Negeri Sakura (4.2): Melihat yang Tak Terlihat
![]() |
| Shinkansen. Shin-Osaka, Osaka |
Tokaido Shinkansen merupakan jalur penghubung antara Tokyo dengan Shin-Osaka menggunakan kereta cepat, Shinkansen. What? Shinkansen? Yap, hari ini saya akan bertolak menuju Osaka menggunakan kereta cepat yang sangat populer di Jepang. Itinerary kali ini, saya memasukan Osaka dan Kyoto sebagai bagian dalam perjalanan kami. Jadi tak melulu sekitar Tokyo saja, lumayan untuk menambahkan footprint saya di Jepang bagian barat tersebut. Pembelian tiket bullet train ini dibeli oleh kakak saya, beberapa hari sebelum kedatangan kami ke negara yang terkenal dengan sushi-nya. Perjalanan menuju stasiun Shin-Osaka, Osaka, ditempuh dengan jarak sejauh 515,4 km selama lebih kurang dua jam. Jarak tempuh ini hampir setara dengan perjalanan kereta Jakarta-Jogja/Solo, dengan waktu tempuh sekitar 8-10 jam.
Kereta cepat yang dikelola oleh Japan Railway (JR) ini mulai berjalan dari Tokyo Station ke stasiun Shinagawa dan Shin-Yokohama. Selepas stasiun Shin-Yokohama, kereta cepat yang mulai beroperasi pada tahun 1964 ini mulai melepaskan bebannya dan berjalan secepat peluru yang membelah tanah samurai di bawahnya. Berlari di atas jalurnya dengan kecepatan 300 km/jam, jendela kereta membingkai pemandangan yang berganti dengan cepatnya. Secepat kereta bergerak secepat itu pula pemandangan berganti. Skyscraper yang menangkap awan rendah mulai berganti dengan rumah-rumah penduduk, secepat itu pula landscape pedesaan mulai terlihat. Jauh di bawah langit biru, segitiga besar dengan taburan warna putih di puncaknya kian menampakkan pesonanya kepada para penumpang, termasuk saya di dalamnya. Fuji-san seakan menyapa kehadiran kami yang melintas melewatinya. Ini jarak terdekat yang dapat saya saksikan, walaupun saya tidak dapat mengabadikannya dalam jepretan kamera. Posisi Gunung Fuji berada di sebelah kanan arah perjalanan ke Osaka, sedangkan saya berada di sebelah kiri. Hiks hiks.
Menghadapi tantangan masa depan perkeretaapian dalam hal memangkas waktu tempuh perjalanan darat, Japan Railway berencana membuat Shinkansen jenis ultra-fast yang memiliki kecepatan lebih dari 500 km/jam dengan sistem maglev. Rencana ini mungkin akan direalisasikan pada tahun 2020. Mengingat akan hal itu... aaah, kapan hari itu datang ya untuk merasakan kereta cepat di tanah pertiwi ini? (--“) #NgarepSambilDoa.
Saya duduk bersama dengan kakak dan adik saya, sedangkan orangtua duduk bersama. Shinkansen yang saya tumpangi berjenis ordinary class, yang berstruktur 3 x 2 seat setiap barisnya. Pas dengan jumlah keluarga saya. Pada klas lainnya, berstruktur 2 x 2 seat setiap baris. Menurut pengamatan saya, kereta cepat ini sangat nyaman sebagai moda transportasi darat yang mengantarkan saya berpindah tempat menuju kota lain. Layaknya klas ekonomi pada pesawat terbang Garuda Indonesia, kereta ini memiliki suasana yang tak jauh berbeda. Sandaran punggung yang dapat diatur posisinya, meja makan lipat, dan bangku penumpang yang empuk, walaupun entertainment-on-board berupa televisi tidak tersedia pada kereta ini. Satu hal yang membuat saya lebih memilih jenis transportasi ini adalah karena kereta yang dapat membawa penumpang sebanyak 65-100 penumpang/gerbong ini selalu “membumi” alias tetap di darat. Tetep, hehehe ^^p.
Terdiri dari 15-16 gerbong dalam setiap rangkaiannya, Shinkansen memiliki ruang yang sangat luas untuk dieksplorasi untuk sekedar menghabiskan waktu. Tetapi rasa lelah yang menyelimuti badan ini membuat saya memilih tetap duduk manis sepanjang perjalanan.
