Monolog Sebuah Tanya
Kita, bisa saja, hanya bocah ingusan yang belum tahu apa-apa; akan
masa depan, akan kemauan, akan pilihan, bahkan terhadap arti kehidupan baru.
Aku akan memandang matamu lebih dalam.
Aku akan melontarkan pertanyaan.
Setelah itu, aku akan melihat jawaban sebenarnya dari kata hatimu
lewat mata indah itu.
Ini pertanyaannya.
Bisakah kau melukis langit?
...
...
...
Bukan diam jawaban yang sedang ku cari untuk pertanyaan itu!
Ok, akan ku ganti.
Dapatkah kau mencuri sang rembulan?
...
Apa hanya diam, jawaban yang mampu kau jawab?
...
Bahkan pertanyaan itu saja tidak jua kau jawab.
...
Hhhff...
Aku percaya bahwa itikadmu pastilah baik.
Hanya saja, aku pernah berada dalam lorong tergelap, yang bagi mata
manusia biasa ku ini, hanya menjadikannya indera yang tak berguna. Aku hanya mampu
menggapai udara kosong dengan kedua tangan guna menuntunku keluar.
...
Mengapa kini engkau termangu makin dalam?
Aku hanya berupaya jujur di hadapanmu, akan sisi gelapku.
Bukan ku coba menghantuimu, menakutimu hingga membuatmu pergi atau
menghindariku.
Baik, baiklah. Aku akan mengalah, janganlah kau bergeser terlampau
jauh dari tempatmu bersandar di sebelahku.
Ini pertanyaan terakhir. Aku tak akan memaksa.
Hanya dua pilihan jawaban yang akan ku dapati, pilihan itu sepenuhnya
dirimu.
Aku tak akan terpengaruh jika jawabanmu jatuh pada kata TIDAK.
Ini pertanyaannya.
Mampukah kau membuatku jatuh cinta lagi?
-Agustus 2016
Tags:
Poem
0 comments