Cinta Tak Pernah Membenci Pertemuan [4]
...
“Aaah... cerahnya,” ujarnya pelan. Matanya
menatap langit yang cerah tanpa cela. Ia merentangkan tangannya tinggi-tinggi
seraya menghirup dalam partikel oksigen pagi ini sebanyak-banyaknya. Kemudian
menyumpal kedua lubang telinganya dengan earphone,
dan mengarahkan telunjuknya pada tombol play
di layar ponsel. Alunan musik mulai terdengar. Suara nyanyian Chrisye seraya
mengawali langkah awal perjalanan hari ini.
Ketika aku membuka jendela
Sinar mentari menyambut pagi
Burung-burung
pun memberikan salam
Dalam kesejukan dan indahnya pagi.
Walau sinar matahari sedikit
menghangatkan suhu pagi ini, Wino masih saja merasakan ujung jemarinya seperti
membeku. Ia menggosok-gosokkan dan menghembusan nafas ke kedua tangannya.
Pertolongan pertama pada jemari yang kedinginan. Ia memasukkan kedua tangannya
ke dalam saku, berharap akan mendapat kehangatan yang cukup.
...
Seseorang mungkin telah bekerja
keras tadi malam, saat setiap mata masih sibuk terlelap. Berusaha untuk menyapu
semua kumpulan awan. Hingga tiba pagi ini, langit hanya berisi sebutir mentari
di atas sana. Selain itu, tak ada apapun.
Bahkan... seperti hati ini. Kosong. Yang ada hanya sebuah nama. Tergurat,
terbekas terlampau dalam.
Pertanyaan yang dilontarkan Adit
semalam menjadi awang-awang yang menemaninya selama perjalanan. Wino ingin
sekali meyakinkan bahwa dirinya baik-baik saja, tapi di lain sisi, ia tak akan
menepisnya.
Hanya ada pertanyaan yang
berkecambuk dalam dirinya. Banyak. Namun tak banyak pertanyaan itu yang menemukan
jawabannya. Bahkan, seingatnya, ia tak pernah sekalipun mendapatkan jawaban. Ia
hanya bisa memendamnya. Bagai anak kelinci yang lompat
kesana kemari dengan riang, pada pagi hari. Mendadak seperti anak anjing yang
kehilangan induknya dan hujan merampas segala kehangatan pada tubuh mungilnya
yang kurus, saat malam tiba semakin larut.
Mata Wino membulat saat celah di
antara dua pintu kereta semakin terbuka lebar. Pemandangan yang memenuhi indera
penglihatannya terlihat familiar, walaupun mungkin saja ada beberapa perubahan
yang telah dilakukan. Entah sudah berapa kali Wino menjejaki langkahnya di kota
pelabuhan ini, tetapi tak tampak sekalipun raut bosan yang tergambar di
wajahnya.
Adalah Adit yang membawanya
berkenalan dengan kota ini beberapa tahun silam. “Demen banget sih lo ke
Yokohama, emang ada apaan sih di sana?” Pertanyaan itu seringkali terlontar
dari Adit dan keluarganya. Jawaban Wino pun selalu sama. Jawaban yang tidak
akan pernah bisa memberi kepuasaan apapun dari para penanya. “Ini... kaya
jatuh cinta pada pandangan pertama,” jawabnya santai. Alhasil, tak ada lagi
keluarga yang menanyakan pertanyaan tersebut.
Bagi dirinya, sampai saat ini, sampai
kunjungannya yang kesekian kalinya, alasannya jatuh hati dengan Yokohama sama
sekali tidak bisa dijawab dengan susunan kata. Tanpa harus terlihat berlebihan,
ia hanya mampu menjelaskan melalui perasaan yang selalu menggetarkan hatinya. Suaranya
sama sekali bisu. Tak mampu menjabarkannya. Karena... terkadang cinta tak
pernah beralasan. Ia hanya harus mengalami. Bukan melihatnya dari bentuk
gabungan vokal dan konsonan. Melihatnya bukan sekedar tiga dimensi. Tetapi dari
berbagai olah rasa keinderaan.
Awal ketika ia mulai menemukan hasrat
tersebut, ia ingin membaginya bersama pelengkap dirinya saat itu. Wino berikrar
akan membawa serta sang pujaan hati ke tempat ini. Mengenalkannya pada perasaan
terdalam pada kota yang disebutnya sebagai ruang tenang tanpa tudung.
Kini janji itu bagai sebuah
penjelasan masa silam yang gagal ditafsirkan. Sebuah pengharapan yang menolak
menjelma menjadi kenyataan. Hatinya bergejolak ketika semakin dalam ia melintasi
jalur pedestrian kota. Gamang.
Berkecambuk dengan logikanya. Menuntunnya ke dalam kepingan memori yang kembali
ke permukaan. Jantungnya terasa menggelitik bagai perasaan menuruni jalanan
dengan cepat. Perutnya terasa geli. Seperti terisi penuh dengan kupu-kupu yang
berterbangan di dalamnya. Kini lagu Gwen Stefani terdengar samar. Mengalun pelan di telinganya. Menemani perasaannya yang sedang runtuh bersemi.
Since I hate you
That I used to love you
Oh, oh, oh, I
used to love you
bersambung...
sebelumnya [3]
Tags:
Short Story
3 comments
Iyo bikin ceritanya bikin penasaran ih.. Emangnya ada apa di yokohama? grrr
ReplyDeleteAdaa.....
Deleterahasia dong mbak hahahaha xD
Hahaha, kaamuuuuu~...
Delete