Chiisai Note

Some people feel the rain. Others just get wet - Bob Marley

Homade Open Sandwich

Bermula dari iseng saat perut lapar karena waktu makan malam tiba, namun sedang enggan untuk mengkonsumsi nasi. Lebih tepatnya sih karena tidak ada lauk apa-apa, selain nasi itu sendiri (yaa salaam). Naluri omnivora saya pun keluar. Saya bergegas masuk dapur. Menghadap sang kulkas, lalu menginspeksi bagian dalamnya. Di dalamnya kosong dan hampa, hampir sepertiii... aaargh saya malah membuka pintu masa lalu, oh nooOO...!!! Kulkas! Kulkas! Mana kulkas? (buru-buru nyari kulkas yang beneran kulkas).
Suasana jalanan di Kyoto

Jam di tangan sudah menunjukan waktunya makan siang. Rasanya hari ini waktu berlalu begitu cepat, namun saya baru mendapati dua objek wisata untuk didatangi. Begitu keluar dari wilayah Ryoan-ji, kami segera mencari tempat makan guna menghilangkan pening di kepala dan menenangkan gerombolan pemain tanjidor di perut kami. Restoran sushi 100 yen-an jadi pilihan makan siang kami kala itu. Demi mempertahankan stamina selama perjalanan ini, saya memesan semangkuk udon selain beberapa piring sushi yang sudah mulai menumpuk di depan saya. Segelas es cappucino pun menjadi minuman penutup santap siang saya.
Kyoto Sky, Japan

Pagi hari ke-enam di negeri Bushido pun datang. Matahari menyapa penuh malu dari balik arak-arakan awan. Hari ini awan cukup mendominasi isi langit. Sepertinya kelanjutan dari hujan yang sempat mengguyur tanah barat Jepang malam lalu. Hanya menghabiskan waktu sekitar setengah jam perjalanan hingga sampai di stasiun Kyoto, menggunakan kereta JR Tokaido/Sanyo Main Line, tibalah saya di kota yang sempat menjadi Ibukota Jepang hingga tahun 1860-an. Di kota ini, mentari mengambilalih kembali tugasnya di atas sana.
Spiderman

Masuk ke dalam kawasan New York, kami memilih permainan Spiderman dan Terminator 2. Wahana Spiderman ini serupa dengan Harry Potter, yang membedakan adalah kendaraannya. Kendaraan yang saya gunakan berbentuk menyerupai mobil dengan kapasitas sekitar 20 pemain. Bergerak di atas track, pengunjung diajak mengikuti alur perkelahian yang terjadi antara Spidey dengan beberapa musuh yang berkoalisi untuk menghancurkan kota. Jika anda pernah menaiki Transformers di Universal Studio Singapore, kurang lebih hampir sama dengan Spiderman tersebut. Saya menikmati permainan itu.
Jaws, Amity Village

Selanjutnya kami menuju kawasan tetangga sebelah, Amity Village. Area ini dibangun dengan setting film thriller yang bercerita tentang raja lautan yang menyerang warga desa saat berenang dan berselancar. Bagi anda penggemar film ini, pasti dapat mengetahuinya dengan mudah. Ya, Jaws. Bagian depan kawasan, yang juga menjadi hotspot untuk berfoto, terpampang sang teror laut dengan panjang tubuh sekitar 5-6 meter yang digantung pada tiang gantung.

Saat mengantri, pengunjung diperkenalkan tentang desa Aminity melalui beberapa layar televisi yang tersedia. Gubernur, Miss Amity, bahkan beberapa warga mempromosikan desa mereka dengan keindahan lanskap daratannya dan pesisir serta lautannya. Mereka mengatakan bahwa desa ini adalah kawasan yang aman dan tentram bagi siapa pun, namun ada hal yang tidak diketahui oleh pemerintah dan para warga atas ancaman yang mengintai mereka. Inilah awal dari cerita yang nantinya akan dilanjutkan saat saya diajak mengarungi wahana tersebut.

