Negeri Sakura (1): Melintas Dua Dunia dalam Jalan yang Sama
Aroma yang mengisi relung nafas ini masih kental dalam ingatan. Tak ada yang berubah sedikitpun. Beberapa kali berkunjung ke negara matahari terbit ini membuat indera penciuman saya familiar dengan aroma udaranya. Bukan wangi bunga sakura atau renyah takoyaki-nya, tetapi aroma "minuman"-nya yang senantiasa menyambut kedatangan saya.
Setelah melintasi beberapa negara selama tujuh jam melalui langit dunia, akhirnya saya dan keluarga tiba di bandara Haneda yang juga dikenal sebagai Tokyo International Airport. Berdasarkan situs penerbangan Skytrax, bandara ini menduduki urutan ke-4 sebagai bandara terbaik sedunia tahun 2015 setelah Hongkong Internasional Airport. Inilah yang menjadi favorit saya setiap kali melakukan perjalanan dengan pesawat menuju sebuah destination, baik penerbangan domestik maupun internasional. Saya, yang pada dasarnya tidak nyaman dengan ketinggian, merasa jauh dari kata betah untuk berlama-lama di dalam pesawat. Namun, saya sangat excited dengan setiap bandara yang saya singgahi. Termasuk dapat mendarat dan melihat bandara yang telah dkunjungi oleh 65 juta penumpang pada tahun 2012 ini. Tiga kali kedatangan sebelumnya, saya, yang selalu menumpang maskapai penerbangan nasional milik Indonesia, selalu landing di bandara Narita. Desain arsitektur masing-masing bangunan tidak jauh berbeda satu sama lain. Bentuknya yang megah, kokoh, dan terlihat angkuh pada setiap lekuk fasadnya. Namun, mereka jelas berbeda dalam desain interiornya. Pada lantai empat bandara Haneda ini diisi oleh toko-toko souvenir, duty free, dan juga restoran-restoran sebagai salah satu fasilitas penunjang guna memanjakan para penumpang maupun pengujung bandara. Para desainer dan arsitektur bandara merancang bagian tersebut menjadi kawasan layaknya jaman pemerintahan Edo dan diberi nama Edo-Koji. Melintasi deretan toko-toko itu membuat kita diajak merasakan suasana Jepang tempo dulu. Hampir tidak terasa bahwa tempat itu adalah salah satu tempat dimana ratusan burung besi terbang dan melandas setiap harinya.
![]() |
| Edo-Koji. Shopping area di bandara Haneda |
![]() |
| Suasana di lantai dua apartemen |
Suhu pada hari pertama kedatangan ini masih bisa dibilang sejuk, walaupun matahari peralihan spring-summer tersebut mulai menghangatkan tanah samurai di bawahnya. Lewat siang hari, saya telah berjanji untuk bertemu dengan beberapa teman Indonesia yang sedang study di sini. Tujuan kali ini adalah Shin-Okubo. Sementara keluarga saya bertolak ke arah yang berlainan. Peron stasiun Ichinoe ini terbilang lenggang, bahkan sepi, jika dibandingkan dengan stasiun yang berada di kawasan Tokyo. Dengan memakai kereta Toei Shinjuku Line sekitar 35 menit dan transit di stasiun Shinjuku menuju stasiun Shin-Okubo selama dua menit, akhirnya saya tiba di Shin-Okubo. Menurut penuturan teman dan info kakak saya, Shin-Okubo adalah Korea Town-nya Jepang. Area ini dipenuhi dengan segala budaya Korea-nya. Puluhan toko berinisial Korea ini berjajar memanjang mengikuti panjang jalanan aspal di depannya. Toko-toko ini menawarkan benda-benda khas Korea, yang mayoritas menjual barang-barang berbau K-Pop, seperti kaos, poster, CD, hingga kaos kaki bergambar idola pujaan. Serta aneka makanan dan jajanan khas negeri ginseng berupa Tteokbokki/Topoki dan kawan-kawannya. Sayang, saya tidak mengambil gambar di daerah itu (T.T).
Suasana di kawasan ini cukup ramai dengan pelanggan setia yang senang berburu benda-benda berbau Korea (seperti teman-teman saya, hehehe) dan mereka yang sekedar lewat untuk menghilangkan rasa penasaran dan menghabiskan waktu, seperti saya. Walaupun bisa dibilang hanya melintas, namun ini menjadi daerah tambahan untuk saya ketahui. Setidaknya jika ditanya apakah saya pernah berkujung ke kawasan ini, maka akan saya jawab dengan lantang "Iya, gue pernah dong! Hahaha".
