Negeri Sakura (2): 1044 mdpl

Owakudani
Perjalanan hari kedua. Hakone. Kawasan wisata yang menyediakan pemandangan alam berupa lanskap pegunungan. Ini kunjungan kali kedua saya. Sebelumnya saya lakukan saat musim panas pada bulan Agustus 2012. Perjalanan menuju Hakone memakan waktu sekitar 1,5-2 jam yang ditempuh menggunakan kereta. Pesona alam yang ditawarkan oleh kawasan pegunungan dengan tinggi mencapai 1044 mdpl ini berupa kawah dan danau vulkanik serta jika cuaca cerah, kita dapat melihat Fuji-san (Gunung Fuji). Jika dibandingkan dengan Indonesia, mungkin Hakone ini adalah Gunung Tangkuban Parahu-nya Jepang. Namun, Hakone hanya memiliki sebuah kawah aktif yang dapat dilihat oleh para pengunjung dan menjadi tempat untuk merebus telur, yang sekaligus juga menjadi buah tangan khas Hakone.

Pemandangan yng ditawarkan oleh Hakone relatif serupa dengan G. Tangkuban Parahu, Indonesia. Bagi saya pribadi, berdasarkan penilaian subjektif, gunung yang terletak di Bandung, Jawa Barat tersebut lebih bagus dari sisi pemandangan alamnya. Tetapi, Hakone dikelola dengan menawarkan rangkaian transportasi yang beragam, sehingga kita dapat merasakan sensasi yang berbeda-beda untuk dapat menikmati scenery lanskap Hakone dari sisi yang lebih bervariasi tergantung pilihan moda transportasi yang kita pilih. Ini pula yang menjadi favorit saya dan bersemangat untuk melangkahkan kaki kembali di pegunungan tersebut.

Perjalanan diawali dari stasiun Shinjuku hingga Hakone-Yumoto menggunakan kereta. Kita dapat memilih jenis kereta yang akan kita tumpangi, yaitu kereta biasa (Odakyu Line) atau kereta ekspres (Odakyu Romancecar), perbedaan waktu tempuh kedua jenis kereta tersebut pun tak jauh berbeda, hanya terpaut sekitar 20-30 menit. Bagi pelancong yang berencana untuk menginap di Hakone, pengelola kereta menyediakan tiket gabungan (free pass) yang dapat digunakan selama dua atau tiga hari untuk segala jenis transportasi yang tersedia di sana, dengan harga yang lebih terjangkau.

Perjalanan menggunakan Odakyu Line mengantarkan saya di gerbang pertama kawasan Hakone yaitu stasiun Hakone-Yumoto. Stasiun ini lebih rapi dibandingkan stasiun-stasiun lainnya, menurut saya. Ada kesan nyaman berada di dalamnya. Stasiun yang letaknya berseberangan dengan sebuah sungai menawarkan hiburan tersendiri selagi menunggu kedatangan kereta.

Suasana di stasiun Hakone-Yomoto
Ratusan penumpang memenuhi peron kali ini, berbeda saat kedatangan saya tiga tahun silam. Hakone Tozan Railway, begitu kereta ini diberi nama. Kereta ini berbeda dengan kereta-kereta yang mengarungi jalur besi di Jepang. Tozan hanya memiliki 2-3 gerbong setiap rangkaiannya. Jalur kereta ini menjadi jalur pegunungan tertua di Jepang. Hal ini dapat kita saksikan pada beberapa rangkaian yang masih menggunakan model kereta jaman dahulu, berbentuk seperti trem. Uniknya lagi, kereta ini berjalan maju-mundur. Yang dimaksud dengan berjalan maju-mundur ini disebabkan karena posisi rel yang berada di lereng gunung. Jika biasanya kereta komersial akan berjalan mengitari gunung tersebut dengan cara mengitarinya dan jalur yang tersedia akan membentuk spiral hingga mencapai titik yang lebih tinggi pada gunung tersebut. Namun, rangkaian gerbong kereta ini hanya menggunakan salah satu sisi gunung saja (seperti zigzag secara vertikal), sehingga ia seperti berjalan maju-mundur. Begitu pula dengan masinisnya. Setiap kali berjalan maju atau mundur, ia akan keluar-masuk bergegas menuju ruang kemudi menyesuaikan arah perjalanan.

