihat titik nol khatulistiwa. Dan akhirnya, here I am.


Perjalanan kali ini merupakan destinasi terpendam sejak dahulu kala dan hanya sebatas angan-angan belaka. Mengarungi belantara yang dijuluki sebagai paru-paru dunia dan bersampan berteman arus-arus hangat sungai besarnya. Borneo oh Borneo, akhirnya kala itu pun tiba. Sebetulnya kedatangan saya ke pulau terbesar ketiga dunia ini karena menemani ibu yang mendapat tugas dinas ke salah satu daerah di pulau tersebut. Alhasil, saya pun tak menolak ajakan untuk menemani beliau. Lagipula ayah pun tidak akan memberikan ijin jika ibu bepergian seorang diri. Maklum, daerahnya cukup jauh, berdasarkan info yang saya dengar.

Pagi hari saya sudah merapat di bandara Soetta. Penerbangan pertama pun sudah saya lalui sesaat mendarat di Supadio, Bandar Udara Pontianak. Di bandara ini, saya hanya transit karena tempat tujuan saya bukanlah Pontianak, melainkan menuju Ketapang.

Ketapang merupakan salah satu kabupaten besar di wilayah administrasi Kalimantan Barat. Letaknya berada di sebelah selatan ibukota provinsi. Walaupun masuk ke dalam salah satu kabupaten besar, tidak serta merta bandara yang ada di sana juga mengikuti ukuran luas kabupaten ini.

Sejak menapaki kaki di bandara dan duduk di ruang tunggu, jantung saya berdetak sangat cepat. Hingga akhirnya kendaraan yang akan mengantarkan saya pun tiba. Bukan berasal dari sejenis pesawat berbadan besar seperti produsen pesawat terbang kawakan Boeing atau Airbus. Melainkan pesawat bermesin ganda dengan baling-baling, yaitu pesawat jenis ATR 72-600 milik maskapai Garuda Indonesia. Gleeek!!

Awan yang menggantung di langit Pontianak ini terlihat kelam dari kejauhan. Sekelam muka saya yang tak lagi merona. Mulut saya makin berkomat-kamit menenangkan diri serta berharap langit menjadi cerah dengan segera. Terlebih, saat menunggu, saya menyempatkan untuk menghubungi teman yang berdomisili di Pontianak. Nyatanya, keringat dingin saya makin mengucur deras ketika ia memberitahukan sesuatu yang sepatutnya mungkin tidak harus saya dengar. (Ehem... makasih loh mbak-yang-tidak-bisa-disebutkan-namanya hehehe <ketawa kecut>).

Setelah cukup lama saya menunggu, akhirnya waktu boarding saya tiba. Dan... disinilah horor itu mulai terjadi.

Jeng jreeeeng…

Horor pertama adalah cuaca yang terlihat kurang bersahabat. Pesawat berbadan kecil ditambah cuaca yang tidak cerah adalah combo menakutkan yang sudah terawang-awang dalam pikiran.

Melangkahkan kaki menuju pesawat membuat saya sedikit lupa dengan ketakutan tadi. Saya mengagumi pesawat yang pertama kali saya lihat dan akan saya tumpangi. Tidak seperti pesawat lainnya, pesawat ini mengharuskan penumpang untuk memasuki pesawat lewat pintu belakang yang sangat kecil. Begitu pula dengan eksteriornya dapat dijangkau sejangkauan tangan kita. Bagi anda yang berbadan kecil dan membawa barang ke kabin, maka anda tidak perlu lagi kesusahan untuk menaruh dan mengambil barang yang disimpan di bagasi kabin seperti halnya di pesawat-pesawat berbadan besar lainnya.

Begitu saya memasuki pesawat, horor yang selanjutnya pun membuat darah saya kembali kencang mengalir. Nafas saya makin memburu. Cepat dan pendek. Itu semua hanya sebuah “pengumuman biasa” yang sedang disampaikan oleh awak kabin. Tapi “pengumuman biasa” yang terdengar di telinga saya ini sukses membuat punggung saya tegak seketika.

“…penumpang yang terhormat, dimohon agar tetap duduk pada kursi yang tertera pada tiket anda agar keseimbangan pesawat tetap terjaga…”

Jeeessshh...
Saya langsung terduduk lemas dibangku.

Horor ini belum berakhir. Belum juga hilang gelisah saya, gundah di hati makin meningkat klimaks.

Selain pengumuman yang biasa disampaikan oleh awak kabin sebelum pesawat lepas landas, dari ruang kokpit (kemudi) pun biasanya akan ada beberapa pengumuman, baik oleh kapten ataupun co-pilot. Biasanya pengumuman tentang tinggi jelajah, keadaan cuaca di tempat tujuan, dan lain sebagainya. Tidak ada yang berbeda dari yang seringkali saya dengar.

Tapi yang membuat saya semakin horor adalah...
suara dari co-pilot tersebut BUKAN suara pria, melainkan suara WANITA. Iya WANITA.

Deeegh!!!! 😨
Ya Allah, seketika kepala saya pening. Mungkin karena aliran darah ke otak terlalu cepat mengisi. Demi memastikan kebenaran suara yang masuk ke dalam telinga, saya pun iseng bertanya pada pramugari dan ia pun mengiyakan pertanyaan saya. Cukup sudah penjelasan dari pramugari cantik itu atas rasa penasaran saya. Rada nyesel gitu pake nanya (T.T).

Selama perjalanan mulut saya penuh dengan doa. Snack yang dibagikan pun hanya saya lihat sekilas. Mana juga saya nafsu makan sementara ubun-ubun saya berasap karena takut (T.T).

Alhamdulillah, setelah perjuangan berat melalui horor-horor itu dan langit yang penuh dengan doa demi ketenangan batin dan keselamatan, saya mendarat di bandara Rahadi Osman, Ketapang, dengan selamat tanpa kekurangan satu apapun. Rasanya itu menjadi pengalaman terhoror saya dan paling melelahkan dalam berkendara. Haaaah…

And guessed what?
Saya melakukan penerbangan kedua kalinya dengan tujuan yang sama selang beberapa minggu setelah penerbangan pertama tersebut untuk tinggal dan bekerja di Ketapang.

Aaah, tak terbayang berapa kali saya harus merasakan pengalaman horor ini lagi ketika saya harus pulang kampung ke rumah orang tua tercinta.

Share:

0 comments