Suatu hari, aku akan bersamamu
Mungkin kini, kita bagai mercusuar dan kapal besar,
saling melintasi,
saling melihat,
saling menyapa, yang hanya sekedarnya itu
Kita, bisa saja, hanya bocah ingusan yang belum tahu apa-apa; akan
masa depan, akan kemauan, akan pilihan, bahkan terhadap arti kehidupan baru.
Kita pernah bertemu. Walau tak
lama dalam bilangan waktu.
Sejak tangan itu hanya sebesar ibu jari ini. Sejak kita
saling bercengkrama dengan bahasa yang berbeda, dengan bahasa alienmu, dan aku
dengan bahasaku sendiri.
“Jika di negara-negara subtropis
sana memiliki empat musim yang berbeda setiap tahunnya, Indonesia justru
memiliki tiga musim; musim kemarau, musim hujan, dan musim mudik.”
 |
| Macet |
...
Deburan ombak bersuara kian
jelas. Burung camar terbang seakan langit adalah kerajaannya. Warna biru dan
coklat berbaur padu mewarnai lanskap taman Yamashita. Rerumputan yang masih
tertidur terhampar luas di tengah-tengah taman. Pepohonan tanpa dedaunan
menambah aksen yang menentramkan pula menenangkan. Deretan bangku sukarela
berdiam diri agar dapat disinggahi untuk melepas lelah bagi siapapun mereka.
Lautan dan langit seakan menyatu pada garis cakrawala yang terlihat jelas tanpa
alang-alang. Performer menambah
suasana romantis dalam alunan dawai akustik dan vokalnya yang saling
melengkapi. Bercampur pula riuh rendah suara celoteh para pengunjung dengan
ketukan kaki anak-anak kecil yang berlari di atas rumput.
...
Kakinya dibiarkan menggantung.
Bergerak mengayun maju mundur. Ia duduk di bangku tinggi di meja counter menghadap jendela berpemandangan
lalu lalang orang-orang berlatar taman dengan rumput yang masih berwarna
coklat. Tunas hijaunya masih menunggu waktu yang tepat untuk bermekaran. Sejenak
beristirahat dan menghangatkan tubuhnya di dalam konbini. Kedua tangannya memeluk gelas kertas. Uap panas menari
keluar dari bibir gelas. Wino mendekatkan gelasnya hingga berjarak beberapa
mili dari bibir. Meniupnya pelan. Sekedar mendinginkan permukaan minuman agar
lebih ramah saat masuk ke dalam mulutnya. Lalu meminumnya seruput demi seruput.
...
Kepalanya mulai terasa berat, tanpa
disadari. Langkah kakinya pun mulai terasa tak nyaman. Wino melirik penunjuk
waktu yang melingkar di tangan kanannya. “Pantas saja, udah waktunya gue makan
siang.” Ia menggerutu. Mengingatkan dirinya sendiri bahwa sudah lewat dua jam
dari waktu makannya.
...
Wangi laut merapat di udara.
Tercium tipis bau garam yang terikutserta. Aroma khas yang biasa terkuar oleh
kota pelabuhan. Desiran angin yang bersiul bersama deritan gerbong kereta,
mulai terdengar sayup. Tulisan stasiun Sakuragicho bernaung di atas kepala Wino
saat melangkah keluar. Ia menghirup nafas dalam beberapa kali sebelum memulai
langkahnya kembali. Berjalan dengan senyum yang terkembang selama
perjalanannya. Suasana ini yang membuat Wino terkesima. Suasana tenang yang
mengalir dalam kehidupan sosial masyarakat di dalamnya. Suasana yang sepertinya
sulit untuk ditemui jika berjalan di jalanan Ibukota Jakarta.
...
“Aaah... cerahnya,” ujarnya pelan. Matanya
menatap langit yang cerah tanpa cela. Ia merentangkan tangannya tinggi-tinggi
seraya menghirup dalam partikel oksigen pagi ini sebanyak-banyaknya. Kemudian
menyumpal kedua lubang telinganya dengan earphone,
dan mengarahkan telunjuknya pada tombol play
di layar ponsel. Alunan musik mulai terdengar. Suara nyanyian Chrisye seraya
mengawali langkah awal perjalanan hari ini.
...
Suhu udara kian menurun seiring pias
matahari yang juga cepat menghilang. Jejaknya menciptakan guratan gradasi
jingga dan ungu pekat. Hawa dingin semakin cepat mengusik. Tiga lapis pakaian
yang erat membungkus tubuh Wino cukup membuatnya hangat. Walau ada saja tingkah
nakal angin malam. Mencubit tubuhnya saat ada celah yang membuatnya dapat
menyelinap ke dalam.
...
Wino berdiri dari kursi tempat ia
duduk sejak pukul 8 tadi pagi. Menggerak-gerakan seluruh tubuhnya. Berharap
aliran darah di dalam tubuhnya kembali lancar mengalir agar dapat membawa raga
ini kembali pulang. Ternyata bukan kopi yang membuat rasa kantuknya lenyap,
berakhirnya kegiatanlah penyemangatnya. Ia kembali duduk dan menekan tombol shutdown di layar laptopnya.
