Negeri Sakura (4.1): Renaissance dan Kawan Seberang Lautan

Tokyo Station

Melewati sebelas stasiun dari stasiun Ichinoe, kereta ini membawa saya hingga tiba di Tokyo Station. Bangunan yang berfungsi sebagai tempat ribuan kereta melintas setiap harinya ini memiliki tiga lantai di dalamnya dengan desain arsitektur European Renaissance yang dibalut dengan bata merah sebagai fasadnya. Stasiun yang didatangi oleh sekitar 415.000 penumpang setiap harinya ini, resmi dibuka untuk umum pada tanggal 20 Desember 1914 setelah enam tahun masa perancangan dan pembangunan. Seperti layaknya Stasiun Jakarta Kota (Beos/Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschapij) yang menjadi landmark Jakarta di Indonesia, Central Station, sebutan lain untuk stasiun Tokyo, juga menjadi simbol arsitektur nasional selain fungsi utamanya sebagai fasilitas transportasi.

Dua tahun silam, saya menyempatkan diri melihat stasiun ini dari luar. Bangunan megah yang dihiasi dengan tiga buah kubah di atasnya, seakan menempatkan dirinya yang bersahaja di tempat pertemuan antara arsitektur era Renaissance dengan arsitektur modern yang menemaninya dari ketinggian dengan penuh hormat. Menyusuri halaman muka dan beberapa bagian dalam stasiun yang terletak berseberangan dengan Tokyo Imperial Palace ini seakan mengajak saya melintas benua eropa dalam imajinasi terbatas. Berubah secepat jentikan dua jari tangan, saya diajak kembali menyadari kehidupan modern yang tak terbatas waktu saat memalingkan pandangan pada lingkungan sekitarnya. Untuk hari ini, saya tidak menyempatkan diri untuk merasakan kejadian itu lagi. Belum lagi sampai di Marunouchi South Gate, tempat meeting point saya dengan japanese friends, Azu-san memanggil dan sudah berdiri tepat di depan saya. Padahal, waktu itu saya sedang memakai masker karena terserang flu tapi dia dengan mudah mengenali saya. Aaah, rasanya saya tidak cocok jadi orang terkenal, sudah menutup muka segala rupa pun, orang lain masih mengenali saya dengan mudahnya, hahaha (ketawa sendirian). Selang beberapa detik, datang seorang gadis jepang setahun lebih tua dari saya, Aki-san, dan seorang laki-laki jepang yang belum pernah saya temui sebelumnya. Ternyata dia Azu’s boyfriend, tapi saya lupa dengan namanya (T.T).

Zero (0) Kilometer Sign
Setelah mengenalkan mereka dengan keluarga saya, lantas saya dan keluarga pun berpisah untuk sementara waktu. Keluarga saya pun hilang di tengah kerumunan entah ke arah mana. Sejenak kemudian pun saya beranjak sambil menggeret koper menuju lantai dua. Pada sebuah artikel tentang stasiun yang mempunyai hubungan “sister station” dengan Amsterdam Centraal Railway Station ini, saya mengungkapkan rasa penasaran saya kepada ketiga teman saya itu. Zero (0) Kilometer Sign (zero milestone)-lah yang membawa saya ke tingkat atas bersama mereka. Persepsi saya, zero milestone ini tak ubahnya sebuah tugu yang dapat dikenali oleh orang-orang yang melewatinya, tapi saya salah. Bentuknya yang kecil dan berada di seberang jalur kereta menjadikan objek ini luput dari pandangan para penumpang. Saat saya menanyakan ini kepada mereka, tak satu pun dari mereka yang juga mengetahuinya, bahkan mereka sempat balik bertanya kepada saya bentuk tugu yang saya maksudkan itu. Duuh~~ #TepokJidat. Sebagai tuan rumah yang baik, Azu-chan dan Aki-chan pun menanyakan tugu tersebut kepada pihak stasiun dan... ketemulah tugu itu. Arigatou tomodachi. Seperti halnya zero point di beberapa tempat di Indonesia, seperti titik nol di Sabang, atau di Bandung, dan juga di Jogja. Titik nol ini menjadi patokan dalam pembangunan suatu daerah. Titik nol yang berada di Tokyo Station ini berfungsi sebagai starting point-nya jalur kereta ke arah yang sudah ditentukan pada masing-masing tujuan. Ternyata masih banyak tempat-tempat seperti Zero (0) Kilometer Sign tersebut di dalam satsiun yang menyajikan cerita-cerita yang berbeda pada masing-masing tempat. Namun waktu jua yang membatasi pencarian saya dalam stasiun Tokyo.

Hanya berkeliling tanpa arah, waktu pun berlalu tanpa kenal lelah. Ini menjadi layaknya sebuah reuni kecil yang menghangatkan kembali memori pertemuan pertama kami dua tahun silam di IPB. Saat itu mereka datang dalam Twincle Program bersama enam mahasiswa jepang lainnya dan saya diamanahkan menjadi guide mereka selama menjalani program tersebut bersama seorang teman saya. Hasilnya adalah saya mendapatkan teman lintas negara dan dapat bertemu di tanah kelahiran mereka. Ratusan kilometer ternyata tak menghalangi kami untuk saling merindu dari masing-masing tanah pertiwi. Gerbang Tokaido Shinkansen menjadi akhir pertemuan kami hari ini. Sangat singkat memang, sekedar untuk saling melepas rindu bersama, tapi tak mengapa, akan ada waktunya lagi saat kami akan bertemu kembali di kemudian hari.

Link:
Tokyo Station www.tokyostationcity.com/en/

Share:

0 comments