Menggunakan perahu berkapasitas sekitar 30 penumpang, petualangan saya dan keluarga serta pengunjung lainnya pun dimulai. Pemandu yang sekaligus berperan sebagai nahkoda kapal memulai tugasnya guna membangun chemistry alur cerita dengan para pengunjung. Seperti yang saya sebutkan diawal, pemandu juga menyebutkan jaminan aman bagi para pendatang ke desanya. Namun, beberapa saat perjalanan berlangsung, ia mendadak tegang seraya melihat-lihat ke arah permukaan air. Ternyata sang pemandu diberitahu oleh awak darat untuk berhati-hati akan adanya ancaman hiu raksasa ini. Suasana kian menegang karena pengunjung menerka-nerka kemunculan hiu tersebut, hingga akhirnya mereka dapat melihatnya muncul dengan tiba-tiba. Hingga akhir kematian sang pemangsa lautan akibat sengatan listrik.

Sekiranya, wahana yang berkaitan dengan air akan membuat basah pengunjung, begitu pula dengan wahana yang satu ini. Sebaiknya siapkan diri anda dengan jas hujan serta simpan terlebih dahulu kamera anda atau gadget lainnya.

Posisi yang terbaik menurut saya adalah di sisi sebelah kiri perahu, karena Jaw akan muncul sangat dekat pada posisi ini beberapa kali, namun... posisi ini juga yang akan banyak terkena dampak cipratan air. Satu lagi peringatan yang mungkin berguna bagi anda yang membawa serta anak-anak anda. Batasan umur bagi pengunjung sepertinya tidak ada, tapi pastikan anak-anak anda TIDAK MUDAH TERKEJUT saat menaiki wahana ini.

Pasalnya, tepat di belakang saya, ada dua orang ibu yang membawa serta seorang anaknya masing-masing. Si ibu well prepare dengan memakaikan anaknya dengan topi dan jas hujan guna menghindari basah. Tapi ada yang luput, bahwa mereka tidak bisa menghindari beberapa kejutan untuk anak-anak mereka. Saya saja hampir lupa antara harus teriak atau tertawa saat ada adegan yang mengejutkan, karena saat adegan tersebut, saya melihat muka sang anak yang tegang. Matanya membulat besar, mulutnya tertutup rapat, urat di mukanya mengencang, bahkan badannya pun tegap dengan tangan yang mengepal erat. Kasihan, melihat mereka begitu tegang, sekaligus lucu juga melihat polah mereka yang menggemaskan. Hahahaha, sungguh, hiburan di dalam hiburan xD. Yaaa, manusia diciptakan dengan sifat yang berbeda-beda, begitu pula ekspresi yang mereka ciptakan saat terkejut, terlepas dari rentang umur yang ada ^^.

Backdraft
Lanjut menuju wahana berikutnya, saya berhenti di depan sebuah bangunan berbentuk kantor pemadam kebakaran, khas dengan pintu besar berwarna merah. Di atas pintu masuk terdapat tulisan Backdraft. Wahana ini memperlihatkan simulasi tentang kebakaran dan situasi di dalamnya berdasarkan film tersebut. Efek suara, tata cahaya, permainan api, suasana, dan detail yang ditampilkan sangat menakjubkan. Saya seakan benar-benar ikut serta dalam bencana tersebut. Merasakan ketegangan dalam gelap yang memenuhi ruangan, semburan api yang memanaskan kulit, dentuman sound effect yang menggetarkan hati, dan ketegangan lainnya. Wahana ini menampilkan beberapa scene yang terbagi dalam beberapa ruangan yang berbeda.

Perjalanan melintasi dimensi waktu menjadi pilihan petualangan kali ini. Siapa yang tidak kenal dengan ilmuwan berambut putih yang terobsesi untuk melakukan perjalanan melintasi waktu dengan mobil silvernya? Tentu bagi penggemar film sci-fic ini kenal dengan Emmett “Doc” Brown dalam film Back to The Future. Diaplikasi berdasarkan film tersebut, petualangan kali ini adalah petualangan yang paling menakjubkan bagi saya. Pantai, gunung, ombak di tengah lautan, hutan belantara, dan tempat petualangan lainnya pun seakan sirna jika dibandingkan dengan petualangan ini. Pengunjung yang mengantri dibagi ke dalam beberapa kelompok. Masing-masing kelompok terbagi atas delapan pengunjung. Kelompok pengunjung ini dipisahkan dalam beberapa bilik atau ruangan kecil yang nantinya akan terhubung dengan garasi dimana mobil sport DeLorean menjadi tumpangan kami. Sepasang suami istri jepang bergabung dalam kelompok kami dalam wahana ini.