Hakone Tozan Railway
Sayang, dua kali saya ke tempat ini, dua kali pula saya harus kecewa karena tidak dapat melihat bunga hydrangea (ajisai) di sepanjang sempadan rel yang dilalui oleh kereta. Jika ingin menikmati pemandangan tersebut, direkomendasikan pada bulan Juni dan Juli.

Setibanya di stasiun Gora pada ketinggian 553 mdpl, kita bisa melanjutkan perjalanan dengan menaiki Hakone Tozan Cablecar menuju stasiun Sounzan. Sebuah kereta yang berjalan pada jalur dengan kemiringan lebih kurang 30 derajat. Analoginya seperti menaiki eskalator, dengan atap dan dinding kaca di sekeliling anda. Di stasiun Gora, kita bisa dapat menikmati es krim berbagai rasa, termasuk rasa ajisai (jika persedian masih ada). Membeli snack semacam opak (tidak tahu namanya) dengan rasa asin dan berbau asap (karena dibakar). Atau sekadar melihat-lihat di sekitar stasiun kecil ini.


Hakone Tozan Cablecar

Suasana Hakone saat tertutup oleh kabut dan guyuran hujan
Hakone Ropeway. Sebuah kereta gantung dengan kapasitas 18 orang yang digunakan untuk mencapai titik tertinggi Hakone, Owakudani. Transportasi yang tidak “napak bumi” ini menjadi pilihan andalan untuk mencapai Owakudani dalam waktu singkat. Pilihan lainnya yaitu bis atau jalan kaki. Namun, pilihan andalan ini juga yang membuat saya membujur kaku dan lemas (lebay, hehehe). Pasalnya, cuaca hari ini amat sangat tidak bersahabat. Angin kencang, guyuran hujan, dan sebuah kereta gantung yang menyusuri celah di antara bukit-bukit adalah kombinasi sempurna untuk membuat muka orang yang takut akan ketinggian, seperti saya, menjadi putih seketika. ~freeezee --*. Di dalam ropeway, angin yang menyelinap masuk melalui ventilasi menimbulkan suara desisan yang menakutkan dan menggoncang perlahan ropeway ini. Sontak membuat para penumpang duduk dengan punggung tegak dan... tanpa suara, yang jelas-jelas menambah horor perjalanan kali ini.

TIDAAAAAAKKK... Woooy, jangan pada silent gitu dooong!!! (panic mode: on)

Kuro-Tamago
Hujan semakin tak sabar menghujam bumi Shinto ini. Alat pengukur kecepatan angin pun berputar kian cepat dan bergerak tak tentu arah. Setiap helaan nafas berubah menyerupai asap rokok yang mengudara ketika berdiri di luar ruangan stasiun ropeway Owakudani. Kabut begitu pekat mengisi setiap jengkal ruang-ruang di udara. Putih namun begitu gelap membutakan mata. Owakudani, puncak sekaligus pusat wisata berupa kawah, tidak bisa dikunjungi. Belakangan saya baru mengetahui bahwa pada hari itu, ada aktivitas vulkanik di Owakudani, dan dua hari sejak kunjungan tersebut, kawasan itu ditutup untuk umum. Kuro-Tamago (telur hitam) yang menjadi panganan khas Owakudani pun urung saya cicipi. Teh hangat pun menjadi pilihan sederhana untuk sekedar berdamai dengan dingin walau hanya sesaat, sebelum kembali melanjutkan perjalanan. Keyakinan yang melekat pada Kuro-Tamago ini adalah barangsiapa yang yang memakan telur tersebut, niscaya akan ditambahkan umurnya selama 10 tahun setiap butirnya. Yaaaa.. percaya tidak percaya, tapi tahun lalu saya habis dua butir, berarti umur saya tambah 20 tahun. Pantas masih terlihat muda (krik krik krik...).


