Kala 10 Tahun ke Belakang
“Jika di negara-negara subtropis
sana memiliki empat musim yang berbeda setiap tahunnya, Indonesia justru
memiliki tiga musim; musim kemarau, musim hujan, dan musim mudik.”
Tumpukan kardus, karung, tikar, ayam,
sepeda, dan barang-barang lainnya menggunung di atas sebuah bis yang melintas
di jalanan yang sedang terpaku akibat macet. Hal serupa juga bisa dilihat pada
beberapa minibus yang turut serta mengantri di belakangnya. Pemandangan ini,
bagi warga Indonesia, menjadi fenomena umum yang dapat kita saksikan setiap
tahunnya menjelang bulan puasa berakhir serta pekan berikutnya saat arus balik.
Mudik telah menjadi sebuah budaya
yang melekat erat dalam kehidupan masyarakat Indonesia dimanapun mereka berada.
Gaya hidup yang muncul dalam periode setahun sekali ini, sama sekali tidak
mempedulikan jarak yang terbentang dengan bilangan waktu tempuh perjalanan
sejak matahari meninggi hingga datang rembulan yang silih berganti. Lautan luas
yang akan mereka seberangi tak menjadi kendala. Tak kenal jalanan yang penuh
akibat kendaraan yang tumpah ruah dalam jalur sempit antar provinsi. Ketika
saatnya mudik ya tetap saja harus mudik.
Mudik bagi sebagian besar orang
adalah hal biasa yang berubah menjadi budaya, siklus kehidupan yang terus dijaga dan diwariskan. Terutama bagi mereka yang mengejar
rejeki sebagai penyambung hidup di ibukota. Tradisi tahunan yang mengantarkan
mereka kembali pada sebuah tempat bernama kampung halaman. Perjalanan mudik
yang mereka lakukan tergerak atas berbagai macam alasan. Salah satunya adalah
rasa rindu. Merindukan atau dirindukan oleh orang tercinta. Kepada orangtua,
suami/istri, anak-anak, atau sanak saudara serta kawan-kawan sepermainan saat
kecil. Bagi sebagian kecilnya lainnya, mudik adalah pengalaman pertama yang begitu
mendebarkan untuk dinanti sekaligus teramat menyenangkan saat dijalani. Apalagi
bagi mereka yang menyandang status mahasiswa baru, yang baru menempuh tahun
pertama mencari ilmu nun jauh dari rumahnya. Termasuk saya, ketika pertama
kalinya merasakan euforia mudik 10 tahun silam dari Solo.
Sahur bersama purnama di sepertiga malam
Sebagai anak kosan, puasa pertama
jauh dari orangtua menjadikan pengalaman yang akan selalu saya ingat. Sahur di
rumah, seringkali menghabiskan waktu hingga 10 menit lebih lama demi
mengumpulkan nyawa yang masih mengawang-ngawang di alam mimpi. Belum lagi
perjuangan yang terasa amat berat, padahal dari kasur hingga meja makan hanya
berjarak beberapa langkah. Duuh! Anehnya, semalam apapun saya tertidur, bangun
untuk menunaikan santap sahur saat tinggal di kosan tak menjadi halangan bagi
saya. Hitungan detik, berbekal jaket sebagai penghangat tubuh dan sepasang
sandal jepit, serta satu sachet susu
coklat cair, saya sudah siap menuju warung makan.
Pada malam lainnya, masih dalam
bulan penuh berkah di tahun yang sama, saya pernah berangkat sahur dari sebuah
tempat pengetikan. Saya sahur dengan dua mas-mas empunya tempat pengetikan
tersebut karena saya harus menginap di tempat mereka untuk menyelesaikan tugas.
Maklum, kala itu saya belum membawa komputer, apalagi laptop, seperti saat ini
yang sudah seperti kacang saking banyaknya mahasiswa yang memiliki benda mewah tersebut.
Duduk pada warung dengan bangku panjang beratapkan seng berkarat tanpa dinding
pembatas, saya menikmati hidangan sahur sederhana di bawah purnama sebelum
fajar tiba. Suasana yang tak pernah saya alami ketika berada di rumah orangtua.
Hampir ngompol
Terpisah jarak sejauh 500 km
dengan orangtuanya, pulang kampung adalah kesempatan langka yang tak dapat
ditolak bagi anak rantau. Terlebih pada momen istimewa seperti lebaran. Sebuah
kesempatan yang harusnya sudah direncanakan sejak jauh-jauh hari sebelumnya.
Tapi seperti kata pepatah, manusia hanya bisa berencana, Tuhan-lah yang menentukan.
Jadwal perkuliahan menjelang hari spesial itu menjadi terasa amat padat. Semua
hal terasa sempit. Mental pun seakan ditempa lebih keras sedemikian rupa karena
berada di tengah aktivitas puasa. Banyak dari kami, mahasiswa rantau,
kehilangan kepercayaan dirinya untuk pulang lebih cepat, termasuk saya.
