Layak nona
kecil lainnya
yang beranjak dari waktunya
yang belajar melihat dunia
Mungkinkah aku
berhenti di tengah perjalanan?
tanpa perlu ada sebuah kilah
 |
| Cahaya Fajar |
Pertengahan bulan agustus 2015 kemarin
saya sempat melakukan perjalanan antar propinsi, dari rumah saya di Propinsi
Banten menuju Jawa Barat. Persinggahan kali ini didasari setelah beberapa kali
melihat tujuan wisata ini pada program traveling
di televisi.
Gulita masih menyelimuti langit
pagi ini. Udara segar dan hawa dingin khas pegunungan pun masih “nakal”
menggelitik kulit dari luar jaket saya. Hanya beberapa orang yang terlihat saat
itu. Itu pun hanya beberapa tukang parkir dan tukang ojek saja. Selebihnya,
beberapa baris mobil yang sudah terparkir rapi tanpa pemiliknya yang tampak.
Terkadang rindu tak mengenal waktu
atau rupa
Ada rasa yang selama ini masih saja ku simpan
Entah rasa rindukah,
atau rasa yang tak akan pernah ada jawabannya
Ini bagai mimpi di tengah jam malam yang berdentang
Bukan menghantui,
hanya saja membuatku tetap terjaga
Terkadang rindu tak mengenal waktu
atau mungkin, hanya aku yang menyebutnya rindu
Perasaan yang pernah ada; tak menapik bahwa itu bisa saja masih ada
Aku tak menyembunyikannya
Hanya saja, ini tidak seharusnya tetap melekat
 |
| Osaka Castle dan Gokurakubashi Bridge |
Atap Hijau di Antara Langit
Kelabu
Gerimis kembali menemani langkah
perjalanan pagi ini. Perjalanan lintas kota pada hari kemarin tak menyurutkan
saya untuk meninggalkan beberapa jejak lagi di kota Takoyaki ini. Saya tiba di
stasiun Temmabashi yang ditempuh dengan kereta sekitar 20 menit dari stasiun
Shin-Osaka, berlanjut menyusuri sisi jalan raya sejauh kurang lebih 400 meter, tibalah
saya di komplek istana dengan parit besar yang memisahkan bagian luar istana
dengan tembok pertahanan yang tinggi dan tebal. Secara tatanan arsitektur,
bangunan ini serupa dengan beberapa benteng peninggalan Belanda di Indonesia,
hanya saja, ukurannya jauh lebih besar.