Negeri Sakura (3): Melayang dalam Ruang dan Menjejak di antara Himpitan
![]() |
| Tokyo Tower |
Berdiri tegak di pusat kota Tokyo. Dominasi warna jingga terang dengan aksen putih melengkapi visual menara ini. Tokyo Tower. Sebuah menara besi yang telah menjadi kebanggaan penduduk Jepang sejak tahun 1958. Berfungsi sebagai menara komunikasi bagi beberapa stasiun televisi dan radio Jepang, sekaligus menjadi landmark andalan di kota Tokyo.
Sejak melangkah keluar dari stasiun Hamamatsucho, point of view yang terlihat adalah menara Tokyo yang berdiri kontras di antara gedung-gedung tinggi yang mengitarinya. Beberapa kali kedatangan saya ke kota ini, keinginan untuk mencoba naik ke Tokyo Tower memang ada, namun entah mengapa, saya selalu mengurungkan niat itu. Mungkin adalah hal klise, yaitu harga yang relatif menguras perbendaharaan saya. Pikir saya akan lebih baik jika dialokasikan untuk berwisata ke tempat yang lebih menarik dan murah. Tetapi tidak kala kedatangan saya kali ini. Saya sudah memasang niat teguh sedari saya menulis itinerary untuk pembuatan visa Jepang.
Saya berjalan melintasi jalan umum yang terlihat lenggang tanpa kendaraan. Hanya sesekali kendaraan yang terlihat. Tak disangka, deretan kendaraan pribadi sudah memanjang menunggu antrian masuk menuju gedung parkir, saat saya beralih memasuki jalan kecil menuju menara yang terletak di wilayah Kanto ini. Di pelataran pun jejeran bis pariwisata sudah tampak memenuhi ruang parkir yang tersedia. Memasuki lobi, lalu lalang pengunjung memenuhi penglihatan saya. Cukup ramai namun tidak padat. Segera saya mencari tempat pembelian tiket. Antrian terlihat memanjang, namun tetap rapi hingga ujung akhirnya. Pun saat kami harus mengantri masuk ke dalam lift. Satu dari empat lift yang tersedia menjadi kendaraan kami untuk mencapai main observation. Tokyo Tower menawarkan dua opsi yang dapat dipilih oleh pengunjung untuk mencapai ruang observasi tersebut, yaitu dengan lift atau kita dapat mencoba sensasi menaiki tangga sebanyak 600 anak tangga yang dapat ditempuh selama 15 menit. Saya prefer naik dengan lift. Alasannya tak lain karena ketakutan saya dan angin hari ini bertiup cukup kencang. Saya sampai bergidik membayangkannya. Bagaimana jika tiba-tiba saya panik dan sudah berada di tengah-tengah perjalanan? Ngeeek~~ Memang itu mungkin satu-satunya kesempatan untuk menambah pengalaman, tapi... aaah, sudahlah. Fuuuuh~~~. Saya dan adik saya membeli tiket untuk main observatory yang terletak di ketinggian 150 m dengan membayar sebesar 900 yen/orang (dewasa). Pilihan lainnya yaitu special observatory dengan ketinggian 250 m dan anda diharuskan membayar 1.600 yen (sudah termasuk main observatory).
Dengan kecepatan 9 km/jam, pintu lift sudah terbuka kembali dalam hitungan detik. Kali ini pemandangan di luar pintu lift ini menghadirkan puncak-puncak gedung yang tumbuh di Tokyo. Ruang observasi yang terletak pada ketinggian 150 m ini cukup ramai seperti ekspektasi saya, walaupun begitu tetap nyaman untuk melihat dan menikmati pemandangan dari atas sini. Berbentuk kubus dengan dua lantai, ruang ini menawarkan pemandangan 360° ke segala penjuru kota Tokyo.
Dengan kecepatan 9 km/jam, pintu lift sudah terbuka kembali dalam hitungan detik. Kali ini pemandangan di luar pintu lift ini menghadirkan puncak-puncak gedung yang tumbuh di Tokyo. Ruang observasi yang terletak pada ketinggian 150 m ini cukup ramai seperti ekspektasi saya, walaupun begitu tetap nyaman untuk melihat dan menikmati pemandangan dari atas sini. Berbentuk kubus dengan dua lantai, ruang ini menawarkan pemandangan 360° ke segala penjuru kota Tokyo.
