...
Wino berdiri dari kursi tempat ia
duduk sejak pukul 8 tadi pagi. Menggerak-gerakan seluruh tubuhnya. Berharap
aliran darah di dalam tubuhnya kembali lancar mengalir agar dapat membawa raga
ini kembali pulang. Ternyata bukan kopi yang membuat rasa kantuknya lenyap,
berakhirnya kegiatanlah penyemangatnya. Ia kembali duduk dan menekan tombol shutdown di layar laptopnya.
“Win,” Wino menengokkan kepalanya
ke arah suara berasal, ”besok kan kosong, nggak ada jadwal. Kita pada mau jalan
nih.” Ilham, teman sekegiatan memanggilnya. “Lo mau ikut nggak?” Ia mengajak
Wino untuk ikutserta.
“Hmm...” Gambar keraton Solo di
layar laptopnya seketika menjadi hitam. Ia menggulung kabel charger dan menumpuknya di atas laptop
yang sudah tertutup. Wino menunda jawaban atas ajakan temannya, tanpa sengaja.
Tangannya meraih barang-barang yang berada di atas meja. Pikirannya kosong
sesaat, entah kenapa. Mungkin hanya karena lelah. “Kayanya gue nggak ikut, Ham.
Gue udah ada rencana. Sorry ya, broh.” Jawabnya cepat seketika
kesadarannya kembali. Mukanya dibuat memelas. Beberapa temannya menandakan
kekecewaan dari bahasa tubuh mereka. “Lusa deh, kan masih kosong tuh. Kabarin
gue, gue pasti hadir.” Wino menangkupkan kedua tangannya di dada, merasa
bersalah terhadap teman-temannya.
Ilham mengacungkan jempolnya dan
berjanji akan mengabarinya jika ada rencana terbaru. Wino kembali merapikan
laptop dan barang-barang lain, memasukannya ke dalam tas, sementara
teman-temannya masih duduk sambil mengobrol santai. Setiap kali kegiatan berakhir, Wino menjadi peserta yang selalu keluar pertama. Maklum,
dia harus berjalan setengah kilometer terlebih dahulu untuk mencapai stasiun
kereta terdekat ke stasiun Kasumigaseki agar dapat pulang dan merebahkan tubuh
lelahnya.
Kegiatan ini menjadi bagian dari
program kerja yang telah disusun dalam salah satu divisi departemen yang
bergerak pada bidang pariwisata. Kegiatan seminar dan workshop yang berlangsung
di negeri matahari terbit ini sudah berjalan pada hari keempat, termasuk hari
ini. Sisa empat hari ke depan. Dengan waktu luang pada esok hari dan lusa,
serta lanjut kembali dua hari berikutnya. Sebenarnya, Wino beserta teman-teman
lainnya di tempatkan pada sebuah hotel di sisi timur Kementrian Pariwisata
Jepang. Tepat di seberang Hibiya-koen.
Namun Wino memilih untuk tinggal di apartemen bersama sang kakak di Ichinoe. Beralasan
untuk menghemat beberapa nominal pengeluaran, sekaligus melepas kerinduan
dengan darah dagingnya yang sudah terpisah selama beberapa tahun.
Tas punggung sudah melekat erat
di punggungnya beberapa menit kemudian. Wino menyempatkan berbincang pada
beberapa teman dan koleganya. Sekedar beramah-tamah lalu berpamitan.
“Otsukaresama deshita!” Ia menundukkan kepalanya dan beranjak keluar ruangan. Ia
mendesis. Menaikan kerah dan merapatkan jaket setelah kulitnya bersentuhan
dengan udara dingin di luar sana. Berjalan bersama beberapa pasang langkah yang
senasib dengannya.
bersambung...
sebelumnya [1]
bersambung...
sebelumnya [1]
Tags:
Short Story
1 comments
penasaran..
ReplyDelete