Cerita di Awal Hari
Udara pagi diisi oleh sahutan takbir yang berkumandang. Sejuknya angin menambah syahdu pagi kala ini. Tuhan mengijinkan pusat tata surya menghangatkan embun yang terbang dengan perlahan. Menemani langkah-langkah kaki yang berarak menuju satu tujuan. Perpisahan dengan bulan Ramadhan menjadi awal hari ini. Bukan dengan kata selamat tinggal, namun doa untuk bertemu kembali yang mengudara memenuhi langit-Nya.
Awal Syawal jatuh bertepatan dengan hari Jumat tahun ini. Hari yang penuh berkah, ditambah pula dengan hari yang fitri. Lengkap sudah segala nikmat yang telah diberikan oleh-Nya.
Hanya perlu meluangkan beberapa langkah, saya sudah tiba digelaran karpet panjang yang membentang. Puluhan orang sudah duduk bersila dengan takbir perlahan terbisik dari masing-masing mulut mereka. Saya pun segera ikut serta di dalamnya. Pagi hari ini serasa puluhan hari lebaran lainnya. Pagi yang membuat semua mahluk bumi mengumandangkan seruan untuk-Nya bersama-sama. Ada damai yang menyejukan layaknya angin dan udara kali ini. Ada ketenangan dalam garis cahaya yang menerpa jejeran sajadah.
Salam pun mengakhiri shalat sunnah yang berlangsung hikmat. Diawali dengan tiga kali takbir, khutbah pun mulai terdengar. Tepat di samping saya, duduk tenang seorang bapak dengan anak laki-lakinya yang berkulit putih. Anak laki-laki yang memakai baju koko berwarna coklat ini, bercengkrama dengan sang ayah. Sejak awal kedatangan saya, anak ini duduk seorang diri sebelum sang ayah datang. Dia ditemani oleh om-nya (mungkin) di sisi lain sana. Sajadah kecil terhampar di depan sang anak. Ukurannya sangat pas dengan tubuh mungilnya. Polahnya sungguh tenang. Kakinya menjulur ke depan, mungkin dia ingin ikut duduk bersila tapi belum bisa. Tangannya menengadah ke atas, layaknya muslim yang sedang berdoa. Khusyuk mendengarkan alunan takbir yang mengudara di lapangan tempat kami shalat. Saya tersenyum melihatnya. Sungguh menambah warna di pagi yang fitri ini.
Dia kembali memperlihatkan tingkah anak-anaknya. Saat khutbah berlangsung, sang anak asik bercengkrama dengan ayahnya. Ada kalanya ia asik dengan dunianya sendiri dan berbicara dengan bahasa yang hanya dimengerti oleh dirinya sendiri dan Tuhan. Saya yang sedari tadi duduk tepat di sebelahnya melayangkan pandangan ke arahnya beberapa kali. Beberapa kali pula sudut bibir ini tertarik ke atas perlahan.
Iseng, saya perhatikan tingkahnya. Dia masih saja asik bermain sendiri di tempat ia duduk di depan sang ayah. Kakinya tetap menjulur mengarah ke arah ia menghadap. Ujung celana panjang yang senada dengan warna bajunya tertarik di atas mata kaki. Jari kakinya bergerak menggeliat. Selang beberapa waktu, hinggaplah seekor lalat tepat di kakinya yang terekspos oleh udara. Sadarlah dia ada mahluk asing berhenti di kaki kecilnya. Ia berteriak kaget dengan suara kecilnya yang hanya terdengar hingga telinga saya. Itupun saya bisa saja tidak mendengarnya jika saya tidak sedang memperhatikannya. Segera ia meminta bantuan sang ayah untuk mengusir mahluk asing itu dari kakinya. Namun, lalat itu pun segera pergi karena gerakan kakinya sendiri. Sedetik itu pula, ia melihat saya yang tersenyum sejurus kemudian memasang tampang malu dengan mengalihkan mukanya dan membenamkannya di pangkuan sang ayah. Saya pun terpingkal melihatnya. Tentu saja tidak sampai berlebihan, hanya senyum-senyum selama beberapa menit. Aah, sesederhana itu kebahagian yang dapat dibuat oleh anak yang tingginya pun bahkan belum mencapai genap 100 cm, yang dapat ditularkannya untuk orang lain di sekitarnya.
Lain lagi kebahagian yang tercipta oleh anak perempuan yang belum genap berumur dua tahun di rumah nenek saya. Bertubuh mungil dalam balutan baju dan celana panjang yang juga berukuran kecil. Rambut keritingnya yang melingkar bergerak-gerak sesuai irama tubuhnya. Langkahnya sangat cepat meninggalkan bekas. Tangannya menggapai setiap benda yang ada. Bahasa khasnya yang terdengar sangat lemah membuat orang dewasa di sekitarnya mengerutkan dahi dan menimbulkan tanda tanya besar. Seorang anak perempuan dari kakak sepupu saya yang lincah menjadikannya sebagai point of view yang tak pernah lepas dari pasang mata yang memperhatikannya. Satu lagi sebuah kesederhanaan dari arti kata bahagia. Tidak melulu timbul dari sesuatu yang besar, tidak juga dari sesuatu yang dinilai dari hitungan nominal. Kebahagian itu hadir dari tingkah polah mahluk kecil dengan pipi tembemnya.
Selamat Idul Fitri 1436 Hijriah
Mohon Maaf Lahir dan Batin
Tags:
Notes
0 comments