Saya duduk di sebuah warung kayu
di pinggir jalan. Pemandangan di sekitarnya begitu memukau, walaupun bentuk
warung ini tak seberapa. Aroma kopi yang bercampur hawa pegunungan memikat
selera dan menggoda indera penciuman saya. Memberikan gairah tersendiri selepas
lelah. Getirnya seperti mewakili rasa kehidupan. Pahit, namun mampu membuka
mata lebih lebar. Sembari menikmati secangkir minuman hitam ini, saya
mendengarkan seorang rekanan ibu bercerita tentang tanah kelahirannya. “Orang sini
itu hidup untuk mati”, katanya disela-sela penuturannya. Lelaki berkulit sawo
matang itu menyeruput kopi hitamnya sejenak. Menu minuman yang sama dengan
pesanan saya. Perbincangan di warung kayu ini berlanjut bersama wangi khas
minuman hitam yang menggema di udara siang ini.
~~~