DeLorean, Back to The Future

Wahana ini merupakan wahana 4D dengan sistem simulator, yang berarti pengunjung diajak bermanuver ke segala penjuru arah sesuai dengan cerita yang ditampilkan pada layar. Tak ayal, pengunjung pun dibuat mengeluarkan suaranya, berupa teriakan, selama permainan. Pada akhir permainan, kakak saya berkata kepada kami bahwa pasutri paruh baya tersebut sepertinya terganggu dan berkata “berisik” dalam bahasa jepang, saat kami sedang hanyut dalam petualangan tersebut dengan suara-suara yang keluar dari tenggorokan kami. Namanya juga permainan adrenalin, kalau memang ingin sepi mah tidur di rumah saja. Duuh~~ ada saja protesnya --‘.

Link:
Universal Studio Japan http://www.usj.co.jp/e/
Universal Studio Japan, Osaka

Tujuan perjalanan hari ini adalah tujuan utama selama saya berlibur di negara Nippon ini. Selepas menyiapkan bento sebagai bekal santap siang di tempat tujuan dan menyantap sarapan secara lahap dengan menu hotel yang sederhana, kami pun melangkah bersama angin pagi yang masih dingin menuju stasiun Shin-Osaka. Perjalanan memakan waktu selama 30 menit untuk sampai di stasiun Universal City. Lanjut berjalan sejauh beberapa ratus meter melalui Universal Citywalk Osaka, yang penuh dengan toko-toko merchandise Universal Studio, oleh-oleh Osaka, dan beberapa restoran, akhirnya saya melihat gerbang utama Universal Studio Japan.
Udara pagi diisi oleh sahutan takbir yang berkumandang. Sejuknya angin menambah syahdu pagi kala ini. Tuhan mengijinkan pusat tata surya menghangatkan embun yang terbang dengan perlahan. Menemani langkah-langkah kaki yang berarak menuju satu tujuan. Perpisahan dengan bulan Ramadhan menjadi awal hari ini. Bukan dengan kata selamat tinggal, namun doa untuk bertemu kembali yang mengudara memenuhi langit-Nya.
Shinkansen. Shin-Osaka, Osaka

Tokaido Shinkansen merupakan jalur penghubung antara Tokyo dengan Shin-Osaka menggunakan kereta cepat, Shinkansen. What? Shinkansen? Yap, hari ini saya akan bertolak menuju Osaka menggunakan kereta cepat yang sangat populer di Jepang. Itinerary kali ini, saya memasukan Osaka dan Kyoto sebagai bagian dalam perjalanan kami. Jadi tak melulu sekitar Tokyo saja, lumayan untuk menambahkan footprint saya di Jepang bagian barat tersebut. Pembelian tiket bullet train ini dibeli oleh kakak saya, beberapa hari sebelum kedatangan kami ke negara yang terkenal dengan sushi-nya. Perjalanan menuju stasiun Shin-Osaka, Osaka, ditempuh dengan jarak sejauh 515,4 km selama lebih kurang dua jam. Jarak tempuh ini hampir setara dengan perjalanan kereta Jakarta-Jogja/Solo, dengan waktu tempuh sekitar 8-10 jam.
Tokyo Station

Melewati sebelas stasiun dari stasiun Ichinoe, kereta ini membawa saya hingga tiba di Tokyo Station. Bangunan yang berfungsi sebagai tempat ribuan kereta melintas setiap harinya ini memiliki tiga lantai di dalamnya dengan desain arsitektur European Renaissance yang dibalut dengan bata merah sebagai fasadnya. Stasiun yang didatangi oleh sekitar 415.000 penumpang setiap harinya ini, resmi dibuka untuk umum pada tanggal 20 Desember 1914 setelah enam tahun masa perancangan dan pembangunan. Seperti layaknya Stasiun Jakarta Kota (Beos/Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschapij) yang menjadi landmark Jakarta di Indonesia, Central Station, sebutan lain untuk stasiun Tokyo, juga menjadi simbol arsitektur nasional selain fungsi utamanya sebagai fasilitas transportasi.
Newer Posts Older Posts Home