Matahari sudah pamit menuju singgasananya beberapa menit yang lalu. Udara dingin mulai mengisi malam hari ini. Kami pun bertolak mencari tempat wisata lainnya. Sebagai orang rantau, kami memilih tempat yang sekiranya bisa kami datangi pada malam hari dan tanpa membayar tiket masuk, alias gratisan, hehehe xp. Akhirnya kami memutuskan untuk mengunjungi Tokyo Metropolitan Government Building di Shinjuku. Sesampainya disana, antrian sudah panjang mengular. Butuh waktu sekitar 30 menit untuk mendapat giliran naik ke ruang observasi yang terletak setinggi 202 meter itu dengan lift, bahkan untuk turunnya pun, kami harus kembali mengantri walaupun tidak selama saat kami naik. Gedung ini terletak di kawasan Skyscraper District di sebelah barat stasiun Shinjuku. Gedung yang bisa disebut Tokyo Gov. Building ini mempunyai bentuk yang hampir mirip dengan Petronas di Malaysia dan pernah menjadi gedung tertinggi di Tokyo sebelum akhirnya diambil alih oleh Midtown Tower pada tahun 2007. Pada observation deck, kita dapat menikmati pemandangan malam kota Tokyo. Kerlap-kerlip lampu jalan, lampu kendaraan yang lalu lalang, dan lampu dari jendela rumah, seakan mengisi tanah Jepang layaknya kerlip bintang di langit. Namun, saya cukup kecewa saat tiba di atas, walaupun suasananya tidak terlalu ramai. Pernahkah kalian melihat keluar jendela saat malam dari sebuah ruangan, tetapi kamar kalian lebih terang daripada suasana di luar sana? Itulah yang terjadi, ruang observasi ini relatif remang tetapi masih cukup terang sehingga menyebabkan pantulan cahaya pada setiap jendela di ruangan tersebut. Alhasil, pemandangan di luar pun seakan tertutupi oleh bias penerangan di dalam ruangan dan saya pun kurang dapat menikmati pemandangan kota Tokyo tersebut.
Tak ada salahnya juga jika gedung pemerintahan Tokyo ini dijadikan salah satu alternatif wisata di Tokyo saat anda mengunjungi Jepang. Terlepas dari keadaan sebenarnya di atas sana, namun kita masih bisa melihat kawasan Tokyo secara luas dari perspektif yang berbeda. Selain itu, kita juga tidak dipungut biaya untuk sekedar bercengkrama di atas langit Tokyo. Berbeda jika anda ingin melihatnya dari Tokyo Tower, maka anda harus merogoh kocek sebesar 1.000 yen, sedangkan pada Skytree sebesar 2.000 yen. Tokyo Gov. Builiding ini dapat anda kunjungi pagi hingga malam hari pukul sebelas waktu setempat.



4 comments
asik banget baca ceritanya yok... gayanya enak banget... saya tunggu cerita selanjutnya ya, btw, saya udah di pontianak yok... :)
ReplyDeletehahaha bisa aje si mas... sip sip, masih ada beberapa lagi lanjutannya, asal jgn bosen aje xp
Deletewaaah udah di pontianak toh, syukur deh, jgn kelamaan di sana mas hehe xp
Setuju sama suami saya yang ganteng (eaa, hahaha), gaya tutur tulisnya iyo enak dibaca. Rapi juga. Kalau saya, masih kaku dan kemana-mana, padahal ngeblog udah lama :v Coba ikut komunitas blogger traveller deh yo, kayaknya iyo cocok disitu deh.. O iya, jangan lupa, jauh2 ke Jepun harus singgah di Pulau Kalimantan juga yaaaa! :D
ReplyDeleteBtw, bandaranya keren.. Kapan ya kesampaian ke sana.. #ngitung recehan
Makasih mba'e n mas'e (hehehe, blushing), jadi malu dibilang ganteng *eeh..
DeleteKomunitas apaan yah? Any advice gak?
Wahahaha itu mah pasti mba, pengen banget aku ke borneo, tanah hitam papua jugaa \^^/
Hooh, aku aja ampe ogah pergi. InsyaAllah ada rejekinya mba, pasti bakal kesana.. *ikut ngitung recehan