Cinta Tak Pernah Membenci Pertemuan [8]



...
Deburan ombak bersuara kian jelas. Burung camar terbang seakan langit adalah kerajaannya. Warna biru dan coklat berbaur padu mewarnai lanskap taman Yamashita. Rerumputan yang masih tertidur terhampar luas di tengah-tengah taman. Pepohonan tanpa dedaunan menambah aksen yang menentramkan pula menenangkan. Deretan bangku sukarela berdiam diri agar dapat disinggahi untuk melepas lelah bagi siapapun mereka. Lautan dan langit seakan menyatu pada garis cakrawala yang terlihat jelas tanpa alang-alang. Performer menambah suasana romantis dalam alunan dawai akustik dan vokalnya yang saling melengkapi. Bercampur pula riuh rendah suara celoteh para pengunjung dengan ketukan kaki anak-anak kecil yang berlari di atas rumput.

Wino memelankan langkahnya. Menikmati pemandangan yang jarang, bahkan tak bisa ia temui di kota tempat tinggalnya. Ia segera menuju pada bangku kosong, tepat di sebelah patung anak kecil bersepatu merah. Seorang bapak paruh baya tersenyum kearahnya sebelum Wino duduk di sebelahnya. Aktivitasnya di tempat ini selalu sama; menikmati dalam diam. Merasakan pias air laut yang menghantam bibir pagar pembatas di wajahnya. Bercanda dengan hilir mudik angin yang membuatnya meringis sekaligus tersenyum. Menikmati keindahan lanskap yang selalu berubah seiring musim berganti. Ia menikmati hari dengan seluruh panca inderanya. Ia pun melegakan lubang telinganya dari earphone dan menyampirnya di leher.

Wino menarik nafas panjang. Memenuhi rongga di paru-parunya yang membesar dengan udara segar. Ia membuat dirinya senyaman mungkin dalam duduk, lalu kembali menghela dalam-dalam nafasnya dengan terpejam. Beberapa kali ia menikmati asupan udara segar gratisan yang disediakan di taman tersebut. Selang berganti, relung nafasnya ikut terisi dengan wangi familiar yang tidak mungkin akan tercium di tempat ini. Wangi yang teramat ia hafal di luar hidung. Ia yakin, wangi ini bukan dari bapak paruh baya di samping tempat ia duduk. Malahan, wangi orangtua itu tidak jauh berbeda dengan milik kakeknya; bebauan yang tak terdefinisikan. Namun jelas bukan itu. Wewangian ini pernah menggema di hari-harinya beberapa tahun yang lalu. Harum yang membangunkannya walau ada jarak yang memisah. Alasannya membentuk mimpi-mimpi malam pada ambang merindunya esok hari.

Belum lagi otaknya berhasil menemukan penjelasan dari aroma tersebut, telinganya berdengung. Pendengarannya tuli akan suara deburan ombak. Teriakan camar laut pun seakan sirna. Apalagi penyanyi di sudut taman sana. Yang terdengar hanya suara itu. Suara yang seringkali halus dan terkadang bergetar karena manja dan rajukannya. Suara dengan notasi yang sama setiap kali namanya dipanggil. Dan kali ini, namanya beriak dalam udara Yokohama. Bukan jenis bass seperti suara Adit. Ia berani bertaruh, nada ini hanya dihasilkan dari pita suara wanita.

Pikirannya masih mengolah hipotesis dari data fakta yang ada, mencari dalam empat arah mata angin. Saat matanya yang kebas dengan sinar lembayung senja, melihat guratan sosok yang tampak asing. Seorang gadis berambut ikal dengan mata bulat. Wino ragu akan warna matanya dari jarak ini. Rambutnya dikuncir setengah pada bagian belakang. Sisanya menari bersama angin dan langkah kakinya. Gadis itu semakin dekat.

Pendengaran Wino perlahan kembali menyesuaikan suara sekitar. Samar terdengar. Entah apa rencana Tuhan hari ini. Penyanyi jalanan itu membuai telak Wino dengan alunan lagu One Ok Rock – Last Dance-nya, pada skenario yang tak pernah ia siapkan untuk detik ini.

It started out as any other story
Then the words began to fade away
Oh, your smile used to make me smile
But lately I don't feel that way
Try to remember what brought us together
And to forget what's driven us apart
You know we can't wait here forever
Just making time, and going nowhere

Jarak antara Wino dan gadis itu semakin terpangkas cepat. Gadis itu tersenyum. Wino berganti mengerutkan dahinya. Bertanya dalam hati. Tangan kiri gadis kecil itu menggenggam erat tangan kanan seorang wanita dewasa yang berbalut coat hitam selutut dengan syal abu-abu yang menutupi leher putihnya yang jenjang. Bibir tipisnya teroles lipstik berwarna senada dengan bibir aslinya. Melengkung indah bagai bulat sabit. Mata bulatnya coklat seperti warna yang pernah ia kenali.

Wino sudah sepenuhnya menyadari. Hanya saja, ada bagian dirinya yang menolak untuk menyadari penglihatan di depannya. Mencoba membuka tirai usang itu lebih lebar lagi guna menyikapi antara memori kenangan dan visual nyata. Hitungan detik kemudian, dua wanita itu sudah berdiri di depannya. Hanya udara tipis hilir mudik yang membatasi mereka kini. Sedari tadi, otaknya sudah berkali-kali mengirimkan sinyal untuk beranjak, namun tak dihiraukan oleh tubuhnya yang masih saja melekat pada kursi taman. Lututnya terlanjur lemas.

Bibir itu mulai bergerak. “Hey, o genki desu ka?*” sapanya dengan suara yang amat Wino kenali. Di kedalaman bola matanya tak nampak pernah terjadi apa-apa.

“...”
“...”

Dadanya bergemuruh. Bagai langit hitam yang murka dalam badai. Jantungnya meronta, seakan hendak mendobrak paksa untuk keluar. Keringat dinginnya turun dari pori-pori tubuhnya yang terbuka lebar. Bibirnya kelu, pucat, begitu pula wajahnya. Jangan mendekat lagi! Engkaulah luka dalam yang tak pernah sembuh itu, Putri, teriaknya rintih dalam hati.

Earphone yang menggantung di lehernya berbisik dengan suara Tulus.

Yang berubah hanya tak lagi ku milikmu
Kau masih bisa melihatku
Kau harus percaya ku tetap teman baikmu.




Tamat

sebelumnya [7]

*Hey, apa kabar?

Mei 2016

Share:

1 comments