Cinta Tak Pernah Membenci Pertemuan [2]

...

Wino berdiri dari kursi tempat ia duduk sejak pukul 8 tadi pagi. Menggerak-gerakan seluruh tubuhnya. Berharap aliran darah di dalam tubuhnya kembali lancar mengalir agar dapat membawa raga ini kembali pulang. Ternyata bukan kopi yang membuat rasa kantuknya lenyap, berakhirnya kegiatanlah penyemangatnya. Ia kembali duduk dan menekan tombol shutdown di layar laptopnya.

“Win,” Wino menengokkan kepalanya ke arah suara berasal, ”besok kan kosong, nggak ada jadwal. Kita pada mau jalan nih.” Ilham, teman sekegiatan memanggilnya. “Lo mau ikut nggak?” Ia mengajak Wino untuk ikutserta.

“Hmm...” Gambar keraton Solo di layar laptopnya seketika menjadi hitam. Ia menggulung kabel charger dan menumpuknya di atas laptop yang sudah tertutup. Wino menunda jawaban atas ajakan temannya, tanpa sengaja. Tangannya meraih barang-barang yang berada di atas meja. Pikirannya kosong sesaat, entah kenapa. Mungkin hanya karena lelah. “Kayanya gue nggak ikut, Ham. Gue udah ada rencana. Sorry ya, broh.” Jawabnya cepat seketika kesadarannya kembali. Mukanya dibuat memelas. Beberapa temannya menandakan kekecewaan dari bahasa tubuh mereka. “Lusa deh, kan masih kosong tuh. Kabarin gue, gue pasti hadir.” Wino menangkupkan kedua tangannya di dada, merasa bersalah terhadap teman-temannya.

Ilham mengacungkan jempolnya dan berjanji akan mengabarinya jika ada rencana terbaru. Wino kembali merapikan laptop dan barang-barang lain, memasukannya ke dalam tas, sementara teman-temannya masih duduk sambil mengobrol santai. Setiap kali kegiatan berakhir, Wino menjadi peserta yang selalu keluar pertama. Maklum, dia harus berjalan setengah kilometer terlebih dahulu untuk mencapai stasiun kereta terdekat ke stasiun Kasumigaseki agar dapat pulang dan merebahkan tubuh lelahnya.

Kegiatan ini menjadi bagian dari program kerja yang telah disusun dalam salah satu divisi departemen yang bergerak pada bidang pariwisata. Kegiatan seminar dan workshop yang berlangsung di negeri matahari terbit ini sudah berjalan pada hari keempat, termasuk hari ini. Sisa empat hari ke depan. Dengan waktu luang pada esok hari dan lusa, serta lanjut kembali dua hari berikutnya. Sebenarnya, Wino beserta teman-teman lainnya di tempatkan pada sebuah hotel di sisi timur Kementrian Pariwisata Jepang. Tepat di seberang Hibiya-koen. Namun Wino memilih untuk tinggal di apartemen bersama sang kakak di Ichinoe. Beralasan untuk menghemat beberapa nominal pengeluaran, sekaligus melepas kerinduan dengan darah dagingnya yang sudah terpisah selama beberapa tahun.

Tas punggung sudah melekat erat di punggungnya beberapa menit kemudian. Wino menyempatkan berbincang pada beberapa teman dan koleganya. Sekedar beramah-tamah lalu berpamitan. “Otsukaresama deshita!” Ia menundukkan kepalanya dan beranjak keluar ruangan. Ia mendesis. Menaikan kerah dan merapatkan jaket setelah kulitnya bersentuhan dengan udara dingin di luar sana. Berjalan bersama beberapa pasang langkah yang senasib dengannya.

bersambung...

sebelumnya [1]

Share:

1 comments