Cinta Tak Pernah Membenci Pertemuan [5]
...
Wangi laut merapat di udara.
Tercium tipis bau garam yang terikutserta. Aroma khas yang biasa terkuar oleh
kota pelabuhan. Desiran angin yang bersiul bersama deritan gerbong kereta,
mulai terdengar sayup. Tulisan stasiun Sakuragicho bernaung di atas kepala Wino
saat melangkah keluar. Ia menghirup nafas dalam beberapa kali sebelum memulai
langkahnya kembali. Berjalan dengan senyum yang terkembang selama
perjalanannya. Suasana ini yang membuat Wino terkesima. Suasana tenang yang
mengalir dalam kehidupan sosial masyarakat di dalamnya. Suasana yang sepertinya
sulit untuk ditemui jika berjalan di jalanan Ibukota Jakarta.
Jalanan terlihat lenggang saat
Wino melintas di atas jembatan yang berseberangan dengan Yokohama Landmark
Tower. “Kalau mau lihat Yokohama secara menyeluruh, lo harus coba naik ke
gedung itu, Win.” Jelas Adit pada Wino saat kedatangannya pertama kali.
Tangannya menunjuk ke sebuah gedung yang berbentuk menyerupai Benteng Vredeburg
di Jogja, jika dilihat dari sisi atasnya. Gedung yang sempat menyandang gelar
sebagai gedung tertinggi. Perasaan ingin tahu membuat hatinya bernyanyi,
membuat Wino langsung mengajak Adit untuk menyinggahi gedung tersebut. Dan
dalam hitungan menit, mereka sudah berdiri di ketinggian 200 meter di balik
tirai kaca yang membatasi mereka dengan sisi langit.
Beberapa burung camar terbang
rendah di atas permukaan sungai. Menciptakan garis riak yang tertinggal oleh
sentuhan air dengan sayap-sayapnya. Pantulan dari bayang-bayang gedung dan benda
sekitar tercermin di sungai. Menciptakan dimensi lain sisi kota ini dalam diam.
Kaki berbalut sepasang sepatu running berwarna dominan hitam membawa tubuh
Wino menyusuri gedung-gedung bertingkat, bersanding dalam rona modern dan era
renaissance. Diwarnai dengan jajaran tanaman musim semi yang menghiasi sisi
jalan. Badannya diterpa semilir angin di depan yang bertiup dari tenggara.
Semua pejalan mendekapkan tangannya di atas dada, merapatkan jaket atau sweater mereka masing-masing, termasuk
Wino.
Sudah ratusan langkah yang ditinggalkan Wino sejak kedatangannya dari stasiun Sakuragicho. Langkahnya masih setia menyusuri trotoar. Beberapa kali menyeberangi selasar aspal bercat hitam putih. Pepohonan tanpa dedaunan menaungi latar perjalannya. Sempat berpapasan dengan keramaian di stadium setempat. Lambat laun, keramaian mulai tertinggal di balik punggungnya. Hingga Wino berhenti di persimpangan lain. Di seberangnya berdiri gapura bertuliskan huruf yang tak mampu Wino artikan. Wangi khas negara Jepang yang sangat dikenalinya berubah secara perlahan. Berubah menjadi aroma hidangan Cina; Chinatown.
Sebuah gang kecil, diambil alih oleh ribuan pasang langkah kaki yang bergerak secara individu. Jajaran toko menjajakan beragam jenis makanan dan minuman yang menggoda selera. Memastikan para pelancong membanjiri mulutnya dengan liur jika berniat melewatinya tanpa mencicipi. Salah satu korban itu adalah Wino. Tidak terjamin ke-halal-an itu semua, membuat Wino menangguhkan keinginannya. Dengan sesekali menyeka liur yang terkadang meleleh melalui celah di antara bibirnya.
bersambung...
sebelumnya [4]
Sudah ratusan langkah yang ditinggalkan Wino sejak kedatangannya dari stasiun Sakuragicho. Langkahnya masih setia menyusuri trotoar. Beberapa kali menyeberangi selasar aspal bercat hitam putih. Pepohonan tanpa dedaunan menaungi latar perjalannya. Sempat berpapasan dengan keramaian di stadium setempat. Lambat laun, keramaian mulai tertinggal di balik punggungnya. Hingga Wino berhenti di persimpangan lain. Di seberangnya berdiri gapura bertuliskan huruf yang tak mampu Wino artikan. Wangi khas negara Jepang yang sangat dikenalinya berubah secara perlahan. Berubah menjadi aroma hidangan Cina; Chinatown.
Sebuah gang kecil, diambil alih oleh ribuan pasang langkah kaki yang bergerak secara individu. Jajaran toko menjajakan beragam jenis makanan dan minuman yang menggoda selera. Memastikan para pelancong membanjiri mulutnya dengan liur jika berniat melewatinya tanpa mencicipi. Salah satu korban itu adalah Wino. Tidak terjamin ke-halal-an itu semua, membuat Wino menangguhkan keinginannya. Dengan sesekali menyeka liur yang terkadang meleleh melalui celah di antara bibirnya.
bersambung...
sebelumnya [4]
Tags:
Short Story
2 comments
Nunggu lanjutannyaaa...
ReplyDeleteOn progress mbak, tungguin yah ^^
ReplyDelete