Rasa Penasaran, Pusat Primata, dan Ragunan
Jarak antara rumah saya, Tangerang Selatan, dengan Taman Margasatwa Ragunan hanya berjarak 19 - 20 km. Sekitar 45 - 60 menit perjalanan dengan menggunakan sepeda motor. Selama hampir 20 tahun lebih saya tinggal di salah satu kabupaten di Provinsi Banten tersebut, ini kali pertamanya saya berkesempatan mengunjungi kebun binatang Ragunan. Rencana ini sudah lama saya impikan, namun baru kali ini bisa kesampaian. Beberapa bulan lalu, saya menginjakan kaki di satu-satunya kebun binatang di Jakarta Selatan. Rasa penasaran yang membawa saya untuk mengunjungi Ragunan ini.
Matahari sudah meninggi cukup lama. Jam tangan sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh tepat. Segera setelah sampai, saya dan seorang teman bertolak ke loket tiket. Tidak ada antrian panjang seperti yang saya pernah lihat di layar televisi. Ya, karena saya berkunjung saat weekday. Alasannya cukup sederhana: agar dapat menikmati suasana di dalam lebih khusyuk =p . Harga tiket masuknya sangat murah, hanya Rp 4.500 untuk pengunjung dewasa dan Rp 3.500 untuk anak-anak. Sangat friendly bagi mereka yang menginginkan refreshing di antara padatnya jadwal kesibukan sehari-hari, sekaligus wisata murah di tengah kota. Taman Margasatwa Ragunan ini memiliki luas 147 hektar, dengan koleksi fauna sebanyak 2.000 ekor satwa dari sekitar 200 spesies. Mulai dari Gajah Sumatera hingga beranekaragam jenis ular. Hampir empat jam berkeliling diselingi dengan istirahat, sholat, dan makan siang, ternyata tidak semua kandang satwa sanggup saya datangi.
Saya menyempatkan diri untuk masuk ke dalam Pusat Primata Schmutzer, karena ini adalah alasan mengapa saya mengunjungi kebun binatang Ragunan, sebelum waktu kunjungan hari ini habis. Saya penasaran dengan hewan besar yang ditutupi dengan rambut berwarna hitam di seluruh tubuhnya dan merupakan jenis primata terbesar.
Ya, Gorila. Mungkin kita juga biasa menyebutnya dengan King Kong.
Untuk memasuki area khusus primata yang berukuran seluas 13 hektar ini, kita diwajibkan membeli tiket seharga Rp 6.000 pada weekday dan Rp 7.500 untuk weekend. Penjagaan di kompleks ini juga cukup ketat. Sebelum kita bisa masuk ke pusat primata ini, di area gerbang, akan dilakukan pemeriksaan. Bagi pengunjung yang membawa rokok, pematik, atau benda-benda yang memungkinkan berbahaya akan diambil oleh petugas yang sedang bekerja saat itu. Bahkan jika anda membawa botol minum, anda sudah pasti tidak diperbolehkan membawanya ke dalam, tapi tenang saja, saat kita keluar, semua barang-barang tersebut bisa kita ambil kembali. Setelah gerbang pemeriksaan, kita akan meniti tangga di bawah atap yang berbentuk setengah lingkaran. Di ujung tangga, patung gorila akan menyambut kedatangan para pengunjung.
Kompleks ini terbagi dalam beberapa area. Area terbesar menjadi kandang gorila dan terletak di bagian tengah kompleks. Open zoo menjadi konsep yang diterapkan dalam wahana primata ini. Lanskap yang diciptakan disesuaikan untuk mengakomodasi kehidupan bagi para gorila di dalamnya. Menurut informasi, pengunjung dapat melihat tiga gorila berkelamin jantan ini beraktivitas layaknya mereka berada pada habitat aslinya. Namun sungguh disayangkan, ketiga gorila yang sejak awal ingin saya lihat tidak jua menunjukan tubuh kekarnya. Tumbuhan yang memenuhi kandang semakin menyamarkan keberadaan mereka.
