Mentari Fajar di Tepian Sunda
![]() |
| Cahaya Fajar |
Pertengahan bulan agustus 2015 kemarin
saya sempat melakukan perjalanan antar propinsi, dari rumah saya di Propinsi
Banten menuju Jawa Barat. Persinggahan kali ini didasari setelah beberapa kali
melihat tujuan wisata ini pada program traveling
di televisi.
Gulita masih menyelimuti langit
pagi ini. Udara segar dan hawa dingin khas pegunungan pun masih “nakal”
menggelitik kulit dari luar jaket saya. Hanya beberapa orang yang terlihat saat
itu. Itu pun hanya beberapa tukang parkir dan tukang ojek saja. Selebihnya,
beberapa baris mobil yang sudah terparkir rapi tanpa pemiliknya yang tampak.
Awalnya, darah muda kami –saya, kakak, dan adik– lebih memilih untuk hiking menuju tempat tujuan. Namun, karena Ayah saya juga ikutserta, kami memutuskan menggunakan transportasi beroda dua ini. Pilihan untuk mencapai tempat ini memang terbatas pada dua pilihan saja, jalan kaki atau menggunakan ojek yang sudah disediakan oleh penduduk setempat. Itupun dengan segala kekurangan dan kelebihannya masing-masing.
Jika anda cukup kuat dan sudah
terbiasa melakukan hiking, tak ada
salahnya berjalan kaki, agar tetap sehat. Anda hanya akan dihadapkan dengan
jalanan menanjak sejauh lebih kurang 2 km dari tempat parkir. Pilihan dengan
menggunakan ojek akan membawa anda ke tempat tujuan secara cepat dan tanpa
kelelahan, tetapi anda diharuskan membayar jasa ojek tersebut sebesar kisaran
Rp 25.000 hingga Rp 35.000. Masalah tawar menawar harga ojek pun tidak terlalu alot dan
tanpa ada paksaan. Biasanya, sih, di
beberapa tempat wisata lainnya terkesan “mengharuskan” wisatawan untuk
menggunakan jasa mereka. Bahkan, setibanya di tempat tujuan dan jika anda
nantinya menginginkan untuk menggunakan jasa mereka kembali untuk pulang, mereka
akan datang kembali sesuai permintaan anda tanpa meminta pembayaran pertama
terlebih dahulu.
Jalan menanjak sejauh 2 km yang
melintasi desa setempat ini tidak dirancang untuk dilalui oleh pelintas yang
menginginkan tingkat kenyamanan setingkat jalan aspal yang mulus. Saat itu saya
duduk pada jok penumpang dengan motor matik. Tangan saya kencang berpegangan
pada pegangan motor. Jalan menanjak ditambah “brutal”-nya jalan membuat perut
saya sempat merintih. Pasalnya, bukan kerikil yang mengalasi jalan tersebut tetapi
batu-batu sekepalan tangan orang dewasa yang harus kami lalui.
Tikungan terakhir dengan tanjakan
yang cukup panjang menjadi akhir “penindasan” saya, setelahnya ojek saya berhenti di
depan bangunan kecil yang berfungsi sebagai loket dan gerbang masuk. Alhamdulillah,
saya segera turun dan sujud syukur. Hahahaha, berlebihan memang tapiii... anda
harus rasakan sendiri berlebihan yang saya maksud #micingin mata. Di loket, kami diharuskan membayar sebesar Rp
11.000/orang, namun bagi saya, harga tersebut cukup memberatkan jika
dibandingan dengan ketersediaan sarana prasarana yang minim. Tetapi jika itu
digunakan untuk pembenahan ke arah yang lebih baik, tetap saja jangan segitu dooong, kurangin, kurangin!!! Jaaaah...
Tak sampai dua langkah setelah
loket pembayaran. JEGGGG...
Ada yang salah.
Saya tidak bisa melihat jalan
setapak di depan saya. Info yang diberikan dari pihak pengelola bahwa tempat
itu sudah tidak jauh. Mungkin hanya sekitar 100-200 meter. Dekat memang tapi
kalau tidak terlihat apa-apa... aaaah
tak usahlah dibahas di sini. Ingatlah untuk membawa penerangan jika anda
memilih waktu dini hari untuk berkunjung.
~~~
Hari itu saya beserta keluarga
menginap di sebuah hotel di Jalan Sumur Bandung, di bilangan Dago. Ketika
hendak menuju ke kota kembang ini, kami berencana melihat sunset di tempat wisata yang terletak di kawasan Dago Pakar, namun
kami urungkan dan menggantinya untuk melihat matahari fajar.
Tepat jam empat pagi, saya
meluncur dari hotel bersama kakak, adik, dan ayah dalam keheningan malam. Lalu
lalang pagi ini sangat kontras dengan keadaan jalan pada siang hari. Lenggang.
Hanya membutuhkan waktu sekitar 10-15 menit dengan mobil ke arah utara untuk
sampai di Taman Hutan Raya Juanda (THRJ), tetapi bukan ini tujuan saya.
Biasanya, di gerbang THRJ ini akan ada beberapa warga yang akan memberhentikan
mobil kita. Mereka akan menyarankan untuk parkir di dalamnya dan menggunakan
ojek dari tempat tersebut, alasannya karena jalanan yang rusak. Namun, tetap
lanjutkan saja perjalanan anda pada jalur yang ada. Jalanan sepanjang lebih
kurang 3 km hingga pemberhentian terakhir masih “bersahabat” untuk kendaraan
pribadi anda.
