...
Deburan ombak bersuara kian
jelas. Burung camar terbang seakan langit adalah kerajaannya. Warna biru dan
coklat berbaur padu mewarnai lanskap taman Yamashita. Rerumputan yang masih
tertidur terhampar luas di tengah-tengah taman. Pepohonan tanpa dedaunan
menambah aksen yang menentramkan pula menenangkan. Deretan bangku sukarela
berdiam diri agar dapat disinggahi untuk melepas lelah bagi siapapun mereka.
Lautan dan langit seakan menyatu pada garis cakrawala yang terlihat jelas tanpa
alang-alang. Performer menambah
suasana romantis dalam alunan dawai akustik dan vokalnya yang saling
melengkapi. Bercampur pula riuh rendah suara celoteh para pengunjung dengan
ketukan kaki anak-anak kecil yang berlari di atas rumput.
Wino memelankan langkahnya. Menikmati
pemandangan yang jarang, bahkan tak bisa ia temui di kota tempat tinggalnya. Ia
segera menuju pada bangku kosong, tepat di sebelah patung anak kecil bersepatu
merah. Seorang bapak paruh baya tersenyum kearahnya sebelum Wino duduk di
sebelahnya. Aktivitasnya di tempat ini selalu sama; menikmati dalam diam. Merasakan
pias air laut yang menghantam bibir pagar pembatas di wajahnya. Bercanda dengan
hilir mudik angin yang membuatnya meringis sekaligus tersenyum. Menikmati
keindahan lanskap yang selalu berubah seiring musim berganti. Ia menikmati hari
dengan seluruh panca inderanya. Ia pun melegakan lubang telinganya dari earphone dan menyampirnya di leher.
Wino menarik nafas panjang.
Memenuhi rongga di paru-parunya yang membesar dengan udara segar. Ia membuat
dirinya senyaman mungkin dalam duduk, lalu kembali menghela dalam-dalam
nafasnya dengan terpejam. Beberapa kali ia menikmati asupan udara segar
gratisan yang disediakan di taman tersebut. Selang berganti, relung nafasnya
ikut terisi dengan wangi familiar yang tidak mungkin akan tercium di tempat
ini. Wangi yang teramat ia hafal di luar hidung. Ia yakin, wangi ini bukan dari
bapak paruh baya di samping tempat ia duduk. Malahan, wangi orangtua itu tidak
jauh berbeda dengan milik kakeknya; bebauan yang tak terdefinisikan. Namun
jelas bukan itu. Wewangian ini pernah menggema di hari-harinya beberapa tahun
yang lalu. Harum yang membangunkannya walau ada jarak yang memisah. Alasannya
membentuk mimpi-mimpi malam pada ambang merindunya esok hari.
Belum lagi otaknya berhasil menemukan
penjelasan dari aroma tersebut, telinganya berdengung. Pendengarannya tuli akan
suara deburan ombak. Teriakan camar laut pun seakan sirna. Apalagi penyanyi di
sudut taman sana. Yang terdengar hanya suara itu. Suara yang seringkali halus
dan terkadang bergetar karena manja dan rajukannya. Suara dengan notasi yang
sama setiap kali namanya dipanggil. Dan kali ini, namanya beriak dalam udara
Yokohama. Bukan jenis bass seperti suara Adit. Ia berani bertaruh, nada ini
hanya dihasilkan dari pita suara wanita.
Pikirannya masih mengolah
hipotesis dari data fakta yang ada, mencari dalam empat arah mata angin. Saat
matanya yang kebas dengan sinar lembayung senja, melihat guratan sosok yang tampak
asing. Seorang gadis berambut ikal dengan mata bulat. Wino ragu akan warna
matanya dari jarak ini. Rambutnya dikuncir setengah pada bagian belakang.
Sisanya menari bersama angin dan langkah kakinya. Gadis itu semakin dekat.
Pendengaran Wino perlahan kembali
menyesuaikan suara sekitar. Samar terdengar. Entah apa rencana Tuhan hari ini. Penyanyi
jalanan itu membuai telak Wino dengan alunan lagu One Ok Rock – Last Dance-nya,
pada skenario yang tak pernah ia siapkan untuk detik ini.
It started out as any other story
Then the words began to fade away
Oh, your smile used to make me smile
But lately I don't feel that way
Try to
remember what brought us together
And to forget what's driven us apart
You
know we can't wait here forever
Just making time, and going nowhere
Jarak antara Wino dan gadis itu
semakin terpangkas cepat. Gadis itu tersenyum. Wino berganti mengerutkan
dahinya. Bertanya dalam hati. Tangan kiri gadis kecil itu menggenggam erat
tangan kanan seorang wanita dewasa yang berbalut coat hitam selutut dengan syal abu-abu yang menutupi leher putihnya
yang jenjang. Bibir tipisnya teroles lipstik berwarna senada dengan bibir
aslinya. Melengkung indah bagai bulat sabit. Mata bulatnya coklat seperti warna
yang pernah ia kenali.
Wino sudah sepenuhnya menyadari.
Hanya saja, ada bagian dirinya yang menolak untuk menyadari penglihatan di
depannya. Mencoba membuka tirai usang itu lebih lebar lagi guna menyikapi antara
memori kenangan dan visual nyata. Hitungan detik kemudian, dua wanita itu sudah
berdiri di depannya. Hanya udara tipis hilir mudik yang membatasi mereka kini. Sedari
tadi, otaknya sudah berkali-kali mengirimkan sinyal untuk beranjak, namun tak
dihiraukan oleh tubuhnya yang masih saja melekat pada kursi taman. Lututnya terlanjur
lemas.
Bibir itu mulai bergerak. “Hey, o
genki desu ka?*” sapanya dengan suara yang amat Wino kenali. Di kedalaman bola matanya tak nampak pernah terjadi apa-apa.
“...”
“...”
Dadanya bergemuruh. Bagai langit
hitam yang murka dalam badai. Jantungnya meronta, seakan hendak mendobrak paksa
untuk keluar. Keringat dinginnya turun dari pori-pori tubuhnya yang terbuka
lebar. Bibirnya kelu, pucat, begitu pula wajahnya. Jangan mendekat lagi! Engkaulah luka dalam yang tak pernah sembuh itu, Putri, teriaknya
rintih dalam hati.
Earphone yang menggantung di lehernya berbisik dengan suara Tulus.
Yang berubah hanya tak lagi ku milikmu
Kau masih bisa melihatku
Kau
harus percaya ku tetap teman baikmu.
Tamat
sebelumnya [7]
*Hey, apa kabar?
Mei 2016
Tags:
Short Story
1 comments
:o
ReplyDeletetamat..