Tak hanya gorila, pusat primata ini juga menghadirkan satwa endemik Indonesia. Orangutan. Sang primata yang lembut dengan rambut berwarna merah di sekujur tubuhnya. Kita dapat melihat mereka di orangutan enklosur. Kandang yang dibatasi dengan terowongan yang berfungsi sebagai jalur interpretasi bagi para pengunjung. Terowongan (orangutan tunnel) ini disatukan dengan beberapa area pengamatan yang digunakan untuk melihat aktivitas para orangutan. Pada bagian ini, pengunjung seakan diajak berinteraksi langsung dengan orangutan secara lebih dekat karena satu-satunya penghalang antara pengunjung dan orangutan hanya berupa kaca besar.
Informasi yang bisa saya sampaikan jika anda hendak masuk ke dalam terowongan ini, yaitu yakinkan diri anda bahwa anda tidak memiliki ketakutan terhadap ruang sempit dan gelap.
Saat saya masuk ke dalam enklosur ini, awalnya saya pun ragu, karena terowongan ini relatif gelap pada waktu sinar matahari masih bersinar dengan kuatnya. Dan yang cukup membuat saya bergidik adalah seakan saya berada di dalam labirin gelap, sepi, dan tak berujung.
Ya, tak berujung!!!!!
(Jeeeeeeng jreeeeng...)
Terowongan ini dibuat tidak hanya lurus saja tapi dengan beberapa belokan di dalamnya. Sehingga anda tidak bisa melihat akhir dari perjalanan anda. Apalagi, saat saya masuk ke dalam, suasana sangat sepi, bahkan tidak ada satupun pengunjung yang terlihat, ditambah suhu yang cukup dingin, akibat penggunaan AC, semakin menambah susana layaknya film horor dan saya berusaha berjuang untuk dapat keluar dalam keadaan hidup (hehehe, sedikit mendramatisir).
Namun tak mengapa. Kegelapan di dalam terowongan memang diciptakan demikian adanya. Guna menciptakan kondisi yang nyaman bagi kedua belah pihak. Pengunjung maupun orangutan itu sendiri. Bayangkan anda berada di dalam sebuah ruangan yang gelap dengan jendela menghadap keluar, dimana anda dapat melihat aktivitas di balik ruang yang tidak anda pijak, namun mereka yang di luar tidak dapat melihat anda. Begitulah yang terjadi pada terowongan tersebut. Anda dapat melihat segala aktivitas orangutan tanpa harus mengusik mereka dengan kehadiran anda, sehingga mereka bisa melakukan kegiatan layaknya binatang yang hidup bebas tanpa ada yang mengamati perilaku mereka.
![]() |
| Bayi Kelawat (Bornean Gibbon) |
Di area lainnya, masih di dalam pusat primata, anda juga dapat melihat berbagai jenis primata lainnya, bahkan saat anda menaiki tangga untuk memasuki kompleks ini, anda juga dapat melihat Siamang Kerdil dan Kelawat di sebelah kanan dan kiri tangga.
Sesaat sebelum saya menuntaskan perjalanan kali ini, saya sungguh tersihir dengan kelucuan dari bayi kelawat yang selalu berada di dekat sang induknya itu. Mata bulatnya. Rambut emas yang menutupi seluruh tubuhnya. Tingkah kikuknya. Menggoda saya untuk mencoba mengambilnya karena kelucuannya itu. Tapi itu pasti tidak mungkin saya lakukan, saya hanya akan mengambilnya dengan mata lensa saja. Bayi kelawat ini merupakan salah satu dari generasi muda yang nantinya akan menjadi penerus demi menjaga kelangsungan hidup jenis mereka dari kepunahan dan diharapkan akan menambah jumlah koleksi satwa di taman margasatwa ragunan ini.
Taman Margasatwa Ragunan ini terletak di sebelah selatan Terminal Bus Ragunan. Begitu anda turun, anda sudah berapa di depan gerbang kebun binatang ini. Sebuah ruang terbuka hijau yang dapat anda singgahi untuk sekedar merasakan teduhnya suasana alam terbuka sekaligus satwa di dalamnya, dengan harga yang amat terjangkau.
Tapi perlu diingat, kawasan ini ditutup setiap hari senin sebagai hari libur bagi para satwa. Binatang pun juga perlu waktu berlibur dari segala kepenatan mereka menghibur anda, bukan? =)
Link:
Taman Margasatwa Ragunan http://ragunanzoo.jakarta.go.id/

0 comments