Warban, atau biasa dikenal oleh
komunitas sepeda bandung dan warga sekitar sebagai Warung Bandrek, menjadi
titik akhir dari perjalanan saya menggunakan kendaraan roda empat. Letaknya
berada di sebelah kanan jalan. Bentuknya ya
hanya berupa tenda kecil dengan terpal layaknya warung pada umumnya. Di tempat
inilah aktivitas sosial cepat menjadi hangat seperti hangatnya bandrek dalam
gelas kaca, tssaaah =D. Tetapi dalam
gelap malam, tentu sulit untuk mengenali warung tersebut. Namun tak perlu
khawatir, sudah ada beberapa orang yang stand
by di tempat itu beserta beberapa baris motor ojek yang siap mengantarkan
pengunjung jika memerlukan jasa mereka. Di dekatnya terdapat beberapa petak
lahan yang digunakan sebagai area parkir pengunjung. Jumlah mobil yang dapat
ditampungnya pun sangat terbatas. Sisanya akan diparkir di sisi jalan.
~~~
![]() |
| Kabut menyelimuti permukaan hutan |
Kami berjalan menembus gelap berbekal sinar cahaya lampu dari handphone. Jalan setapak tempat kami melintas hanya menggunakan lempengan batu berbentuk persegi panjang yang disusun dengan jarak yang cukup berjauhan, di beberapa tempat lempengan batu itupun bergeser dari tempatnya. Memang jauh dari kata nyaman, tetapi semoga saja nantinya akan dibangun sarana prasarana yang lebih memadai seiring dengan meningkatnya kunjungan wisatawan guna meningkatkan kenyamanan bagi mereka.
Rasa penasaran yang terselimut
dalam gelap menemani langkah ini. Selang beberapa menit berjalan, mulai
terdengar suara obrolan yang menyerupai bisikan dari arah depan kami. Rupanya
kami sudah sampai di tempat tujuan. Namun, hanya beberapa saat kami tiba, suara
panggilan untuk sholat subuh pun berkumandang dan kami memutuskan kembali
sejenak demi menegakan panggilan tersebut. Terseok-seok dalam gelap, akhirnya
saya kembali berdiri di tempat tersebut. Riuh rendah suara pengunjung yang
telah datang lebih dahulu samar-samar mengisi ruang di ujung tebing ini.
![]() |
| Tebing Karaton |
Langit gelap yang pekat perlahan
membuka tirainya menyambut hari baru. Bersama dingin dan angin yang cukup “menggigit”,
saya menunggu sang fajar terbangun dari tidurnya. Perlahan tapi pasti, pekat
malam berubah menjadi semburat jingga di bagian timur sana. Namun sayang,
hingga langit benar-benar menjadi terang, sang fajar tak jua menampakan dirinya
dengan sempurna. Pemandangan kerlap kerlip lampu kini berarak berganti. Jubah
putih butiran embun menyelimuti jajaran pepohonan di bawahnya. Layaknya melihat
negeri di atas awan, pemandangan ini begitu memukau indera penglihatan saya.
Mendesirkan darah di seluruh tubuh. Memuja atas ciptaan-Nya yang begitu indah.
Jam di tangan sudah menunjukan pukul 6 pagi. Cahaya pagi yang masih berusaha merekah, menerangi tempat saya berdiri menikmati keindahan alam di kota kembang ini. Dinginnya hari berangsur menghangat. Seolah sempat buta sesaat, akhirnya saya dapat melihat jelas tempat ini. Begitu pula jumlah pengunjung yang ternyata sudah bertambah semakin banyak sejak kedatangan saya dini hari. Berada di ujung tebing ini membuat saya tersadar betapa tingginya tempat ini. mungkin bagi sebagian orang, ini menjadi hal yang biasa, namun bagi saya yang ini cukup mengejutkan.
![]() |
| Kerumunan pengunjung |
Di tebing karaton ini, sudah
dilengkapi dengan pagar pengaman dari kayu walau hanya setinggi paha orang
dewasa, kurang lebih. Maksud pembatas ini guna mengamankan para pengunjung agar
tidak terperosok ke dalam jurang dari tebing, menjadikan tempat ini lebih aman
untuk mereka. Namun ada saja yang nekat menerobos guna mendapatkan spot terbaik untuk berfoto. Jika diperhatikan
dari sudut pandang fotografi, spot
itu memang sangat bagus dengan foreground
berupa batu-batu besar dan latar belakang hutan berkabut. Tetapi tetap saja,
cara ini tidak dibenarkan, terlebih tidak adanya pengamanan yang mencukupi.
Menurut saya, berekspresi sih boleh saja, namun jangan sampai
momen liburan anda yang seharusnya menyenangkan berubah menjadi sesuatu yang
tidak diinginkan. Keindahan, kelestarian, dan kebersihan alam dan kawasan
wisata yang kita kunjungi adalah kewajiban kita semua untuk tetap menjaganya. Selain
itu, menjaga keselamatan diri sendiri atau pengunjung lainnya pun juga perlu
diperhatikan.
~~~





4 comments
ajib bangget pemandangannya yok... :D
ReplyDeleteIya mas, menurut aku sih keren, apalagi pas sunrise-nya, sayang aja itu nggak bisa ngeliat matahari utuhnya...
DeleteSaah, keren, keren.. tapi rame banget ya, kesannya jadi berjubel gitu.. Udah kebanyakan orang, ada aja kelakuannya. Betul kata iyo, kita boleh bebas berekspresi tapi harusnya tidak egois, memikirkan orang lain juga, biar sama2 nyaman berlibur...
ReplyDeleteKalo ud rada siang mah begitu mbak, apalagi klo weekend. Itu aja aku kesananya hari sabtu dini hari jadi masih lebih sepi.
Delete