ABOUT AUTHOR

Follow us

POPULAR POSTS

  • Cinta Tak Pernah Membenci Pertemuan [8]
    ... Deburan ombak bersuara kian jelas. Burung camar terbang seakan langit adalah kerajaannya. Warna biru dan coklat berbaur padu mewa...
  • Tana Toraja: Wisata Spooky di Utara Makassar
    Saya duduk di sebuah warung kayu di pinggir jalan. Pemandangan di sekitarnya begitu memukau, walaupun bentuk warung ini tak seberapa. Ar...
  • Cinta Tak Pernah Membenci Pertemuan
    [prolog] Warna biru tanpa cela terhampar sempurna di langit awal bulan ketiga ini. Sinar mentari memancar sekuat tenaga. Berambisi aga...
  • Kendaraan Horor
    ATR 72-600 Garuda Indonesia Bekantan dan paru-paru dunia adalah alasan saya ingin bertandang ke pulau besar ini. Oh, satunya lag...
  • Negeri Sakura (6.2): I'll be Back Again, Someday
    Suasana jalanan di Kyoto Jam di tangan sudah menunjukan waktunya makan siang. Rasanya hari ini waktu berlalu begitu cepat, namun saya ...
  • Borobudur: Usia yang Tak Lagi Muda
    Permintaan untuk melakukan perjalanan dari dua orang teman berkebangsaan Jepang membuat saya datang kembali di kota Gudeg pada bulan Mei ...
  • Cinta Tak Pernah Membenci Pertemuan [6]
    ... Kepalanya mulai terasa berat, tanpa disadari. Langkah kakinya pun mulai terasa tak nyaman. Wino melirik penunjuk waktu yang melin...
  • Ps: I Love You, Indomie
    Makanan instan satu ini bagaikan penyelamatan yang dapat diandalkan oleh siapa pun, kapan pun, dan dimana pun. Mungkin, setidaknya, sebungk...
  • Kala 10 Tahun ke Belakang
    “Jika di negara-negara subtropis sana memiliki empat musim yang berbeda setiap tahunnya, Indonesia justru memiliki tiga musim; musim ke...
  • Negeri Sakura (7): Penutup Perjalanan Bersama Berkah dari langit-Nya
    Osaka Castle dan Gokurakubashi Bridge Atap Hijau di Antara Langit Kelabu Gerimis kembali menemani langkah perjalanan p...

Advertisement

Blog Archive

  • ►  2017 (2)
    • ►  March (1)
    • ►  February (1)
  • ►  2016 (19)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  July (2)
    • ►  May (9)
    • ►  March (1)
    • ►  February (5)
  • ▼  2015 (17)
    • ▼  July (9)
      • Homemade Open Sandwich
      • Negeri Sakura (6.2): I'll be Back Again, Someday
      • Negeri Sakura (6.1): Saya pun Jatuh Cinta
      • Negeri Sakura (5.3): Hujan Menemani Akhir Perjalan...
      • Negeri Sakura (5.2): Berburu Hiu, Bermain Api, hin...
      • Negeri Sakura (5.1): The Forbidden Journey
      • Cerita di Awal Hari
      • Negeri Sakura (4.2): Melihat yang Tak Terlihat
      • Negeri Sakura (4.1): Renaissance dan Kawan Seberan...
    • ►  June (3)
    • ►  February (5)
  • ►  2014 (2)
    • ►  December (2)
Powered by Blogger.

Label Cloud

  • Bandung
  • Borneo
  • Central Java
  • Food
  • Hakone
  • Health
  • Indonesia
  • Jakarta
  • Japan
  • Kyoto
  • Notes
  • Osaka
  • Photography
  • Place
  • Poem
  • Sharing
  • Short Story
  • Solo
  • Spring
  • Sulawesi
  • Summer
  • Tokyo
  • Travel
  • Yogyakarta
  • Yokohama
  • Zoo

Rank Alexa

About Me

Unknown
View my complete profile

Followers

FOLLOW US @ INSTAGRAM

Copyright © 2016 Chiisai Note. Created By OddThemes & Distributed By Free Blogger Templates