Borobudur: Usia yang Tak Lagi Muda

Permintaan untuk melakukan perjalanan dari dua orang teman berkebangsaan Jepang membuat saya datang kembali di kota Gudeg pada bulan Mei tahun lalu. Ditemani oleh seorang dosen IPB, tibalah kami di stasiun Tugu, Yogyakarta.

Salah satu objek wisata yang kami rencanakan untuk kami datangi selama berada di kota ini adalah Candi Borobudur.

Berjarak sekitar 40 km dari kota Jogja, berdirilah bangunan megah yang diakui oleh UNESCO sebagai World Heritage sejak tahun 1991. Kunjungan kami diawali dari loket khusus foreign. Bagi turis domestik hanya dikenakan biaya sebesar Rp 30.000, sedangkan bagi turis asing sebesar Rp 135.000. Kami juga menyewa pemandu agar kami dapat lebih mengenal candi terbesar peninggalan abad ke-9 ini.

Beberapa tahun lalu kedatangan saya ke tempat ini, pengunjung tidak diharuskan memakai kain berwarna hitam putih selama berada di kompleks candi, namun kali ini, seluruh pengunjung diwajibkan untuk memakainya sebagai lambang penghormatan karena memasuki area ibadah umat budha. Begitu pula dengan rerumputan di komplek candi yang kian menghijau sejak kedatangan saya terakhir kalinya.

Penjelasan dimulai, dengan menggunakan bahasa jepang, guide kami (namanya saya lupa) menerangkan awal mula Borobudur ini ditemukan. ~~ Apa saya mengerti bahasa jepang? Jelas... TIDAK (><') ~~
Sebelum kami beranjak mendekati candi, ia menjelaskan bentuk borobudur yang dilihat secara aerial kepada kami (lebih tepatnya kepada dua orang teman saya... hiks). Ia menggambar bentuk borobudur di atas hamparan pasir dan membentuknya menyerupai bunga teratai yang melambangkan alas duduk singgasana Sang Budha. Selanjutnya ia menjelaskan bahwa borobudur merupakan punden berundak yang memiliki 6 pelataran berbentuk bujur sangkar, 3 pelataran berbentuk lingkaran, dan sebuah stupa utama di puncaknya. Di dalamnya terdapat 1.296 relief yang dapat kita lihat dan 160 relief yang masih tertutup. Relief sebanyak 160 panel yang masih tertutup ini berada di bagian kaki dari candi. Bagian yang tertutup ini sengaja ditutup karena pondasi candi yang labil, sehingga jika bagian ini dibuka, dikhawatirkan akan mempengaruhi struktur dari candi budha tertua di dunia tersebut.

Menurut penuturan sang guide, pembangunan candi borobudur berbeda dari pembangunan konvensional lainnya. Pembangunan suatu bangunan biasa dilakukan secara vertikal dari pembuatan pondasi hingga atap sebagai puncak bangunan. Namun tidak bagi candi yang satu ini. Pembangunan candi yang memakan waktu hingga setengah abad ini dilakukan dari atas ke bawah. Pembangunan dilakukan pada sebuah bukit, selanjutnya batu disusun sedemikian rupa dari bagian Arupadhatu, Rupadhatu, hingga Kamadhatu sebagai dasarnya atau bagian paling bawah. Borobudur ini juga bukan bangunan masif karena tumpukan batu hanya menjadi bagian luar atau kulit dari bukit yang berada di dalamnya.

Penjelasan beralih seraya kami melewati beberapa anak tangga candi tersebut. Pada masanya, Empu Gunadarma yang berjasa sebagai arsitek, belum menemukan pipa-pipa sebagai sistem drainase. Ia membuat beberapa titik drainase di sudut-sudut bangunan dengan menggunakan pahatan batu yang berbentuk seperti pancuran. Sehingga saat air mengalir dari lubang-lubang tersebut akan tercipta aliran bagai pancuran dari sudut-sudut candi.  

Saluran Drainase
Arca Budha (Barat)
Guide juga menunjukkan bahwa terdapat arca budha yang mengarah ke masing-masing arah mata angin. Secara sepintas, bentuk semua arca berbentuk sama. Namun, posisi sikap tangan membedakan semua arca tersebut. Masing-masing arah memberikan arti tersendiri dengan posisi sikap tangan yang berbeda pula.

Setibanya di puncak, sebagaimana kepercayaan yang dianut oleh kedua teman saya, mereka memutari Stupa Utama sebanyak 3 kali searah dengan jarum jam.

Sekali lagi, kami (khususnya saya) mendapat pengetahuan baru tentang arsitektural megah ini. Menutup pertemuan hari itu, sang guide menjelaskan bahwa borobudur merupakan bangunan tua yang telah berumur ratusan tahun dan tulisan "Dilarang Memanjat/No Climbing", selain "Dilarang Corat-coret/No Scratching", diletakkan di sekitar candi bukan tanpa alasan. Keberadaan candi yang berada di atas bukit sebagai tanah dasar/base, menjadikannya rentan terhadap pergeseran. Kebiasaan kita yang terbiasa memanjat atau bersandar pada stupa, lambat laun akan mengalami pergeseran pada posisinya semula. Hal ini disebabkan karena secara tidak langsung, berat tubuh kita akan mendorong posisi stupa saat kita bersandar di atasnya, ditambah kondisi tanah yang mulai labil. Mungkin saja efeknya tidak langsung terlihat jika hanya seorang yang melakukan tapi coba bayangkan ratusan pengunjung yang datang setiap harinya.
Bisa jadi hanya karena kelakuan "memanjat" atau "menyandar" pada bagian candi, yang kita anggap biasa saja, kita telah menjadi salah satu tersangka rusaknya warisan sejarah yang pernah masuk ke dalam "7 Keajaiban Dunia" ini.
Sebuah keajaiban arsitektural yang berdiri megahnya di hamparan lanskap nan menawan ini tercipta dari jutaan peluh yang jatuh membasahi tanah, ratusan kulit yang terbakar di bawah terik matahari, dan pemikiran yang menyiksa selama berbulan-bulan. Sudah sepatutnya juga kita menjaga sejarah yang membesarkan bangsa walaupun hanya dengan menikmatinya sebagaimana aslinya.

Share:

1 comments

  1. bahkan mulut saluran drainasenya dipahat juga..
    btw... jangan2 sikap tangan itu merupakan jurus ninja... #narutomodeon :p

    ReplyDelete