Ibarat sebuah perusahaan pada
akhir tahun, dengan segala keriwehannya dalam proses tutup buku, demikian pula
dengan segala aktivitas di kampus yang mendadak bergerak cepat dalam waktu yang
semakin sempit. Rencana awal puasa untuk membeli tiket pulang pun saya
tangguhkan sementara. Sebabnya? Kegiatan praktikum salah satu mata kuliah dijadwalkan
berakhir tiga hari sebelum hari-H. Ampun, deh
(T.T). Apalagi praktikum nyebelin itu
selalu dimulai dengan serangkaian tes setiap kali kegiatan akan dilakukan. Jika
nilai tes tersebut tidak memadai, badan yang sudah berbalut jas praktikum itu
pun harus segera meninggalkan laboratorium dan mencobanya lagi esok hari.
Dengan tekanan besar seperti itu tak sedikit yang tumbang dan keluar dengan
muka pucat.
Saya menjadi salah satu mahasiswa
dari sekian ratus mahasiswa lainnya yang merasakan tekanan itu. Bagaimana
tidak? Rumah saya tidak dapat ditempuh hanya dengan naik angkutan umum sekali
dua kali saja. Tiket yang dipesan pun, biasanya harus memiliki jadwal yang
pasti. Kalaupun harus ditukar, ada resiko yang akan diterima dalam bentuk
apapun. Dan yang terakhir, ini hari istimewa dimana semua keluarga akan
berkumpul bersama, setidaknya dengan kerabat terdekat. Kalau saya tidak bisa
pulang, aaah... hoouuuf!
Saya duduk di salah satu bangku
di dalam laboratorium dengan gugup. SANGAT GUGUP. Saat itu adalah sore di tiga
hari sebelum Idul Fitri. Segala pikiran saya sudah berada dalam setting-an untuk pulang. Seketika
pertanyaan pertama dibacakan, saya blank.
Jess... Keringat dingin segera
merayapi seluruh tubuh dengan cepat. Semua kenangan-kenangan masa kecil mulai
beterbangan di depan mata (lebay). Dan
untuk pertama kalinya, perasaan sangat takut pada seseorang hingga membuatnya
buang air kecil di celana pun saya alami, tapi untungnya dapat saya tahan (suer!). Namun Tuhan berkehendak lain,
teman semeja saya mungkin melihat kebingungan dari wajah saya yang pucat,
lantas ia memberikan beberapa clue
untuk jawaban tersebut. Alhasil, hari itu saya bisa menuntaskan praktikum
sesuai dengan jadwal yang sudah ditetapkan. Entah bagaimana jadinya jika saya
benar-benar ngompol. Hahaha... =D
Berkah mudik ke Ibukota, tragedi di kamar kecil bis, dan kejutan kecil
Rupanya berkah Ramadhan tak
berhenti sampai di situ. Tiba-tiba saya bisa mudik satu hari lebih cepat dari
hari keberangkatan. Saat itu saya melakukan mudik pertama bersama tiga teman
laki-laki yang sama-sama berdomisili di Jakarta dan seorang teman perempuan dari
Bekasi. Bersama mereka, kami segera mendatangi kantor pusat angkutan umum yang
akan kami gunakan untuk reschedule
kepulangan kami. Dan, voila, tiket
baru dengan tanggal kepulangan yang fix
sudah berada di genggaman saya. Tak terbayang betapa senangnya saya saat itu.
Hari yang ditunggu-tunggu itu pun
tiba. Kami berkumpul dengan segala perbekalan masing-masing beserta oleh-oleh
di pool bis tersebut. Perjalanan
pertama saya menggunakan bis pun dimulai setelah bis mulai keluar dari pool dan melintas di depan kampus
tercinta. Waktu perjalanan selama 12 jam pun mulai terhitung mundur.
Ada keuntungan tersendiri bagi
mereka yang memilih belajar di luar lingkungan ibukota. Lalu lintas di depan
jalur saya relatif lenggang jika dibandingkan dengan jalur sebaliknya. Jika mayoritas
pemudik bergerak ke arah timur pulau Jawa, tidak begitu dengan saya yang justru
menghadap pada arah mata angin sebaliknya.