![]() |
| Jalanan yang berbentuk menyerupai Tokyo Tower |
Pemandangan dari menara yang terbuat dari rangkaian besi seberat 4.000 ton ini begitu menakjubkan. Lanskap kota Tokyo dapat saya nikmati dengan mudah dari sudut aerial. Rainbow bridge yang berada di Odaiba pun terlihat dari sini. Begitupula dengan menara yang memiliki tinggi dua kali lipat menara ini, Skytree. Ada hal menarik yang hanya dapat dilihat dari menara ini, yaitu beberapa jalan yang saling melintas dan bertumpuk, di bawah Tokyo Tower, terlihat menyerupai rupa menara itu sendiri. Seakan jalan-jalan tersebut membentuk bayangan menara Tokyo. Jalanan itu akan tampak lebih mernarik jika dilihat pada malam hari, yang dihiasi dengan lampu-lampu jalan maupun kendaraan yang melintas. Sayang, saya hanya dapat menikmati waktu saat siang hari saja, tapi tak mengapa, setidaknya keinginan ini sudah terbayar. Yeeeyyy... \(^^)/
Turun ke lantai satu ruang observasi, pemandangan yang disajikan tak ubahnya dengan lantai sebelumnya. Hanya saja, sudut yang pandang yang ditawarkan sedikit berbeda. Pada lantai ini, terdapat spot menarik bagi para wisatawan, baik orang jepang itu sendiri maupun turis asing seperti saya. Tertulis Lookdown Window. Begitu yang terpampang di papan informasi di sebelahnya. Kaca persegi panjang berukuran sekitar 60 x 150 cm ini dikerumuni oleh anak-anak kecil. Para orangtua memotret anak-anaknya yang sedang duduk di atas kaca tersebut. Wajah bahagia, takjub, dan heran terpahat di wajah anak-anak itu sembari menghadapkan pandangannya menembus Lookdown Window. Aaah jika saja saya masih kecil, tentu saya juga berani untuk duduk di situ (alasan xp). Saya memanjangkan leher untuk melihat view di bawah. Segala sel di tubuh saya seakan berhenti. Membuat mulut saya terbuka tanpa saya sadari. Senyum kecut terurai di bibir ini, namun tak lama. Saya benar-benar penasaran untuk mencoba rasanya berdiri di benda berbentuk persegi panjang yang tembus pandang tersebut. Tik tuk tik tuk. Ternyata saya ketagihan setelah mencobanya. Anak-anak kecil yang juga ingin mencoba, saya halang-halangi dengan kedua kaki saya (iseng sedikit nggak apa-apa lah ya.. =D). Bersama kakak dan adik saya, kami mengambil foto kaki kami bertiga yang berlatarkan pelataran menara ini. Cukuplah beberapa frame tersebut menjadi moment yang nantinya mungkin akan mengingatkan kami saat “melayang” di atas kota Tokyo.
![]() |
| Anak kecil sedang melihat pemandangan melalui Lookdown Window |
Kunjungan ke menara yang memiliki tinggi total 333 m ini, bertepatan dengan Tango no Sekku yang jatuh setiap tanggal 5 Mei. Tango no Sekku adalah hari anak laki-laki (boy’s day). Pada sejarahnya, Tango no Sekku ini mengharapkan setiap kelahiran bayi laki-laki nantinya akan tumbuh dan berkembang menjadi laki-laki dewasa yang kuat dan berani. Hampir di seluruh sudut Jepang, sebagai tradisi dan simbol, akan mengibarkan bendera berbentuk ikan koi atau biasa disebut Koinobori, begitu pula di salah satu pelataran di menara yang 13 m lebih tinggi dari menara Eiffel ini, ratusan Koinobori berenang mengikuti aliran angin di hari yang kian berlalu.
![]() |
| Koinobori |
Pusat belanja bergengsi bagi orang Eropa pada jamannya dan berdiri pada tahun 1820 saat kependudukan kolonial Belanda di Indonesia. Ya, Passar Baroe, atau lebih dikenal dengan Pasar Baru Jakarta, Jakarta Selatan. Itu yang berada di benak saya saat melihat kerumunan orang di tempat tujuan kami selanjutnya setelah “terbang” di kaki langit Tokyo. Ameyokocho Market, Ueno. Terletak di antara stasiun Okachimachi dan Ueno. Saya segera mendekap kamera yang sedari tadi saya pegang dengan bebasnya. Tempat pertemuan multikultural, membuat saya harus lebih waspada setiap bermanuver di himpitan toko-toko di dalam pasar ini.
![]() |
| Keramaian di Ameyokocho Market, Ueno |
Link:
Tokyo Tower http://www.tokyotower.co.jp/eng/





2 comments
kalau saya, mungkin nggak berani ke lookdown window-nya tuh. duuh.. tapi kalau nggak dicoba, tugi dong :p
ReplyDeletepasarnya penuh sesak ya. tapi nggak ada peringatan hati2 copet kan yo? xD hehe
Tadinya saya juga gak berani mba eh pas dicoba, "yaah cuma bgini doang" hahahaha *padahal kakinya kaku xp
DeleteIya penuh, gak ada kayanya mba, kan tulisannya kanji begitu, jadi.. aku gak tahu --*) hehe