...
Belasan pasang mata tertuju pada
seorang pria yang sedang berbicara di depan ruangan. Suara halus yang tetap
terdengar maskulin mengisi langit-langit. Tampak sedikit garis lelah pada lekuk
di bawah kantung matanya. Lelaki yang sedang memasuki fase forty-something dengan wajah tegas yang dihiasi dengan kumis tebal
ini terlihat menyeramkan. Tetapi di balik kumis tebalnya, pria bertubuh,
cenderung, kurus ini sangat ramah dan helpful
terhadap siapapun. Apalagi jika ada yang bertanya tentang kereta, maka dia akan
sanggup menjelaskan seluruh jenis kereta di negaranya ini selama berjam-jam. Kali
ini ia menyampaikan rangkaian kegiatan yang akan diselenggarakan untuk sisa
beberapa hari ke depan.
[prolog]
Warna biru tanpa cela terhampar
sempurna di langit awal bulan ketiga ini. Sinar mentari memancar sekuat tenaga.
Berambisi agar kehangatannya tak kalah dengan angin peralihan musim dingin dan
semi, yang masih menyisakan kristal es di setiap sapa alirannya. Setiap dahan
dan ranting di pepohonan menyibukkan diri dengan urusannya masing-masing. Menyempurnakan
persiapan setahun yang lalu demi festival tahun ini, di negara tempat mereka
tumbuh dan berkembang. Mereka sengaja mengorbankan ribuan helai dedaunan yang
menjadi mahkota tajuknya. Alasannya hanya satu. Menyemarakan euforia pada
tunas-tunas bunga kertas yang selalu menjadi anak emas. Menciptakannya menjadi
sesuatu yang sempurna karena umur-umur yang genjah.
Saya duduk di sebuah warung kayu
di pinggir jalan. Pemandangan di sekitarnya begitu memukau, walaupun bentuk
warung ini tak seberapa. Aroma kopi yang bercampur hawa pegunungan memikat
selera dan menggoda indera penciuman saya. Memberikan gairah tersendiri selepas
lelah. Getirnya seperti mewakili rasa kehidupan. Pahit, namun mampu membuka
mata lebih lebar. Sembari menikmati secangkir minuman hitam ini, saya
mendengarkan seorang rekanan ibu bercerita tentang tanah kelahirannya. “Orang sini
itu hidup untuk mati”, katanya disela-sela penuturannya. Lelaki berkulit sawo
matang itu menyeruput kopi hitamnya sejenak. Menu minuman yang sama dengan
pesanan saya. Perbincangan di warung kayu ini berlanjut bersama wangi khas
minuman hitam yang menggema di udara siang ini.
~~~
Layak nona
kecil lainnya
yang beranjak dari waktunya
yang belajar melihat dunia
Mungkinkah aku
berhenti di tengah perjalanan?
tanpa perlu ada sebuah kilah
 |
| Cahaya Fajar |
Pertengahan bulan agustus 2015 kemarin
saya sempat melakukan perjalanan antar propinsi, dari rumah saya di Propinsi
Banten menuju Jawa Barat. Persinggahan kali ini didasari setelah beberapa kali
melihat tujuan wisata ini pada program traveling
di televisi.
Gulita masih menyelimuti langit
pagi ini. Udara segar dan hawa dingin khas pegunungan pun masih “nakal”
menggelitik kulit dari luar jaket saya. Hanya beberapa orang yang terlihat saat
itu. Itu pun hanya beberapa tukang parkir dan tukang ojek saja. Selebihnya,
beberapa baris mobil yang sudah terparkir rapi tanpa pemiliknya yang tampak.
Terkadang rindu tak mengenal waktu
atau rupa
Ada rasa yang selama ini masih saja ku simpan
Entah rasa rindukah,
atau rasa yang tak akan pernah ada jawabannya
Ini bagai mimpi di tengah jam malam yang berdentang
Bukan menghantui,
hanya saja membuatku tetap terjaga
Terkadang rindu tak mengenal waktu
atau mungkin, hanya aku yang menyebutnya rindu
Perasaan yang pernah ada; tak menapik bahwa itu bisa saja masih ada
Aku tak menyembunyikannya
Hanya saja, ini tidak seharusnya tetap melekat
 |
| Osaka Castle dan Gokurakubashi Bridge |
Atap Hijau di Antara Langit
Kelabu
Gerimis kembali menemani langkah
perjalanan pagi ini. Perjalanan lintas kota pada hari kemarin tak menyurutkan
saya untuk meninggalkan beberapa jejak lagi di kota Takoyaki ini. Saya tiba di
stasiun Temmabashi yang ditempuh dengan kereta sekitar 20 menit dari stasiun
Shin-Osaka, berlanjut menyusuri sisi jalan raya sejauh kurang lebih 400 meter, tibalah
saya di komplek istana dengan parit besar yang memisahkan bagian luar istana
dengan tembok pertahanan yang tinggi dan tebal. Secara tatanan arsitektur,
bangunan ini serupa dengan beberapa benteng peninggalan Belanda di Indonesia,
hanya saja, ukurannya jauh lebih besar.