Cinta Tak Pernah Membenci Pertemuan [7]



...
Kakinya dibiarkan menggantung. Bergerak mengayun maju mundur. Ia duduk di bangku tinggi di meja counter menghadap jendela berpemandangan lalu lalang orang-orang berlatar taman dengan rumput yang masih berwarna coklat. Tunas hijaunya masih menunggu waktu yang tepat untuk bermekaran. Sejenak beristirahat dan menghangatkan tubuhnya di dalam konbini. Kedua tangannya memeluk gelas kertas. Uap panas menari keluar dari bibir gelas. Wino mendekatkan gelasnya hingga berjarak beberapa mili dari bibir. Meniupnya pelan. Sekedar mendinginkan permukaan minuman agar lebih ramah saat masuk ke dalam mulutnya. Lalu meminumnya seruput demi seruput.

Ekor matanya menangkap tingkah sepasang muda-mudi yang duduk tak jauh dari tempatnya berada. Saraf otaknya bekerja memasuki daerah kenangan. Meniti susunan berkas memori yang terpampang rapi. Membuka pintunya yang sedikit berderit saat bergerak. Pintu yang berbunyi bukan lantas berkarat karena tak pernah dibuka. Melainkan terlalu sering dijenguk. Hingga pelumas di engsel-engselnya luntur dan menghilang.

Ia mulai tenggelam. Di depannya hadir sebuah panggung narasi yang dilakoni oleh dirinya sendiri. Sebuah drama yang dikenalnya pada masa silam. Petak berlorong. Dengan sekat rak susun sebagai pemisah antar lorong. Konbini yang berjarak sejengkal. Berada tepat di sebelah tembok kampus tempat ia menempa masa keemasannya. Posisi duduknya persis seperti posisinya saat ini; memeluk gelas kertas berisi minuman coklat. Hanya saja, coklat dingin yang dipesannya saat itu. Di depannya, bersanding pula gelas kertas dengan isi yang sama. Beserta pemiliknya yang mempunyai bibir tipis, dengan senyum menawan yang mengemasnya. Rambut ikal menggantung di bawah garis bahunya. Parasnya cantik. Ciri khas kecantikan wanita Indonesia. Dihiasi sepasang mata coklat tua yang bulat dengan tatapan teduh namun bersahaja.

Semesta seakan mendukung guratan memori itu tersiar semakin jelas. Lubang telinganya kembali diisi dengan alunan merdu dari Rizky Febian. Membuatnya semakin mabuk dengan sejarah percintaannya itu.

Kau dan aku tercipta oleh waktu
Hanya untuk saling mencintai
Mungkin kita ditakdirkan bersama
Merajut kasih
Menjalin cinta

Putri, gadis jawa kelahiran Solo, menemani Wino di terik siang setelah jam kuliah berakhir. Numpang ngadem dari panasnya siang itu. Percakapan yang didominasi canda tawa, membuat hati Wino begitu sejuk, selain efek minuman dingin yang sudah diteguknya berkali-kali. Suasana di dalam konbini kecil itu kontras dengan suhu udara di luar sana. Jika saja Wino harus berlari-lari di tengah panas mentari yang membara, yang tepat berada di atas kepala, ia akan tetap merasa sejuk seketika melihat senyum Putri mengembang.

Tak ada yang pernah tahu, kapan perasaan itu tak lagi tersirat. Wino pun seakan amnesia. Lupa kapan tepatnya jantung miliknya berpacu cepat dan kikuk saat berada dekat dengan Putri, terakhir kali. Tak ada yang istimewa dari hubungan mereka sebelumnya. Saat dipasangkan oleh teman-teman sekelas pun, Wino dan Putri akan bersikap biasa saja, layaknya hubungan classmate lainnya. Hingga, pertemanan itu berubah seperti pipi Putri yang merona merah saat Wino menyatakan perasaannya. Mengganti cerita kesendirian mereka menjadi kisah yang lebih dari sekedar rasa manis, ketika Putri mengiyakan pernyataan tersebut.

Dua gelas kertas. Saksi yang menyaksikan kisah itu dibuat. Awal kisah cinta mereka hari itu. Mereka bertemu dalam waktu. Tanpa ada kisah yang membuat mereka canggung dengan sesama. Kehadirannya terbagi dalam jarak dan ruang. Satu alasan yang menyatukan dua hati sepasang manusia. Seakan tak ada celah yang memisahkannya. Wino tak pernah menyangka. Bahkan walau hanya bermimpi. Memiliki gadis secantik Putri sebagai kekasih hati.

“Irasshaimase.” Suara melengking itu kembali terdengar dari belakang meja kasir. Memenuhi langit-langit dan celah lorong konbini. Sontak menampar pendengaran dan menyadarkan “kunjungan” Wino. Menyatukan kembali jiwa dan tubuhnya seketika. “#&%@?!” Ia merapal caci. Makiannya lebih terdengar seperti dengusan. Gelas kertasnya sudah setengah kosong. Uap panas telah berganti hangat-hangat kuku. Ia menghabiskan sisa minumannya sekali teguk. Lantas kembali keluar menapaki jalan aspal yang masih dingin.

Tangannya dingin tapi tidak ada yang bisa digenggamnya.

bersambung...

sebelumnya [6]

Share:

0 comments