 |
| Jaws, Amity Village |
Selanjutnya kami menuju kawasan tetangga sebelah, Amity Village. Area ini dibangun dengan setting film thriller yang bercerita tentang raja lautan yang menyerang warga desa saat berenang dan berselancar. Bagi anda penggemar film ini, pasti dapat mengetahuinya dengan mudah. Ya, Jaws. Bagian depan kawasan, yang juga menjadi hotspot untuk berfoto, terpampang sang teror laut dengan panjang tubuh sekitar 5-6 meter yang digantung pada tiang gantung.
Saat mengantri, pengunjung diperkenalkan tentang desa Aminity melalui beberapa layar televisi yang tersedia. Gubernur, Miss Amity, bahkan beberapa warga mempromosikan desa mereka dengan keindahan lanskap daratannya dan pesisir serta lautannya. Mereka mengatakan bahwa desa ini adalah kawasan yang aman dan tentram bagi siapa pun, namun ada hal yang tidak diketahui oleh pemerintah dan para warga atas ancaman yang mengintai mereka. Inilah awal dari cerita yang nantinya akan dilanjutkan saat saya diajak mengarungi wahana tersebut.
Menggunakan perahu berkapasitas sekitar 30 penumpang, petualangan saya dan keluarga serta pengunjung lainnya pun dimulai. Pemandu yang sekaligus berperan sebagai nahkoda kapal memulai tugasnya guna membangun chemistry alur cerita dengan para pengunjung. Seperti yang saya sebutkan diawal, pemandu juga menyebutkan jaminan aman bagi para pendatang ke desanya. Namun, beberapa saat perjalanan berlangsung, ia mendadak tegang seraya melihat-lihat ke arah permukaan air. Ternyata sang pemandu diberitahu oleh awak darat untuk berhati-hati akan adanya ancaman hiu raksasa ini. Suasana kian menegang karena pengunjung menerka-nerka kemunculan hiu tersebut, hingga akhirnya mereka dapat melihatnya muncul dengan tiba-tiba. Hingga akhir kematian sang pemangsa lautan akibat sengatan listrik.
Sekiranya, wahana yang berkaitan dengan air akan membuat basah pengunjung, begitu pula dengan wahana yang satu ini. Sebaiknya siapkan diri anda dengan jas hujan serta simpan terlebih dahulu kamera anda atau gadget lainnya.
Posisi yang terbaik menurut saya adalah di sisi sebelah kiri perahu, karena Jaw akan muncul sangat dekat pada posisi ini beberapa kali, namun... posisi ini juga yang akan banyak terkena dampak cipratan air. Satu lagi peringatan yang mungkin berguna bagi anda yang membawa serta anak-anak anda. Batasan umur bagi pengunjung sepertinya tidak ada, tapi pastikan anak-anak anda TIDAK MUDAH TERKEJUT saat menaiki wahana ini.
Pasalnya, tepat di belakang saya, ada dua orang ibu yang membawa serta seorang anaknya masing-masing. Si ibu well prepare dengan memakaikan anaknya dengan topi dan jas hujan guna menghindari basah. Tapi ada yang luput, bahwa mereka tidak bisa menghindari beberapa kejutan untuk anak-anak mereka. Saya saja hampir lupa antara harus teriak atau tertawa saat ada adegan yang mengejutkan, karena saat adegan tersebut, saya melihat muka sang anak yang tegang. Matanya membulat besar, mulutnya tertutup rapat, urat di mukanya mengencang, bahkan badannya pun tegap dengan tangan yang mengepal erat. Kasihan, melihat mereka begitu tegang, sekaligus lucu juga melihat polah mereka yang menggemaskan. Hahahaha, sungguh, hiburan di dalam hiburan xD. Yaaa, manusia diciptakan dengan sifat yang berbeda-beda, begitu pula ekspresi yang mereka ciptakan saat terkejut, terlepas dari rentang umur yang ada ^^.
 |
| Backdraft |
Lanjut menuju wahana berikutnya, saya berhenti di depan sebuah bangunan berbentuk kantor pemadam kebakaran, khas dengan pintu besar berwarna merah. Di atas pintu masuk terdapat tulisan Backdraft. Wahana ini memperlihatkan simulasi tentang kebakaran dan situasi di dalamnya berdasarkan film tersebut. Efek suara, tata cahaya, permainan api, suasana, dan detail yang ditampilkan sangat menakjubkan. Saya seakan benar-benar ikut serta dalam bencana tersebut. Merasakan ketegangan dalam gelap yang memenuhi ruangan, semburan api yang memanaskan kulit, dentuman sound effect yang menggetarkan hati, dan ketegangan lainnya. Wahana ini menampilkan beberapa scene yang terbagi dalam beberapa ruangan yang berbeda.
Perjalanan melintasi dimensi waktu menjadi pilihan petualangan kali ini. Siapa yang tidak kenal dengan ilmuwan berambut putih yang terobsesi untuk melakukan perjalanan melintasi waktu dengan mobil silvernya? Tentu bagi penggemar film sci-fic ini kenal dengan Emmett “Doc” Brown dalam film Back to The Future. Diaplikasi berdasarkan film tersebut, petualangan kali ini adalah petualangan yang paling menakjubkan bagi saya. Pantai, gunung, ombak di tengah lautan, hutan belantara, dan tempat petualangan lainnya pun seakan sirna jika dibandingkan dengan petualangan ini. Pengunjung yang mengantri dibagi ke dalam beberapa kelompok. Masing-masing kelompok terbagi atas delapan pengunjung. Kelompok pengunjung ini dipisahkan dalam beberapa bilik atau ruangan kecil yang nantinya akan terhubung dengan garasi dimana mobil sport DeLorean menjadi tumpangan kami. Sepasang suami istri jepang bergabung dalam kelompok kami dalam wahana ini.
 |
| DeLorean, Back to The Future |
Wahana ini merupakan wahana 4D dengan sistem simulator, yang berarti pengunjung diajak bermanuver ke segala penjuru arah sesuai dengan cerita yang ditampilkan pada layar. Tak ayal, pengunjung pun dibuat mengeluarkan suaranya, berupa teriakan, selama permainan. Pada akhir permainan, kakak saya berkata kepada kami bahwa pasutri paruh baya tersebut sepertinya terganggu dan berkata “berisik” dalam bahasa jepang, saat kami sedang hanyut dalam petualangan tersebut dengan suara-suara yang keluar dari tenggorokan kami. Namanya juga permainan adrenalin, kalau memang ingin sepi mah tidur di rumah saja. Duuh~~ ada saja protesnya --‘.
Link:
Universal Studio Japan http://www.usj.co.jp/e/