Tidak mudik hanya seorang diri,
memberi manfaat cuma-cuma dalam menghabiskan waktu di dalam bis. Kami bisa
saling bertukar cerita hingga lelap akhirnya membungkam kami. Hingga pada suatu
waktu, saya merasa harus menuntaskan “bisnis yang tertunda” akibat dinginnya suhu
di dalam bis. Namanya juga wc di dalam kendaraan umum. Sepengamatan saya, tak
jauh beda dengan wc di dalam pesawat. Untuk ukurannya, yah! Tetapi dari segi fasilitasnya yaaa... jaauuuuuuh pake buaangggeeett. Ukurannya slim fit bagi saya. Entah bagi mereka
yang memiliki tubuh lebih besar. Di dalamnya terdapat gentong air super besar
dan wc jongkok (kalau tidak salah, hehe, soalnya sudah lupa). Sebagaimana
seorang lelaki, cara buang air kecilnya, kan,
berdiri. Berbekal pegangan pada dinding wc, saya mencoba menuntaskannya dengan
cepat dan terkendali. Memang dasar tipikal jalanan di Indonesia yang punya
aksesoris berlobang, bergelombang, dan tidak rata, membuat kata-kata
“terkendali” tadi sempat menjadi kacau.
Mohon maaf sebelumnya, mungkin
kelanjutan cerita ini akan terdengar vulgar. Bagi anda yang di bawah umur 17
tahun, mohon kebijaksanaannya untuk tidak melanjutkan membaca ini. =P
Saat sedang asyik mengerjakan proses
penuntasan tersebut, bis yang saya tumpangi, mungkin, menginjak sebuah lobang. Kontan
saja, seluruh penumpang beserta isinya bergejolak hebat. Termasuk saya yang
MASIH DI DALAM WC. Jengjreeeeng. Mendadak
“pancuran” yang tadinya saya arahkan ke lubang wc, serta merta ikut bergerak
mengikuti gerakan bis tersebut dan menciptakan graviti abstrak pada salah satu
dinding wc. Lukisan para pelukis terkenal mungkin kalah dengan “lukisan” spontan saya,
hehehe. Saya yang kaget pun segera mengatur kembali posisi dan membersihkan
segala vandalism itu sebelum keluar.
Saat saya ceritakan “kecelakaan” tersebut kepada ketiga teman saya, mereka
tertawa geli di bangku masing-masing. Sampai kami turun dari bis, seingat saya,
mereka tak ada yang memakai wc setelah saya. Mungkin enggan setelah mendengar
cerita saya. Hahaha =P
Kepulangan saya yang lebih cepat
tidak saya infokan kepada orang rumah. Saya menganggap ini sebagai kejutan
untuk mereka. Benar saja, beberapa menit sebelum saya sampai di rumah, ayah
menelpon untuk menanyakan kepulangan saya. Saya hanya mengatakan akan pulang
hari itu dan tiba esok hari. Nyatanya saya sedang berada di taksi menuju rumah.
Setibanya di rumah, ayah saya hanya bengong melihat kedatangan saya. Hahahaha.
...
Mudik atau mulih dilik yang berarti "pulang sebentar" dalam bahasa jawa ini merupakan perjalanan yang sarat akan
tradisi, perjuangan, dan buah tangan ini, menciptakan asam manis tersendiri
bagi para pelaku mudik. Yang nantinya, banyak cerita yang mungkin dapat
disampaikan oleh pemudik kepada mereka-mereka di tempat tujuan atau kampung
halaman. Perjalanan yang dilakukan oleh jutaan orang dari berbagai sudut pulau
di nusantara. Perjalanan dengan banyak tujuan daerah yang dituju oleh
masing-masing pemudik. Namun dengan satu pemberhentian akhir, yaitu keluarga.
Selamat mudik bagi Anda yang perantau. Hati-hati di jalan! Alon-alon asal kelakon... ^^. Semoga pada hari yang fitrah ini, semua amalan kita di bulan Ramadhan kemarin dapat diterima oleh Allah swt dan menjadikan kita insan yang baru guna menghadapi hari esok. Serta diberikan kesempatan untuk kembali berjumpa dengan bulan penuh berkah tahun berikutnya. Amin.
Selamat mudik bagi Anda yang perantau. Hati-hati di jalan! Alon-alon asal kelakon... ^^. Semoga pada hari yang fitrah ini, semua amalan kita di bulan Ramadhan kemarin dapat diterima oleh Allah swt dan menjadikan kita insan yang baru guna menghadapi hari esok. Serta diberikan kesempatan untuk kembali berjumpa dengan bulan penuh berkah tahun berikutnya. Amin.


3 comments
mudik... mungkin bisa dikatakan sebagai salah satu indikator timpangnya pembangunan di Indonesia... mungkin...
ReplyDeletebarusan baca lagi...
ReplyDeletesaya pernah sedang jackpot di dalam bis, tiba2 saya sadar arah jackpotnya ke wastafel, serta merta mengalihkan jalur keluar, tapi bersamaan dengan pemindahan jalur tersebut, isi lambung tetap keluar... melimpah ruah... :P
Iyooo, saya baru baca. Selamat lebaran yaa (walaupun telat bangeeet, hihihihi)
ReplyDeleteHahaha, kenangan pesing ini namanya mah... xD