Pemberitahuan menggema di lorong gerbong melalui sistem pengeras suara. Nagoya menjadi pemberhentian pertama setelah kereta ini melaju selama sejam penuh. Beberapa penumpang melangkahkan kakinya ke peron stasiun dengan cepat. Bagaimana tidak? Saya sempat iseng menghitung lama waktu yang dibutuhkan kereta ini dari berhenti dan membuka pintu hingga menutup dan melanjutkan perjalanannya kembali. Hanya berselang dua menit. Saya takjub. Bagaimana dengan penumpang yang terlalu lelah dan tertidur, lalu tidak sempat mengejar waktu pemberhentian yang sangat cepat itu?. Pertanyaan itu tercetak di dalam kepala saya sejurus kemudian kereta kembali bergerak perlahan menuju destination berikutnya. Jepang memang terkenal sangat tegas terhadap pengunaan waktu, tak terkecuali dengan Shinkansen yang bahkan sangat tepat waktu, tidak hanya dalam skala menit tapi hingga hitungan detiknya.
Pemandangan mulai berganti kembali dalam sketsa perkotaan yang identik dengan bangunan tinggi dan berbahan concrete. Walaupun terlihat sama, atmosfer yang tercipta serasa berbeda dibandingkan dengan kawasan Tokyo dan sekitarnya. Shinkansen merapat di stasiun Kyoto setelah 30 menit perjalanan dari Nagoya dan selang 20 menit kemudian, Shinkansen yang saya tumpangi mulai memperlambat lajunya. Kereta mulai memasuki stasiun akhir Tokaido Shinkansen: stasiun Shin-Osaka, Osaka.
Terletak sejauh 500 km lebih dari kota Tokyo, atmosfer yang saya rasakan saat pertama kali menginjakkan kaki di kota ini terasa berbeda. Seperti di... kampung/pedesaan (country side), layaknya Solo atau Jogja, Indonesia. Sebuah perumpamaan kata dan kota yang terlintas di benak saya untuk menggambarkan perasaan yang sedang saya rasakan saat itu. Suasana yang terasa lebih akrab, tenang, kental dengan old culture-nya, dan... terasa lebih lambat. Ada beberapa hal berbeda yang langsung saya rasakan di kota terbesar kedua di Jepang ini. Perbedaan pertama adalah posisi berdiri pada eskalator. Di Jepang, bagi mereka yang lelah atau berniat berhenti di eskalator, dengan segera mereka akan memposisikan diri mereka di sebelah kiri dan bagi mereka yang ingin mendahului akan berjalan di sebelah kanan. Hal ini tidak berlaku di kota yang terkenal dengan makanan khas Takoyaki dan Okonomiyaki-nya tersebut. Mereka akan melakukan hal yang sebaliknya.
![]() |
| Salah satu rangkaian kereta di Osaka |
Beberapa hari tinggal di Osaka, ada yang menarik setiap kali saya berdiri di peron stasiun. Ini menjadi perbedaan kedua di kota ini. Di Tokyo, setiap kereta akan dibalur dengan warna yang sama yaitu abu-abu. Tidak begitu dengan kereta di Osaka. Mungkin pemerintah kota yang mempunyai luas lahan sebesar 223.000 km2 ini ingin terlihat berbeda untuk kereta api mereka. Setiap kereta dengan arah tujuan yang berbeda memiliki warna yang berbeda pula. Begitu pula dengan interiornya yang tidak melulu menyediakan tempat duduk layaknya KRL di Indonesia tetapi seperti kereta diesel tujuan Jawa Tengah dan Timur (kebayangkan kaya apa?). Jalurnya pun sedikit rumit bagi pendatang. Analoginya seperti tanda plus (+). Tidak seperti jaringan kereta di Tokyo yang berbentuk loop atau memutar.
![]() |
| Kereta di Stasiun Osaka |
Perbedaan yang ketiga. Kota yang berarti large hill atau large slope ini, menurut pengamatan saya, memiliki penduduk yang relatif berjalan secara perlahan. Seakan berusaha menkmati waktu mereka dan tidak selalu diburu oleh waktu. Kontras dengan keadaan lalu lintas penduduk Tokyo yang hampir semua “gas pol” saat berjalan. Hal ini juga dapat kita saksikan antara kota Jakarta dan Solo. Denyut pergerakan yang berbeda dalam langkah manusia di dalamnya, namun tetap satu sebagai bangsa. Aseeek...(xD).
Seandainya saya memiliki waktu yang cukup panjang untuk tinggal di kota yang menganggap salju sebagai barang langka saat musim dingin ini, mungkin saya akan berkesempatan untuk melihat lebih banyak perbedaan yang dapat saya ketahui. I wish. Bukan sebagai ajang membanding-bandingkan tetapi sebagai kebiasaan yang layak untuk diketahui.



0 comments