Cinta Tak Pernah Membenci Pertemuan [3]

...

Suhu udara kian menurun seiring pias matahari yang juga cepat menghilang. Jejaknya menciptakan guratan gradasi jingga dan ungu pekat. Hawa dingin semakin cepat mengusik. Tiga lapis pakaian yang erat membungkus tubuh Wino cukup membuatnya hangat. Walau ada saja tingkah nakal angin malam. Mencubit tubuhnya saat ada celah yang membuatnya dapat menyelinap ke dalam.

Biarpun dingin banyak bertingkah terhadap dirinya, Wino lebih memilih bertahan pada suhu rendah dibandingkan harus berpanas-panas ria dan bermandikan peluh. Ia berdalih jika dingin masih dapat ditanggulangi dengan jaket sebagai penghangat. Tapi dalih itu serta merta ditangguhkan oleh Adit. “Makanya kalau ke sini pas winter, pas lagi dingin-dinginnya, biar lo ngerasain gimana tersiksanya beku di jalan!” Sewot dengan alasan adiknya itu, mendengus sambil bertolak pinggang di hadapan adiknya yang hanya bisa garuk-garuk kepala.

Adit sudah menunggu di tempat pertemuan mereka. Wino berlari kecil saat melihat Adit dari kejauhan dan menyalaminya saat sudah di depannya sebagai bentuk penghormatan kepada yang lebih tua. Warisan etika yang diturunkan oleh kedua orangtuanya.

“Hayo, Bang! Dingin nih.” Rengeknya dan segera memasukan kembali kedua tangannya ke dalam saku jaket setelah bersalaman. 

“Menurut lo, gue nggak kedinginan berdiri di sini nungguin lo?”

“He-he-he.” Ia hanya bisa menyeringai melihat kakaknya yang kesal dan berlalu memimpin jalan mereka sambil berdumel beberapa saat.

...
“Be-sok gue p-erg-i ya, Bang.” Mulutnya sibuk mengunyah tempura. Belum habis makanan di mulut, sumpitnya sudah berganti arah menjepit sehelai udon dan menyeruputnya hingga ujungnya menghilang cepat. Mulutnya kembali menyesap kuah miso langsung dari mangkuk. Matanya mengerjap-ngerjap dan mulutnya terbuka lebar karena rasa mendidih yang membakar mulutnya. Tangan kanannya sigap menuangkan aliran ocha dingin sebagai penetral. “Aaaah...” Mulutnya berdecap puas. Tak perlu waktu lama, kunyahannya kembali berirama.

Tak kalah sibuk dengan adiknya, “Mau kemana?” Adit merespon pernyataan Wino setelah menelan makanan yang memenuhi rongga mulutnya.

“Mau ke Yokohama. Pengen refreshing sebentar...” jawab Wino. Ucapannya terjeda sesaat. Ocha dingin kembali mengalir melegakan kerongkongannya yang tiba-tiba mengering, “... ke tempat favorit gue.” Ia menjaga nada suara sehalus mungkin. Tetapi air mukanya berkata lain.

Melihat ekspresi adiknya yang sedikit berubah, sifat iseng Adit pun keluar melalui pertanyaan retorisnya. “Pengen refreshing atau ...?” Adit sengaja menggantung pertanyaannya yang sejurus kemudian disadari oleh Wino dengan reaksi defensive-nya.

“Rese lo, Bang!” Reaksinya sejalan dengan harapan Adit. “Gue siram pakai kuah miso, mau lo? Panas nih!” Ancam Wino. Salah satu tangannya sudah memegang mangkuk. Yang diancam malah tertawa terbahak-bahak dalam diam. Dengan tangan kiri menutupi mulutnya dan tangan kanan menekan perut, menahan rasa sakit akibat tawanya. “Ceeh...” Wino menyumpah pelan. Mendumel ketika melihat kakaknya terpingkal-pingkal. Wino pun ikut tertawa, kemudian.

Obrolan malam itu pun berlanjut di dalam kedai kopi kecil, tak jauh dari pintu gerbang di luar stasiun. Secangkir espresso dan cappuccino panas bersandingan di atas meja kayu bundar. Uap dari masing-masing cangkir terbang perlahan dalam garis bergelombang ke langit-langit kedai. Menciptakan campuran aroma relaksasi yang melayang-layang. Berbaur beserta udara lembab dingin yang mendesak masuk.

Percakapan itu pun kian menghangat. Meninggalkan perasaan janggal yang sempat Wino rasakan. Perasaan yang, mungkin, hanya Tuhan yang paham kepastian waktu untuk tanggal dari hatinya. Kini hanya terdengar celoteh antara dua laki-laki yang masing-masing mencari kedewasaan dalam cara dan jalan yang berbeda. Dalam gerakan tangan, perubahan mimik, yang menjadikan bahasa pendamping untuk dimengerti bagi mereka berdua.

bersambung...

sebelumnya [2]

Share:

1 comments

  1. Seru ya kalau bisa keluar negeri bareng sodara.. :v
    *lanjut lagii..

    ReplyDelete