Cinta Tak Pernah Membenci Pertemuan [1]
...
Belasan pasang mata tertuju pada
seorang pria yang sedang berbicara di depan ruangan. Suara halus yang tetap
terdengar maskulin mengisi langit-langit. Tampak sedikit garis lelah pada lekuk
di bawah kantung matanya. Lelaki yang sedang memasuki fase forty-something dengan wajah tegas yang dihiasi dengan kumis tebal
ini terlihat menyeramkan. Tetapi di balik kumis tebalnya, pria bertubuh,
cenderung, kurus ini sangat ramah dan helpful
terhadap siapapun. Apalagi jika ada yang bertanya tentang kereta, maka dia akan
sanggup menjelaskan seluruh jenis kereta di negaranya ini selama berjam-jam. Kali
ini ia menyampaikan rangkaian kegiatan yang akan diselenggarakan untuk sisa
beberapa hari ke depan.
Berbeda dengan antusiasme pria
yang sering dipanggil dengan Sawada-san
ini, para pendengarnya justru berbanding terbalik. Beberapa peserta berusaha
mencatat dalam note kecil yang lebih
menyerupai coretan anak berumur 5 tahun daripada sebuah tulisan. Beberapa masih
serius mendengarkan walau rasa kantuk tergurat jelas dalam raut wajahnya.
Sebagian sibuk dengan gadget mereka
masing-masing, entah mencatatnya dalam ponsel mereka atau justru bermain candy crush hingga level 70 ke atas. Sebagian
kecil lainnya, mungkin tak bisa disebut hadir dalam ruangan ini. Secara fisik
jelas terlihat, tapi pikirannya entah sedang mengembara kemana. Wino termasuk
dalam golongan yang terakhir. Posisi duduknya yang tegak sempurna
mengkamuflasekan jiwanya yang sedang nongkrong
di sudut imajinasinya.
Tarikan nafas panjangnya kembali
membawanya hadir di bumi. Wino mengangkat tangan kirinya menghadap pandangan,
lalu mengusap mukanya dengan kedua tangan. Tersisa tujuh menit lagi hingga
tepat pukul 4 sore pada jam tangan digital hitamnya. Ia meraih tumbler merah di sebelah kanan laptop.
Menyeruput sisa kopi jawa yang sengaja diboyong dari rumahnya di Jakarta. Sisa
yang dimaksud hanya berupa tetesan saja. Basa-basi yang cukup membuat matanya
terjaga beberapa detik, lantas layu kembali. Wino menyandarkan punggungnya
hingga menyentuh sandaran kursi yang berbalut jaket blazer berwarna dark-gray
miliknya. Memainkan tumbler dengan
kedua tangannya seraya meregangkan tubuh. Berusaha melunakan otot-ototnya yang terasa
liat dan menjaga pikirannya agar tetap memijak bumi.
Rrrr. Rrrr. Rrrrrr.
Ponsel di mejanya bergetar.
Menciptakan gerakan kaku pada ponselnya. Tubuh Wino seketika tegak. Secepat
kilat menyambar ponsel. Takut akan mengganggu peserta lainnya dengan suara yang
timbul akibat getaran di meja. Sebuah pesan masuk. Nama Beloved Brother tercetak di bawah sebuah foto pria dengan ekspresi
kaget di layar ponsel. Adit, seorang kakak laki-laki semata wayang yang
dimiliki oleh Wino.
“Udah kelar? Makan tendon di Ichinoe
gimana?”
“Ok,” ia mengiyakan ajakan Adit.
Wino lebih memilih untuk makan di luar setiap ada kesempatan. Sebenarnya rasa
malas yang menggodanya. Ribet dengan segala aktivitas before-after makan malam. Apalagi setelah seharian menguras tenaga
dan pikiran. Jika tidak terpaksa, ia akan tetap makan di luar. “Sebentar lagi
kelar. Jam 6 ketemuan di gate biasa
ya? Mau ke Shinjuku dulu, Bang, ada yang mau gue cari.” Pesan terkirim hampir
berbarengan dengan berakhirnya kegiatan hari ini.
“Yap.” Wino tersenyum sinis. Dia
hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat tiga huruf balasan di layar
ponsel. Maklum, Adit memang terbiasa dengan jawaban yang seadanya. Jika saja
Wino bukan adik kandungnya, akan sulit memahami tabiat abangnya ini.
~~~
Arwino Dwi Putra. Adalah anak kedua, setelah dua tahun kelahiran kakaknya. Laki-laki yang –masih– memilih single dalam status percintaannya. Demi kesempurnaan penyembuhan luka pada hatinya. Mengobatinya dengan pekerjaan dan kopi serta pelesiran pada waktu luang. Seorang adik yang akan tetap memilih menjadi adik kecil saat bersama sang kakak, Aditya Eka Putra. Menjadi anak kesayangan selama dua tahun berturut-turut, sebelum akhirnya ia mendapat seorang adik laki-laki dan harus rela melepas gelar “anak kesayangan”-nya. Telah memasuki satu dekade umur perantauannya di negeri sakura. Seseorang yang bisa dilihat sebagai pria, tetapi akan menghilangkan status pria-nya jika sudah bergabung dengan adiknya dan bertingkah bodoh bersama.
bersambung...
sebelumnya [prolog]
~~~
Arwino Dwi Putra. Adalah anak kedua, setelah dua tahun kelahiran kakaknya. Laki-laki yang –masih– memilih single dalam status percintaannya. Demi kesempurnaan penyembuhan luka pada hatinya. Mengobatinya dengan pekerjaan dan kopi serta pelesiran pada waktu luang. Seorang adik yang akan tetap memilih menjadi adik kecil saat bersama sang kakak, Aditya Eka Putra. Menjadi anak kesayangan selama dua tahun berturut-turut, sebelum akhirnya ia mendapat seorang adik laki-laki dan harus rela melepas gelar “anak kesayangan”-nya. Telah memasuki satu dekade umur perantauannya di negeri sakura. Seseorang yang bisa dilihat sebagai pria, tetapi akan menghilangkan status pria-nya jika sudah bergabung dengan adiknya dan bertingkah bodoh bersama.
bersambung...
sebelumnya [prolog]
Tags:
Short Story
2 comments
Waah, mulai nulis cerpen yo? Sip sip.. nyambung ke 2 dulu ah.. :D
ReplyDeleteIya mbak, sedang mencoba hehe x)
Delete