Pemandangan Hakone saat cerah

Muka saya kembali memutih. Pilihan jalan untuk turun adalah kembali menggunakan ropeway. Sesaat sebelum membeli tiket, kakak saya bertanya pada salah satu pegawai yang sedang bertugas dan ia berkata jika cuaca bertambah buruk, maka kereta gantung akan diberhentikan operasinya. Oh My God!!! Makin pucat muka saya, bibir ini pun seketika keriput, telapak tangan saya basah, kantung kemih saya tiba-tiba terasa penuh. Aaah, kilasan berbagai memori lama melintas di depan saya (hehehe... berlebihan). Tak ada pilihan. Saya harus turun segera. Ropeway ini segera meluncur meninggalkan stasiun Owakudani menuju Togendai dengan cepat. Perjalanan kali ini ternyata lebih ringan karena jarak antara kereta gantung dengan daratan masih bisa terlihat, walaupun masih berada sejajar dengan ujung kanopi pepohonan, dalam tebalnya selimut kabut. Syukurlah, fiuuuh~~. Tetapi jarak perjalanan ini adalah yang terpanjang, yaitu sepanjang 2,5 km, sedangkan sebelumya hanya berjarak 1,4 km.

Hakone Sightseeing Boat di danau Ashi
Saya dan keluarga harus sedikit berlari setelah turun dari kereta gantung. Kami tiba lima menit sebelum keberangkatan Hakone Sightseeing Boat yang akan mengajak kami mengarungi danau vulkanik Ashinoko, danau yang tercipta dari kawah hasil letusan gunung Hakone. Penuh. Tak ada bangku kosong yang tersisa dalam kapal yang memiliki dua lantai dan satu open rooftop itu. Akibat hujan, rooftop kapal pun lenggang dan para penumpang memilih duduk manis di dalam untuk menghindari guyuran hujan. Saya, kakak, dan adik saya menuju buritan belakang kapal yang masih kosong. Orangtua saya tetap di dalam karena beruntung bisa mendapatkan space kosong. Pilihan yang salah kami memilih untuk bertahan di luar. Udara sangat dingin karena angin kencang dan pias hujan yang sesekali menyentil kami. Dalam kabut, suasana menjadi mistis, seakan kami sedang berlayar menembus selimut udara untuk mencari mahluk purba Loch Ness. (Loch Ness ada di Jepang juga nggak sih??). Perahu yang dibuat menyerupai kapal bajak laut ini pun berlabuh dengan mulus. Kami keluar bersama penumpang lain yang juga berhamburan keluar. Di dramaga inilah, awal dari akhir perjalanan di Hakone berlangsung. Cuaca mendung masih mengisi langit Hakone saat kami mulai meninggalkannya di kejauhan.

Hakone menjadi salah satu tempat yang saya rekomendasikan untuk mengisi intinerary anda di Jepang. Pemandangan alam pegunungan dengan variasi pilihan transportasi untuk menikmati itu semua menjadikan Hakone layak untuk dikunjungi. Jika anda mempunyai waktu luang, tak ada salahnya mem-booking salah satu penginapan di kawasan ini untuk menikmati Hakone’s Hot Spring-nya dan pemandangan alam serta pilihan lainnya yang mungkin dapat anda temukan sendiri di sana.

Share:

2 comments

  1. Jiahahaa... pas baca yg krik~krik~krik itu, saya memang jadi krik~krik~krik gitu, yo... xD

    Seru!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahahaha padahal itu klimaksnya loh mba XD

      Delete