...
Kepalanya mulai terasa berat, tanpa
disadari. Langkah kakinya pun mulai terasa tak nyaman. Wino melirik penunjuk
waktu yang melingkar di tangan kanannya. “Pantas saja, udah waktunya gue makan
siang.” Ia menggerutu. Mengingatkan dirinya sendiri bahwa sudah lewat dua jam
dari waktu makannya.
Ia melihat sekitar. Tidak yakin
dengan pilihan tempat makan di daerah tersebut. Wino segera menyambangi halte
terdekat. Arah tujuannya kembali menuju awal perjalanan. Di bawah gedung
pencakar langit ini, ia coba menemukan tempat makan yang halal untuk mengisi
kebutuhan perutnya. Matanya tertuju pada sebuah kedai sushi bertuliskan 100
yen. Kakinya melangkah masuk ke dalam gang kecil, letak kedai itu berada. Tanpa
pikir panjang, ia mengambil langkah cepat menuju tempat tersebut.
Setelah duduk dan menghabiskan sebelas
piring sushi, tenaganya kembali terisi penuh. Kepalanya sudah tidak terasa
pening walaupun kakinya masih sedikit terasa nyeri. Terlalu lama berjalan. Ia
hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal saat berdiri di luar restoran.
Tertawa. Menyadari kebodohannya hari ini. Terlampau bergairah menyambangi kota
dan gegabah turun dari kereta lebih cepat pada stasiun yang bukan tujuannya.
Untung saja ini pelesiran tanpa batas waktu dan tujuan. Ia hanya bisa kembali
menggeleng-geleng dan segera hilang di tikungan luar gang.
...
Matahari mulai tergelincir menuju
cakrawala. Membentuk bayangan yang panjang sebanding dengan gedung-gedung yang
disentuhnya. Wino berjalan di dalam bayang-bayang itu. Menyesapi segala bentuk
rupa yang memanjakan mata, hidung, dan telinganya. Memutar aliran segar yang
menenangkan tubuh dan pikirannya. Dua pesona utama masih menemaninya; teluk
Yokohama serta segala pemeran pendukungnya. Angin, sinar mentari, kicau camar
yang melayang-layang, kapal-kapal kecil yang berlabuh pada air tenang, senyum para
pejalan, dan langkah kaki yang seakan berirama dengan waktu.
Melewati Yokohama World Porters
dan berhenti sejenak mengagumi arsitektur bangunan yang dinamai sesuai dengan
fasadnya; Yokohama Red Brick Warehouse. Bangunan bersejarah yang pernah berfungsi
sebagai gudang penyimpanan. Bangunan yang kini beralihfungsi menjadi ruang
konvensional. Dan kembali menyusuri jembatan kereta yang telah diubah menjadi
jembatan penyeberangan.
Perjalanannya berakhir di tempat
tujuannya; Yamashita Park. Sebuah taman yang menghadap langsung dengan teluk
Yokohama. Wino tersenyum. Ada makna tersirat dari gerak bibirnya itu. Makna
yang masih saja menari tanpa penjelasan. “Haaaahh...” Ia menghela nafas,
panjang. Ia membelokan badannya memasuki sebuah konbini di sisi barat taman.
“Irasshaimase,” sapa pelayan toko
sambil membuat gestur menunduk. Ia membalas dengan senyuman, melaluinya hingga
lorong self-service. Di depan sebuah
mesin minuman, ia berhenti. Memencet tombol bertuliskan Hot Chocolate. Kemudian
berkeliling untuk melihat-lihat, tetapi perutnya masih cukup penuh jika harus
diisi kembali dengan makanan lainnya. Lalu segera beranjak menuju kasir setelah
membatalkan niat untuk membeli camilan.
bersambung...
sebelumnya [5]
Tags:
Short Story
1 comments
Baca ini serasa dibawa jalan-jalan makan, deh... Sushi jepang katanya enak banget ya yo.. kapaan ya, bisa ke sana. *ngenes banget pertanyaannya yak, wkwkwkwk xD
ReplyDelete