...
Suhu udara kian menurun seiring pias
matahari yang juga cepat menghilang. Jejaknya menciptakan guratan gradasi
jingga dan ungu pekat. Hawa dingin semakin cepat mengusik. Tiga lapis pakaian
yang erat membungkus tubuh Wino cukup membuatnya hangat. Walau ada saja tingkah
nakal angin malam. Mencubit tubuhnya saat ada celah yang membuatnya dapat
menyelinap ke dalam.
Biarpun dingin banyak bertingkah
terhadap dirinya, Wino lebih memilih bertahan pada suhu rendah dibandingkan
harus berpanas-panas ria dan bermandikan peluh. Ia berdalih jika dingin masih
dapat ditanggulangi dengan jaket sebagai penghangat. Tapi dalih itu serta merta
ditangguhkan oleh Adit. “Makanya kalau ke sini pas winter, pas lagi dingin-dinginnya, biar lo ngerasain gimana
tersiksanya beku di jalan!” Sewot dengan alasan adiknya itu, mendengus sambil
bertolak pinggang di hadapan adiknya yang hanya bisa garuk-garuk kepala.
Adit sudah menunggu di tempat
pertemuan mereka. Wino berlari kecil saat melihat Adit dari kejauhan dan
menyalaminya saat sudah di depannya sebagai bentuk penghormatan kepada yang
lebih tua. Warisan etika yang diturunkan oleh kedua orangtuanya.
“Hayo, Bang! Dingin nih.” Rengeknya
dan segera memasukan kembali kedua tangannya ke dalam saku jaket setelah
bersalaman.
“Menurut lo, gue nggak kedinginan
berdiri di sini nungguin lo?”
“He-he-he.” Ia hanya bisa menyeringai
melihat kakaknya yang kesal dan berlalu memimpin jalan mereka sambil berdumel
beberapa saat.
...
“Be-sok gue p-erg-i ya, Bang.” Mulutnya
sibuk mengunyah tempura. Belum habis makanan di mulut, sumpitnya sudah berganti
arah menjepit sehelai udon dan menyeruputnya hingga ujungnya menghilang cepat.
Mulutnya kembali menyesap kuah miso langsung dari mangkuk. Matanya mengerjap-ngerjap
dan mulutnya terbuka lebar karena rasa mendidih yang membakar mulutnya. Tangan
kanannya sigap menuangkan aliran ocha dingin sebagai penetral. “Aaaah...” Mulutnya
berdecap puas. Tak perlu waktu lama, kunyahannya kembali berirama.
Tak kalah sibuk dengan adiknya, “Mau
kemana?” Adit merespon pernyataan Wino setelah menelan makanan yang memenuhi
rongga mulutnya.
“Mau ke Yokohama. Pengen refreshing sebentar...” jawab Wino. Ucapannya
terjeda sesaat. Ocha dingin kembali mengalir melegakan kerongkongannya yang
tiba-tiba mengering, “... ke tempat favorit gue.” Ia menjaga nada suara sehalus
mungkin. Tetapi air mukanya berkata lain.
Melihat ekspresi adiknya yang
sedikit berubah, sifat iseng Adit pun keluar melalui pertanyaan retorisnya.
“Pengen refreshing atau ...?” Adit
sengaja menggantung pertanyaannya yang sejurus kemudian disadari oleh Wino
dengan reaksi defensive-nya.
“Rese lo, Bang!” Reaksinya
sejalan dengan harapan Adit. “Gue siram pakai kuah miso, mau lo? Panas nih!”
Ancam Wino. Salah satu tangannya sudah memegang mangkuk. Yang diancam malah
tertawa terbahak-bahak dalam diam. Dengan tangan kiri menutupi mulutnya dan
tangan kanan menekan perut, menahan rasa sakit akibat tawanya. “Ceeh...” Wino
menyumpah pelan. Mendumel ketika melihat kakaknya terpingkal-pingkal. Wino pun
ikut tertawa, kemudian.
Obrolan malam itu pun berlanjut
di dalam kedai kopi kecil, tak jauh dari pintu gerbang di luar stasiun.
Secangkir espresso dan cappuccino panas bersandingan di atas
meja kayu bundar. Uap dari masing-masing cangkir terbang perlahan dalam garis bergelombang
ke langit-langit kedai. Menciptakan campuran aroma relaksasi yang melayang-layang.
Berbaur beserta udara lembab dingin yang mendesak masuk.
Percakapan itu pun kian
menghangat. Meninggalkan perasaan janggal yang sempat Wino rasakan. Perasaan
yang, mungkin, hanya Tuhan yang paham kepastian waktu untuk tanggal dari
hatinya. Kini hanya terdengar celoteh antara dua laki-laki yang masing-masing
mencari kedewasaan dalam cara dan jalan yang berbeda. Dalam gerakan tangan,
perubahan mimik, yang menjadikan bahasa pendamping untuk dimengerti bagi mereka
berdua.
bersambung...
sebelumnya [2]
Tags:
Short Story
1 comments
Seru ya kalau bisa keluar negeri bareng sodara.. :v
ReplyDelete*lanjut lagii..